Agungnya Sebuah Persaksian

 Agungnya Sebuah Persaksian 

Saudaraku kaum muslimin... Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang beRahimahullahak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang- orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Āli ‘Imrān (3): 18]

 

Asbāb an-nuzūl (sebab turun) ayat tersebut, menurut Ibnu al-Jawziy Rahimahullah setidaknya ada tiga pendapat, yaitu:

1.   Riwayat Ibnu as-Sāib Rahimahullah, bahwa ada dua orang pendeta dari Syam datang menemui Nabi Salallahu Alaihi Wasalam, ketika sampai di Madinah, salah seorang dari mereka berkata:

( مَا أَشْبَهَ هَذِهِ الْمَدِيْنَةَ بِصِفَةِ مَدِيْنَةِ النَّبِيِّ الَّذِي يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ )

Alangkah miripnya kota ini dengan gambaran kota yang darinya akan mun-cul seorang nabi pada akhir zaman!”, dan manakala keduanya berjumpa dengan beliau sa, mereka berkata:

( أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟ )

“Apakah engkau Muhammad?”, be-liau menjawab:

(( نَعَمْ ))

“Ya, benar.”, mereka kembali ber-tanya:

( وَأَحْمَدُ؟ )

“Atukah Ahmad?”, beliau kembali menjawab:

(( نَعَمْ ))

“Ya, benar.”, kemudian mereka ber-tanya:

( نَسْأَلُكَ عَنْ شَهَادَةٍ، فَإِنْ أَخْبَرْتَنَا بِهَا، آمَنَّا بِكَ وَصَدَّقْنَاكَ )

“Kami ingin bertanya tentang sebuah persaksian. Apabila engkau dapat menjawabnya, niscaya kami akan beriman kepadamu dan membenarkanmu juga.”, maka beliau berkata:

(( سَلاَنِي ))

“Tanyakan saja!”, mereka berkata:

( أَخْبِرْنَا عَنْ أَعْظَمِ شَهَادَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ )

“Terangkan kepada kami tentang ke-saksian paling agung yang ada dalam ki-tabullah!”, kemudian turunlah ayat ter-sebut di atas dan pada akhirnya kedua-nya pun masuk Islam.

2.   Riwayat lain menyatakan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan ter-hadap anggapan kaum Nashrani dari Najran yang meyakini bahwa‘Isa as adalah anak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3.   Riwayat dari Sa’id bin Jubayr Rahimahullah, bahwa di sekitar Ka’bahterdapat 360 beRahimahullahala, sehingga orang ‘Arab yang masih hidup akan memiliki satu atau dua beRahimahullahala, tatkala ayat ini turun, maka seluruh beRahimahullahala tersebut sujud karenanya (Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr 1/294).

Saudaraku kaum muslimin...

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala me-minta kepada orang-orang berilmu agar memberikan syahādah (persaksian) teRahimahullahadap sesuatu yang sangat agung, yaitu tawhīd (keesaan)-Nya.

Hal ini memberikan dalil tentang keutamaan ilmu dan orang yang ber-ilmu, dikarenakan:

Pertama: karena orang-orang yang berilmu adalah yang diminta Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk bersaksi teRahimahullahadap keesaan-Nya,bukan golongan lainnya.

Kedua: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggabungkan kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian-Nya.

Ketiga: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggabungkan kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian malaikat-malaikat-Nya.

Keempat: karena ayat di atas me-ngandung rekomendasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala ten-tang kesucian dan keadilan orang-orang berilmu. Hanya orang-orang yang adil sajalah yang diminta Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memberikan persaksian.

Rasulullah sa bersabda:

(( يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ ))

“Ilmu ini (agama) dalam setiap gene-rasi akan diusung oleh orang-orang yang adil. Mereka bertugas menolak dari ilmu ini adanya distorsi dari orang-orang yang radikal (berlebih-lebihan), plagiasi (jiplakan) para pendusta, dan dari takwil orang-orang bodoh.”

Kelima: Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensifati mereka (yang diminta bersaksi) sebagai orang-orang berilmu.

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu telah diperuntukkan bagi mereka, danmereka adalah para pemilik dan pe-ngemban ilmu tersebut.

Keenam: Allah Subhanahu Wa Ta’ala meminta kepada diri-Nya (saksi teragung) untuk ber-saksi kemudian meminta di antara hamba-hamba-Nyayang terbaik untuk bersaksi pula, yaitu para malaikat dan orang-orang berilmu.

Hal ini adalah bukti kuat yang me-nunjukkan keutamaan dan kemuliaanorang-orang berilmu.

Kedelapan: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kesaksian orang-orang berilmu seba-gai hujjah atas para pengingkar. Hujjah dari orang-orang berilmu setara dengan dalil-dalil, ayat-ayat dan bukti-bukti dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menunjukkan tentang keesaan-Nya.

Kesembilan: Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyendiri-kan tindakan yangmengandung ke-saksian dari-Nya, para malaikat-Nya dan orang-orang berilmu,dan Dia tidak menggabungkan kesaksian mereka atas kesaksian-Nya dengan tindakan lain.

Hal ini menunjukkan eratnya hu-bungan antara kesaksian mereka de-ngan kesaksian-Nya. Seakan-akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersaksi atas keesaan diri-Nya dengan lisan-lisan mereka dan membuat mereka mampu melontarkan kesaksian tersebut.

Kesepuluh: Allah Subhanahu Wa Ta’ala membuat orang-orang berilmu menunaikan hak-Nya atas hamba-hamba-Nya dengan kesak-sian tersebut.

Apabila mereka telah menunaikan hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut, otomatis mereka telah menunaikan hak yang dipersak-sikan-Nya. Dengan demikian, tetap tegaklah hak yang dipersaksikan Allah tersebut.

Oleh karena itu, semua ma-nusia tanpa terkecuali wajib mengakui Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena itu adalah puncak kebahagiaan mereka di dunia dan di akherat. Siapa saja yang mendapat pe-tunjuk dan mengakui hak Allah Subhanahu Wa Ta’alat karena kesaksian mereka, maka me-reka akan mendapat pahala sebesar pahala orang-orang yang mengikuti mereka.

Itulah karunia besar yang bobot nilainya tidak diketahui oleh siapa pun juga, kecuali oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu pula halnya dengan orang yang ber-saksi dengan kesaksian tersebut karena kesaksian mereka, maka mereka men-dapat pahala sebesar pahala orang-orang yang bersaksi sebagaimana ke-saksian mereka.

Saudaraku kaum muslimin...

Ilmu adalah kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan adalah kema-tian dan kegelapan. Kejahatan dan keburukan penyebabnya tiada lain ada-lah karena tidak adanya kehidupan dan cahaya. Dan semua kebaikan pe-nyebabnya adalah cahaya dan kehi-dupan.

Cahayalah yang akan membongkar hakikat segala sesuatu dan menjelaskan derajat-derajatnya. Adapun kehidupan, maka ia adalahpembimbing menuju sifat-sifat kesempurnaanserta yang menghantarkan perkataan dan perbu-atan kepada sasarannya yang tepat.

Hal apa saja yang dilandasi kehi-dupan, maka semuanya melahirkankebaikanRasa malu misalnya, maka penyebabnya adalah karena adanyakesempurnaan kehidupan hati dan pengetahuannya teRahimahullahadap hakikat ke-burukan. Kebalikannya, tidak memi-liki rasa malu adalah karena kematian hati dan tidak adanya kebencian ter-hadap keburukan.

Sifat malu ibarat hujan, dengannya segala sesuatu menjadi hidup.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat ber-jalan di tengah-tengah masyarakat ma-nusia, serupa dengan orang yang kea-daannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari pa-danya?” [QS. al-An’ām (6): 122]

Saudaraku kaum muslimin...

Hati yang tadinya mati karena ke-bodohan, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghi-dupkannya dengan ilmu dan menja-dikan keimanannya sebagai cahaya, hingga dengannya seseorang berjalan menyusuri kehidupan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman (ke-pada para rasul), bertaqwalah kepadaAllah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rah-mat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahya yang de-ngan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 (Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikit-pun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasannya karunia itu adalah ditangan Allah.Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [QS. al-Hadīd (57): 28-29]

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan merekadari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syetanyang mengeluarkan merekadari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.” [QS. al-Baqarah (2): 257]

“Dan demikianlah Kami wahyukan ke-padamu wahyu (al-Qur’an) denganperintah Kami. Sebelumnya kamu tidak-lah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menja-dikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. asy-Syūrā (42): 52]

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa ilmu adalah ruh kehidupan dan cahaya yang mene-rangi.

Di dalamnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatukan dua hal yang sangat prinsipil, yaitu kehidupan dan cahaya.

Saudaraku kaum muslimin...

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya untuk memintatambahan ilmu kepa-da-Nya. Dan hal ini sudah sangat men-cukupi bagi kita untuk mengetahui kemuliaan ilmu, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidakpernah memerintahkan Nabi-Nya un-tuk meminta tambahan sesuatukepada-Nya, kecuali meminta tambahan ilmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebe-lum disempurnakanmewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu penge-tahuan.” [QS. Thāhā (20): 1

Saudaraku kaum muslimin...

Demikianlah sepenggal kisah tentang agungnya sebuah persaksian, se-kaligus menggambarkan kepada kita betapa agung dan mulianya ilmu bagikehidupan kita, baik ketika di dunia atau terlebih lagi bagi kehidupan di akhirat. Oleh karena itu, janganlah kita ragu untuk senantiasa berdoa “Rabbi Zidni ilman”.

RAMBU - RAMBU JALAN

 RAMBU-RAMBU JALAN

 

Ukhti Al Muslimah !

 

Untukmu yang masih dibalut keraguan untuk

memakai jilbab. Untukmu untaian ayat ilahi ini:

 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan

tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila

Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu

ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)

tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai

Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat,

sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).

 

Untukmu yang belum sadar, yang berjalan tanpa

petunjuk, untukmu untaian sabda Rasulullah saw:

 

 “Janganlah seorang dari kalian menjadi orang yang

tak berpendirian, yang berkata: aku bersama orang

banyak, bila mereka baik, aku baik, bila mereka

berbuat jahat, akupun berbuat jahat, akan tetapi

mantapkan dirimu, bila mereka baik, maka berbuat

baiklah anda, dan jika mereka jahat, maka jauhilah

kejahatannya”.

 

Buatmu yang selalu berkata:

Bilamana aku

memakai jilbab di negeri kafir, manusia akan melihat

dan memperhatikanku, namun bila aku melepaskan

jilbabku, aku seperti mereka, tak ada yang

memperhatikanku.

 

Wahai puteriku yang cerdik dan pandai:

sesungguhnya melawan arus kejahatan, konsisten,

komitmen, dan konsekwen dalam kebenaran terutama

di negeri kafir adalah iman yang diserukan Allah,

tidak boleh seorangpun melakukan ijtihad menentukan

hukum padahal telah ada nash Al Qur’an dan Al

Hadits.

 

 

SEJENAK

Ukhti Al Muslimah…

 

Wahai wanita yang tunduk kepada kekafiran,

mereka berkata:

"engkau adalah wanita terpelajar. Diantara kami ada dokter wanita, ada sastrawati, ada

wartawati, ada dosen wanita yang mengajar di negeri

kalian. Islam tidak pernah melarang sedikitpun hal itu.

Tidak ada perbedaan lagi antara laki-laki dan

perempuan. Sukakah engkau kepada kami? jawaban

kami hanya menyitir firman Allah:

 

“Orang-orang yahudi dan nashrani tak akan pernah

rela padamu sampai engkau mengikuti agama mereka.

Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah adalah

petunjuk yang sebenarnya, dan sesungguhnya jika

kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan

datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi

Pelindung dan Penolong bagimu” (QS. Al Baqarah: 120).

 

Mereka berkata:

 “Cukup bagi saya ke-Islamanmu sebatas pada ibadah ritual semata. Adapun ilmu, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan duniamu, wajiblah engkau mengikuti cara kami”.

Sungguh benar sabda Rasulullah saw:

 

"Kamu akan mengikuti tradisi orang-orang

sebelummu, sejengkal demi jengkal, sehasta demi

hasta, hingga andaikan mereka memasuki lubang

biawak, kamu akan ikut masuk kedalamnya, kami

berkata: apakah mereka kaum Yahudi dan Nashrani?

jawab Rasulullah r siapa lagi kalau bukan mereka”

( HR. Muslim ).

 

Ukhti Al Muslimah!

Engkau seharusnya memperhatikan pakaianmu dan

perbuatanmu serta wajib mengikuti kepribadian Islam

sebagaimana apa yang engkau dengar, lihat dan baca.

Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak

kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang

penyair:

 

 “Wahai dikau yang selalu mengurusi badanmu.

Betapa banyak usaha yang telah engkau lakukan.

kepada Ukhti Muslimah 20

Apakah engkau mencari keuntungan dari sesuatu

yang jelas merugikan.

Perhatikan jiwamu, sempurnakan keutamaannya.

Sebab dikau disebut manusia dengan jiwa, bukan

karena tubuh jasadmu.

 

Ukhti Al Muslimah!

Jadikan Khadijah radhiyallahu anha suri tauladan

dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan

jiwa. Jadikan Aisyah radhiyallahu anha tauladanmu

dalam ilmu pengetahuan. Jadikan keluarga Yasir

suri tauladanmu dalam kesabaran dan berpegang

teguh kepada agama Allah. Wahai ibu generasi mendatang, perhatikan perkataan seorang penyair:

 

 “Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan

Anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.

Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram.

ia akan berdaun rindang.

Ibu adalah ustadzah pertama, pengaruhnya sangat

besar sepanjang masa.

 

Ukhti Al Muslimah !

Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak

menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta,

apakah mereka masih memajang fotomu, di sampulsampul

majalah, buku dan semisalnya, walaupun

kamu orang yang terpelajar? Masihkah mereka

memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu

pesawat, dengan dalih penghargaan terhadap wanita?

Masihkah engkau temui orang yang memperjuangkan

sempitnya ruang lingkup belajarmu?

Sesungguhnya mereka hanya ingin menikmati

kecantikan wajah dan kemolekan tubuh serta

merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu maka

merekapun pasti meninggalkanmu, seakan-akan

engkau adalah sebuah barang yang sudah habis masa

berlakunya.

 

PERINGATAN

Rasulullah saw bersabda:

 

 “Aku tidak meninggalkan fitnah sepeninggalku yang

lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita” (HR.

Bukhari Muslim).

 

Musuh-musuh Islam telah mengetahui, bahwa

kerusakan dan kerendahan moral wanita berarti

pengrusakan terhadap masyarakat secara universal

dan integral. Seorang tokoh aliran (free masonry) berkata:

“secangkir minuman keras, seorang biduanita dapat

menghancurkan ummat Muhammad melebihi

kekuatan seribu tank baja, peluru kendali, dan senjata

kimia yang canggih. Oleh karena itu buatlah mereka

tenggelam dalam cinta materi dan syahwat”.

Temannya yang lain berkata:

“Kita harus mempergunakan wanita sebab setiap

kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah

mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita telah

berhasil memporak-porandakan serdadu penolong

agama Islam”.

 

ANCAMAN

Kepada setiap orang yang berusaha menjadikan para

artis dan biduanita sebagai tauladan idola wanitawanita

muslimah, kepada mereka kami persembahkan

ancaman Allah ini:

 

“Sesungguhnya orang-orang yang senang, agar

tersiar perbuatan keji dikalangan orang-orang yang

beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di

akhirat, dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak

mengetahui” (QS. An Nur: 19).

 

Ancaman ini terhadap orang yang senang, lalu bagaimana terhadap orang yang melakukan ! tentu lebih dahsyat.

 

Coretan Hati ....

 Sahabat adalah dorongan ketika engkau hampir berhenti,

petunjuk jalan ketika engkau tersesat,

membiaskan senyuman sabar ketika engkau berduka,

memapahmu saat engkau hampir tergelincir dan mengalungkan butir-butir mutiara doa pada dadamu...

Ikhwan and akhwat...moga hati kita dipertautkan karena-Nya 


Asy-Syaih Shalih Fauzan hafizhahullah berkta:

"Bila seorang muslim tidak bersenjatakan aqidah yang benar yang bersumber dari Al-Qur�an dan As-Sunnah serta apa yang telah dijalani oleh salaf umat ini, niscaya dia pantas untuk terombang-ambing dalam embusan arus angin penyesatan. Hal ini menuntut agar kita memberikan perhatian yang besar terhadap pengajaran aqidah yang benar kepada anak-anak kaum muslimin yang disadur dari sumbernya yang asli.

"(Muqaddimah beliau dalam Kitabut Tauhid)

 

 


 

Posted in Do’a. 0 Comment »

DoA – Que

 

DoA – Que

Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati-hati kami agar selalu dalam keadaan istiqamah di atas dien Mu yang lurus, dan kami memohon kepadaMu untuk mengakhiri kehidupan di dunia ini dengan kesudahan yang baik

Posted in Do’a. 0 Comment »

SIAPA YANG MENYURUHMU MEMAKAI JILBAB

 UKHTI AL MUSLIMAH

[SIAPA YANG MENYURUHMU MEMAKAI JILBAB]

 

Jangan terkejut sebelum engkau baca risalah ini.

 

· Seorang mahasiswi meminta kepada salah

seorang teman puterinya agar menemaninya

menghadap dosen laki-laki dalam mempertahankan

disertasinya untuk meraih gelar magister (MA).

temannya berkata: "tak tahukah engkau bahwa kita ini

hidup di abad 20?

 

· Seorang dokter wanita di salah satu rumah sakit,

ketika ia memakai pakaian dokter hilanglah malunya.

Wajah dan rambutnya serta pakaiannya terbuka.

Seakan-akan menanggalkan agama dan malu adalah

hal yang wajib bagi tugas kedokteran.

 

· Saya pernah berkunjung ke salah satu kerabat

yang saya kenal selalu menjaga kehormatan dan

hijab/jilbab. Tiba –tiba saya di kejutkan oleh

masuknya sopir pribadinya ke tempat pertemuan.

Seakan-akan ia salah satu anggota keluarga yang tidak

perlu menutup aurat darinya.

 

Ukhti..!! pernahkah engkau menduga, bahwa mereka

wanita muslimah sadar, mengapa mereka berjilbab??

Sesungguhnya realita menunjukkan bahwa mereka

pada umumnya memandang jilbab hanya sebatas adatistiadat

yang mereka warisi dari orang tua mereka dan

sebagai bakti kepadanya yang telah menyuruhnya.

Oleh sebab itu sebagai warisan suci,

maka wajib di jaga dan di lestarikan.

Pernahkah ia bertanya, mengapa ia memakai jilbab?

Dan siapa yang menyuruhnya? Bukankah itu perintah

Allah ..!!

 

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anakanakmu,

dan wanita-wanita kaum muslim agar mereka

mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang

demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,

karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah

Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).

 

Tidakkah ia megetahui bahwa ia mentaati perintah

penciptanya yang memberi rizki yang menciptakan

langit dan bumi dan mengetahui mana yang tidak

pantas untuk makhluk-Nya.

Firman Allah:

 

 “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di

bumi”. (QS. Al Baqarah: 284).

Allah yang menciptakanmu:

 

“Demikianlah, itulah Allah tuhanmu, tidak ada tuhan

yang patut di sembah selain Dia. Pencipta segala

sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah

Pemelihara segala sesuatu” (QS. Al Anam: 102).

 

Yang memberimu nikmat:

 

“Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari

Allah jualah”. (QS. An Nahl: 53).

 

Yang mematikanmu:

 

“Dan datanglah sakaratul maut (kematian) sebanarbenarnya.

Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.”

( QS. Qaaf: 19).

 

Yang berfirman:

 

“Pada hari (ketika) Kami berkata kepada neraka

Jahannam: apakah kamu sudah penuh ? dia

menjawab: masih adakah tambahan? Dan

didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang

bertakwa pada tempat-tempat yang tidak jauh (dari

mereka). (QS. Qaaf: 30-31).

 

Yang berfirman:

 

“Hari (ketika) kami mengumpulkan orang-orang yang

takwa kepada Dzat yang Maha Pemurah sebagai

perutusan (yang terhormat), dan kami menggiring orangorang

yang durhaka ke neraka Jahannam dalam

keadaan dahaga” (QS. Maryam: 85-86).

 

Yang mengadili pada hari yang menakutkan:

 

“Pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu,

lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari

anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala

wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam

keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak

mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” ( QS;

Al Hajj :2).

 

Ukhti Al Muslimah !

 

Tidakkah engkau baca firman Allah:

 

 “Katakanlah kepada wanita yang beriman,

hendaklah mereka menahan pandangannya dan

menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan

perhiasannya kecuali (yang biasa) nampak darinya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke

dada mereka” (QS. An Nur: 31).

 

Yaitu tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya

kepada orang-orang asing (bukan muhrim) kecuali

sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan berupa

pakaian yang tidak menyolok, dan hendaklah

menjulurkan penutup kepalanya (jilbab) sampai ke

dadanya sehingga tertutup. Imam Bukhari

meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, ia

berkata:

 

 “Semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama

yang berhijrah (muhaajiraat), yaitu ketika Allah

menurunkan firman-Nya:

 

“Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke

dada mereka” (QS. An Nur: 31).

 (Mereka langsung merobek gordeng mereka untuk di

jadikan jilbab).

 

Ukhti Al Muslimah !

 

Janganlah berkata: “Kita bukan mereka” bagaimana

mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai?

jangan engkau heran! seorang penyair berkata:

 

Berusahalah meniru orang-orang yang mulia walau

tidak sama persis seperti mereka.

Sebab meniru orang yang mulia itu merupakan

keberuntungan.

 

Ukhti Al Muslimah!

 

Tidakkah engkau baca firman Allah Y tentang isteriisteri

Nabi :

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada

mereka (isteri-isteri Nabi ) maka mintalah dari

belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi

hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53).

 

Lebih suci dari hati siapa, wahai ukhti ? lebih suci

dari hati isteri-isteri Nabi , (ummahatul mu’minin).

Lebih suci bagi hati para sahabat Nabi, umat yang

terbaik setelah Nabi ?

 

Bagaimana dengan hati kita pada masa sekarang?

Apakah Dzat Yang Menciptakanmu, Yang mengetahui

cara yang terbaik untuk mensucikan hati, sama

dengan orang yang tidak mengetahui hal itu?

 

Ukhti Al Muslimah …!

 

Allah berfirman:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anakanak

perempuan dan istri-istri orang beriman: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).

 

Ibnu Abbas t berkata: “Allah memerintahkan

isteri-isteri orang beriman, apabila keluar dari rumah

untuk suatu keperluan, hendaklah menutup wajahnya

dari atas kepala dengan jilbabnya”.

 

Allah memerintahkan isteri-isteri orang yang

beriman melakukan hal tersebut di atas, agar mereka

dikenal dengan tertutup rapi, bersih, dan suci. Dengan

demikian ia tidak akan di ganggu orang- orang yang

jahat.

Coba engkau perhatikan: siapa yang lebih sering

digoda dan diganggu lelaki di jalan? tentu mereka yang

suka bersolek ala jahiliyah.

Perhatikan firman Allah di bawah ini:

 “Dan perempuan-perempuan yang telah berhenti (dari

haid dan mengandung) yang tidak ingin kawin lagi,

tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian

mereka tanpa (bermaksud) menampakkan perhiasan.

Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An

Nur: 60 ).

 

Allah memberitahukan bahwa berjilbabnya

perempuan tua yang tidak ingin menikah lagi serta

tidak menampakkan perhiasan itu lebih utama,

walaupun diperbolehkan bagi mereka untuk buka

wajah dan tangan dengan syarat berlaku sopan

(Islami).

Al Qur’an telah mewajibkan wanita muslimah untuk

memakai jilbab (hijab) dan mengharamkan bersolek

ala jahiliyah (tabarruj).

 

Ukhti Al Muslimah!

 

Dengarlah kata ibundamu, Ummul Mu’minin ketika

bertanya kepada Nabi :

 “Apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung baju

mereka? Nabi r bersabda: Hendaklah ia turunkan satu

jengkal (dari mata kaki) Ummul Mu’minin berkata:

“kalau begitu akan tersingkap telapak kaki kami, wahai

Rasulullah” Nabi bersabda: “turunkan satu hasta dan

jangan dilebihkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Subhanallah! Ummahatul Mu’minin meminta agar

diperpanjang bajunya, sedang wanita-wanita kita

malah banyak memendekkan (menaikkan ke lutut

bahkan ada yang ada di atasnya) dan mereka tak

peduli.

 “Nabi dan kitab suci kita melarang telanjang, tidak

menutup aurat, maka tanyakan kepada hadits dan

ayat suci Al Qur’an”

 

Adapun hijab artinya adalah menutup badan, dan

sebagai ciri dari sekumpulan peraturan sosial yang

berhubungan dengan keadaan wanita dalam undangundang

Islam, yang telah ditetapkan Allah untuk

menjadi benteng yang kuat, yang menjaga kehormatan,

kemuliaan, dan keluhuran wanita. Pakaian yang

memelihara masyarakat dari fitnah, dan dalam ruang

lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk

membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat,

yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan

Islam dan mengokohkannya di muka bumi ini.

KEPADA UKHTI MUSLIMAH

Ukhti Al Muslimah

Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya berusaha

untuk menjauhkan wanita muslimah dari Agama Islam

yang haq dan lurus ini. Di setiap tempat dan

kesempatan mereka selalu melontarkan tuduhantuduhan

keji yang ditujukan kepada wanita-wanita

mu’minah yang suci, mereka mengatakan bahwa:

“Islam adalah penjara bagi wanita” karena wanita

dalam Islam wajib di rumah, tidak di izinkan keluar

kecuali ada hajat".

“Menetapnya wanita di rumah, melemahkan

ekonomi suatu negara”.

“Poligami adalah perbuatan hewan”.

“Perceraian adalah suatu kedzaliman”.

“Wanita-wanita muslimah itu sakit, penuh dengan

kadas dan panu, oleh karena itu mereka memakai

hijab untuk menutupi aibnya”.

Ukhti Al Muslimah …!

 “Jangan kau ikuti langkah-langkah syetan” (QS. An

Nur: 21).

 

Ukhti Al Muslimah …!

Jangan engkau dengar kata-kata mereka, sebab

mereka adalah penganjur yang berdiri di tepi neraka

Jahannam dan mengajak serta menyeret ke dalam api

neraka Jahannam.

“Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”

(QS. Al Kahfi: 5)

 

Ukhti Al Muslimah …!

Tahukah engkau apa yang mereka inginkan? mereka

hanya menginginkan satu perkara. Menghancurkan

agama Islam dan merusak generasi Islam dan

menyebarkan kekejian di tengah masyarakat beriman.

Mereka menghendaki agar wanita-wanita muslimah

yang suci keluar dari rumahnya, dari bentengnya.

Mereka menghendaki agar engkau menjadi barang

murahan, sebagai pemuas syahwat.

Mereka menipumu agar engkau keluar dari surga

sebagaimana iblis mengeluarkan bapak kita Adam

darinya. Iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari

surga dalam keadaan telanjang, tanpa pakaian, yang

menutup aurat mereka.

Para pengumbar kejahatan pun meniru gaya dan

cara yang sama, jangan kamu hiraukan mereka!

Penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya, pasti di situ

ada kebahagiaan sejati.

 

Allah  hanya menghendaki darimu kesucian,

kemuliaan dan keluhuran.

Firman Allah :

“Akan tetapi Allah hendak mensucikan dan

menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu”. (QS. Al

Maidah: 6).

Firman Allah :

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang

taubat dan mencintai orang-orang yang melakukan

kesucian” (QS. Al Baqarah: 222).

Semoga Allah  selalu menunjuki kita ke jalan yang

lurus. Amiin.

 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah  Rabb

sekalian alam, shalawat serta salam semoga tetap

tercurah kepada Nabi yang mulia Muhammad saw,

keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang

mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.

Wahai Puteriku...

 Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima

puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku
telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak
orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu
dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan
pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari
orang lain sebelumnya.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral,
menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena
tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa.
Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin
bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan
pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum
tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu,
putriku! Kuncinya berada di tanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam
lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan
berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki
tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau
katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah
mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya
kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis
kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang
dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak
dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang
sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan
pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu
tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa
yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!
Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian
engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan
penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari
mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang
menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis,
keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang
dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu
selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan
menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat
perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu
 
lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan,
maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak
nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki
itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu
untuk melamar.
Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita,
bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan
prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah
menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia
lelaki hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih
wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik
karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya
adalah seorang wanita amoral.
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian
kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanitawanita
asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri,
akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak
mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga
sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini?
Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki
untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa
wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi
korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada
Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan
akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu
penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan
kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadisgadis
remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda
mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah
keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia
ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah
menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat
itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan menaruh
simpati?
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati
dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya,
saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya.
Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi
bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?
Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah
akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian
tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk
menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila
kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga
wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka
tidak menempuh jalan yang salah.
Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis
mengembalikan wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah
yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi
setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu
sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan
yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan
walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang
yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya
ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas
pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak
berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri
tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami
dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di
jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah,
berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia
lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya
sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita,
pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah
ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan
seks dari dalam jiwa mereka.
Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan
bebas atas kemajuan adalah pembohong bila dilihat dari dua sebab :
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan
pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat
angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang
mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang,
oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan
yang sama sekali tidak ada artinya, seperti kemajuan, modernisasi,
kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong
tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada
Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat
memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari
Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa,
pornografi, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan
telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka
adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah
Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,,
kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat
mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido
Wahai Putriku
seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah
mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak
beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta.
Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat
bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin
mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan
mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk
memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara
kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan
beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa
yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis,
jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan
yang alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan
kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri
dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan
kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya
adalah seorang ayah dari empat orang gadis. Bila saya membela
kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian
bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain
memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan
bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat
ditemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau
menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah
kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan
kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun
lalu pergi menelantarkannya, persis seperti anjing meninggalkan
bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini
janganlah engkau percayai. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan
di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau
perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.
(wallahul musta’an)

Hijab

Nasihat Bagi Muslimah

 

Teriakan bersahutan muncul dari seorang wanita usia muda....disusul kemudian lengkingan lantang suara remaja putri yang berteriak dengan suara yang cukup keras... Semuanya menuntut dengan suara yang satu dan permintaan yang sama: "Dimanakah kebahagiaan dan kesenangan itu? Dimanakah ketenangan jiwa dan ketetapan hati itu?"

 

 Kami terbawa oleh kesedihan dan tertimpa gundah gulana...Tidur tak nyenyak disebabkan oleh banyaknya dosa yang menyelimuti langit-langit hati kami. Kami dikelilingi oleh syahwat yang membara, dan layar-layar TV yang membangkitkan rangsangan seks kami ... Sementara setitik iman masih tersisa dalam hati kami memanggil kalian ...Tolonglah Kami !! 

Ukhti Muslimah!!

 

Kita hidup pada zaman dimana sarana informasi beraneka ragam banyaknya. Duniapun menyuarakan peradaban materi yang memenuhi tempat-tempat hiburan dan kesenangan ... menjauhkan kebahagiaan dan mendekatkan kesengsaraan. 

Di tengah-tengah lautan ganas dengan ombak yang menggulung itu, seorang muslim merasa takut fitnah menimpa dirinya disebabkan oleh tersebarnya �Syubhat�(hal hal yang samar) dan banyaknya "Syahwat" hawa nafsu. Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam bersabda: "Sesungguhnya di hadapan kalian akan banyak fitnah, bagaikan malam gelap gulita, seseorang menjadi mu�min di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, menjadi mu�min di sore hari dan menjadi kafir di pagi hari" (HR. Abu Daud)

 

Karena keinginan yang tinggi terhadap surga yang seluas langit dan bumi dan karena ketakutan tergelincir dalam kubang kehancuran..., maka teguklah air sungai yang jernih dan memancarkan cahaya dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Salallahu alaihi Wasalam, yang hal itu akan menghilangkan kebengisan, melepaskan cengkraman syaitan dan merobek tirai yang dipercantik oleh maksiat. Rahmat Allah azza wa jalla akan menggapaimu untuk menyelamatkanmu dari siksaan yang pedih dan menjagamu dari kejatuhan ke dalam salah satu pintu diantara pintu-pintu kehancuran dan kebinasaan. 

Ukhti muslimah ...

 

Diantara bahaya terbesar yang mengancam seorang wanita muslimah adalah pengaruh nafsu seks dan terbukanya pintu syahwat di hadapan mereka. Disebabkan oleh awal-awal yang dianggap remeh, tetapi pada akhirnya bisa menggelincirkan seseorang ke dalam perbuatan zina yang diharamkan. 

Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Saya tidak tahu adanya dosa besar setelah bunuh diri melebihi zina"

 

Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya telah mengharamkan zina karena kejinya perbuatan ini dan jeleknya sarana pengantarnya. Allah azza wa jalla melarang mendekati sarana dan penyebab zina karena itu adalah langkah awal sebelum terperosok ke dalamnya. Allah ta�ala berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk" (Al-Isra�:32).

 

Perbuatan zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, dan termasuk perbuatan jijik yang membinasakan, dan kejahatan yang mematikan. Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam bersabda: "Tidaklah suatu dosa setelah syirik yang lebih besar disisi Allah dari setetes air mani yang diletakkan seseorang lelaki pada rahim yang tidak dihalalkan baginya".

Dalam hadits mutafaqun �alahi: "Tidaklah seseorang pezina itu berzina, sementara dia seorang yang beriman (dengan keimanan yang sempurna)".

 

Keharaman dipertegas lagi oleh Allah azza wa jalla dalam firman-Nya: "Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Furqan:68-70).

 

Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menggandengkan perbuatan zina dengan syirik dan membunuh jiwa, serta menjadikan hukuman semua itu berupa kekekalan di dalam adzab yang berlipat-lipat, selama hamba itu belum membuang penyebab adzab itu, yaitu taubat, iman dan amal shaleh.

 

Allah azza wa jalla mensyaratkan keberuntungan dan keselamatan seorang hamba dengan menjaga kemaluan agar tidak tergelincir pada perbuatan zina. Dan tidak ada jalan menuju kepada keselamatan kecuali dengan meninggalkannya. Allah azza wa jalla berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu� dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela." (Al-Mu�minun:1-6) 

Ukhti muslimah !!

 

Zina itu kehinanan yang akan menghancurkan bangunan yang megah, menundukkan kepala yang berwibawa, menghitamkan wajah yang putih dan membisukan lisan yang tajam. Dan itu adalah kehinaan yang paling berpeluang menanggalkan baju kehormatan, bagaimanapun indahnya baju kehormatan itu. Dan juga merupakan kotoran hitam yang bila menimpa suatu keluarga, maka akan menutupi lembaran-lembaran kehidupan sebelumnya yang putih, dan pandangan matapun tidak memandang mereka kecuali sebagai sesuatu yang hitam dan jelek. 

Hukuman Zina


Allah ta�ala mengkhususkan perbuatan zina dengan tiga hukuman:

 

  1. Dibunuh dengan bentuk pembunuhan yang jelek dan siksaan yang pedih.
  2. Allah melarang hamba-hamba-Nya merasa kasihan dan sayang kepada pelaku zina
  3. Allah memerintahkan agar hukuman tersebut disaksikan oleh kaum mu�minin, agar lebih tepat sasaran dan sampai kepada hikmah ditegakkannya hukuman itu.

 

Adapun hukumannya di dunia, adalah dengan menegakkan hukuman bagi pelaku zina laki-laki maupun perempuan yang sudah menikah, berupa rajam dengan lemparan batu hingga meninggal, agar seluruh anggota tubuhnya merasakan siksaan itu sebagai hukuman bagi keduanya (pelaku zina). Keduanya dilempar dengan batu sebagai gambaran bahwa mereka telah menghancurkan suatu rumah tangga, maka keduanya dirajam dengan batu-batu dari bangunan yang telah mereka runtuhkan.

 

Bila keduanya belum berkeluarga, maka mereka dicambuk sebanyak 100 kali dengan cambukan yang paling keras dan dibuang dari negeri asalnya selama satu tahun.

 

Diantara hukuman zina adalah seperti apa yang disabdakan Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam: "Pintu-pintu surga akan dibuka pada pertengahan malam, lalu ada yang menyeru: "Adakah orang yang memohon lalu permohonannya dikabulkan? Adakah orang yang meminta lalu permintaannya dipenuhi? Adakah orang yang tertimpa sesuatu yang jelek lalu dibebaskan darinya? Maka tidak ada seorang muslimpun yang memohon dengan suatu permohonan kecuali dikabulkan oleh Allah, kecuali wanita pezina yang menjual kehormatannya" (HR.Ahmad dan Tabarani dengan sanad hasan)

 

Dan diantara akibat tersebarnya perbuatan zina yang keji ini adalah timbulnya berbagai macam penyakit, sebagaimana disinyalir dalam hadits:"Tidaklah nampak suatu perbuatan fahisah (zina) pada suatu kaum hingga mereka terang-terangan melakukannya, kecuali mereka akan ditimpa penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu sebelum mereka" (HR.Ibnu Majah).

 

Dan hal itu dapat disaksikan sekarang ini pada umat yang membiarkan dan membolehkan perbuatan kotor ini. 

Abdullah bin Mas�ud berkata: "Tidaklah nampak suatu riba dan zina pada suatu negeri, kecuali Allah akan menghancurkan mereka"

 

Dan diantara akibat perbuatan zina ini adalah seperti apa yang disabdakan Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam dalam hadits Ru�yah: "Maka kamipun menuju ke suatu lobang seperti tungku yang atasnya sempit dan bawahnya luas, lalu dinyalakan api. Bila mendekat maka mereka akan terangkat hingga hampir saja mereka terlempar keluar, dan bila apinya redup maka mereka kembali turun. Di dalamnya terdapat golongan laki-laki dan perempuan yang telanjang, maka saya bertanya: "Siapa mereka?" Kedua (malaikat) itu menjawab: "Mereka itu adalah tukang zina laki-laki dan perempuan." Dan di dalam hadits juga terdapat: "Sesungguhnya seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, maka bagi keduanya di dalam kubur akan disiksa setengah siksaan umat ini."

Diantara hukuman zina adalah pelakunya mengumpulkan segala jenis kejelekan seperti: kekurangan agama, tidak bersifat wara�(usaha menghindari dosa), tidak bersifat sopan santun, serta tidak mempunyai "ghirah" (rasa cemburu)

Jadi, kita tidak akan menemukan seorang pezina yang memiliki wara�, menepati janji, kejujuran dalam perkataan, menjaga ikatan persahabatan dan tidak memiliki "ghirah" yang penuh terhadap keluarganya. 

Diantara akibat zina adalah wajah yang hitam dan kelam, hati yang gelap karena cahayanya yang hilang, jiwa yang penuh kesedihan, kegundahan, dan jauh dari ketenangan, umur yang pendek, berkah yang dicabut dan kefakiran yang akan menimpanya. Dalam salah satu atsar disebutkan: "Sesungguhnya Allah membinasakan para taghut dan memfakirkan para pelaku zina" 

Diantara akibat lain dari zina adalah pelakunya tidak lagi menyandang nama baik sebagai orang mulia, orang yang baik-baik dan orang yang adil, bahkan sebaliknya akan menyandang nama jelek sebagai orang yang fasik, pezina dan sebagai pengkhianat, keseraman yang meliputi wajahnya, kesempitan dan penyakit hati yang ia derita. Dan diantara akibat zina yang paling besar adalah "Suul Khatimah"(Akhir hidup yang jelek). Ibnul Qayyim berkata: "Bila anda melihat keadaan sebagian besar orang yang sakaratul maut, maka anda akan melihat adanya halangan antara dia dan husnul khatimah, sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan jelek yang pernah mereka lakukan" 

Ukhi Muslimah !!

 

Hati-hatilah! Janganlah memberanikan diri untuk melakukan maksiat yang kecil, terlebih lagi yang besar. Wanita-wanita Arab jahiliyah dulu sangat membenci zina dan tidak ridha menimpa orang-orang merdeka (bukan budak). Ketika Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam membaiat mereka untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri dan berzina, Hindun binti �Utbah bertanya dengan penuh keheranan: "Apakah ada seorang wanita merdeka yang berzina wahai Rasulullah?"


Dalam salah satu peribahasa Arab mengatakan: "Seorang wanita merdeka meninggal dan tidak makan dari usaha menjual diri" 

Ukhti Muslimah !! Ingatlah! Bahwa Allah melihatmu, maka janganlah melanggar perintah-Nya dan terperosok ke dalam apa yang Ia murkai. 

Jalan Keselamatan


Ukhti Muslimah !!


Semoga Allah menjagamu dan menghiasimu dengan taqwa!. Laluilah jalan keselamatan! Bangkitlah dari tidurmu! Jauhilah apa yang dapat menggiringmu kepada kehancuran dan membawamu kepada kahinaan. Diantara jalan keselamatan adalah sebagai berikut: 

1.   Tidak berdua-duaan dengan laki-laki lain yang bukan muhrim, selamanya..., baik di rumah, di mobil, di toko, di peSalallahu alaihi Wasalamat dan di tempat lainnya. Jadilah satu umat yang taat kepada Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya. Maka janganlah dengan mudah melanggar perintah keduanya. Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiganya adalah syaitan" 

2.   Tidak sering keluar ke pasar sebatas kemampuan dan beribadah kepada Allah dengan tetap tinggal dirumah, dengan mengikuti perintah Allah azza wa jalla: "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian"(Al-Ahzab:33)


Abdullah bin Mas�ud berkata: "Tidak ada taqarub seorang wanita kepada Allah melebihi tinggalnya di rumah." Dan ketika keluar, hendaklah bersama muhrimmu atau wanita yang dapat dipercaya dari keluargamu. Dan janganlah merendahkan suara dan berlemah lembut dalam bertutur kata kepada penjual. Tidak apa anda rugi beberapa rupiah dari pada kerugian menimpa agamamu, na�udzu billahi min dzalik 

3.   Hindarilah "Tabarruj" (berhias diri) dan "Sufur" (tidak menutup aurat) ketika keluar rumah, karena itu menyebabkan fitnah dan menarik perhatian. Rasulullah bersabda: "Ada 2 golongan penghuni neraka -dan disebutkan salah satu diantaranya- wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berjalan miring berlenggak-lenggok." Dan pakaian yang paling dianjurkan adalah �abaa yang sederhana (pakaian berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh), menutup kedua tangan dan kaki, serta tidak menggunakan wangi-wangian.

 

Hendaklah anda mencontoh Ummahatul Mu�minin dan Shahabiyat, bila keluar rumah mereka itu bagaikan burung gagak yang memakai pakaian hitam, tidak sesuatupun dari tubuh mereka yang terlihat. 

4.   Hindarilah wahai ukhti muslimah! Membaca majalah-majalah yang merusak dan menonton film-film yang terdapat adegan porno, karena itu akan membangkitkan nafsu seks dan meremehkan perbuatan keji dengan menamakannya sebagai "cinta dan persahabatan" dan menampakkan perbuatan zina dengan menamakannya "hubungan kasih sayang yang matang antara seorang laki-laki dan wanita". Janganlah merusak rumahmu, hatimu dan akalmu dengan hubungan-hubungan yang diharamkan. 

5.   Allah azza wa jalla berfirman: "Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan" (Lukman:6).

 

Maka hindarilah mendengarkan lagu-lagu dan musik, hiasilah pendengaranmu dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur�an, rutinlah membaca dzikir dan istighfar, perbanyaklah "dzikrul maut" (mengingat mati) dan "Muhasabtun Nafs" (evaluasi diri). Ketahuilah bahwa ketika anda berbuat maksiat kepada Allah, maka sesungguhnya anda bermaksiat kepada-Nya dengan nikmat yang Ia berikan kepadamu, maka hati-hatilah, jangan sampai nikmat itu dicabut dari diri Anda. 

6.   Takutlah kepada Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi. Ini adalah rasa takut yang paling tinggi yang menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat. Anggaplah bahwa suatu ketika anda tergelincir pada seperseribu perbuatan zina. Maka bagaimana jika seandainya hal itu diketahui oleh bapakmu, ibumu, saudara-saudaramu, kerabatmu atau suamimu? Dalam pandangan dan buah bibir mereka ketika anda meninggal, mereka akan menganggap anda sebagai seorang pezina, na�udzu billahi min dzalik 

7.   Hendaklah Anda memiliki temah shalehah yang menolong dan membantu Anda, karena manusia itu lemah sementara syaitan siap menerkam dimana saja. Hindarilah temah jelek, karena ia akan datang kepada Anda bagaikan seorang pencuri yang masuk secara sembunyi-sembunyi mencari kesempatan hingga ia menggelincirkanmu pada sesuatu yang diharamkan.

 

Ingatlah paman Nabi Salallahu alaihi Wasalam, ia adalah lelaki tua dan memiliki akal yang lurus, tetapi walaupun demikian karena adanya teman yang jelek yaitu Abu Jahal yang hadir di sampingnya ketika wafat, menjadi penyebab meninggalnya ia dalam keadaan syirik. 

8.   Perbanyaklah berdoa, karena Nabi umat ini termasuk orang yang senantiasa membaca doa dan banyak istighfar 

9.   Janganlah dibiarkan waktu senggang berlalu kecuali anda membaca Al-Qur�an. Berusahalah menghafal apa yang mudah dari Al-Qur�an. Kalau Anda memiliki semangat yang tinggi, maka bergabunglah dengan kelompok Tahfidzul Qur�an khusus wanita, karena jika diri Anda tidak disibukkan dengan ketaatan dan ibadah, maka anda akan disibukkan oleh kebathilan 

10.  Sesungguhnya apa yang kalian cari dalam hubungan-hubungan yang diharamkan untuk mengisi waktu atau memenuhi rasa kasih sayang pada hakekatnya adalah akibat dari kekosongan rohani dan hati, serta kesempitan dada yang bersumber dari jauhnya seseorang dari ketaatan dan ibadah. Allah azza wa jalla berfirman: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit" (Thaha:124) 

11.  Ingatlah bahwa Anda akan meninggalkan dunia ini dengan lembaran-lembaran yang Anda tulis sepanjang hari-hari kehidupan Anda, bila lembaran-lembaran itu penuh dengan ketaatan dan ibadah, maka bergembiralah. Dan bila sebaliknya maka segeralah bertaubat sebelum meninggal. Karena hari kiamat itu adalah hari penyesalan.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan." (Maryam:39). Yaitu hari dibukanya (segala hal yang tersembunyi) dan lembaran-lembaran yang beterbangan. Hari dimana seorang ibu yang menyusui melupakan anaknya yang sedang ia susui. Ingatlah wahai ukhti muslimah!, hari dimana anda terbaring di dalam kubur sendirian 

12.  Ukhti Muslimah !! Telepon telah menjerumuskan banyak wanita, maka janganlah Anda menjadi salah satu dari mereka. Bila Anda diuji oleh seekor serigala barwajah manusia dan anda telah memulai hubungan yang diharamkan dengannya, maka hendaklah segera memutuskan hubungan itu sebelum berlanjut. Dan ketahuilah bahwa Allah akan memberikan anda jalan keluar dan keselamatan dari padanya.

13.  Ingatlah ! Wahai yang mencari kebahagiaan dan berusaha menuju surga, bahwa itu semua dalam rangka taat kepada Allah dan menjalani perintah-perintah-Nya. "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (An-Nahl:97) 

Ingatlah bahwa meninggalkan maksiat lebih ringan dari pada meminta taubat. Saya mengingatkan Anda dengan hadits Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam: "Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka ia akan memasuki pintu-pintu surga mana saja yang ia kehendaki" 

Semoga Allah memberimu petunjuk yang dapat memberikan petunjuk kepada orang lain, menjadikanmu wanita mulia, bertakwa dan suci, menghiasi dirimu dengan iman dan menjadikanmu wanita shalehah dan taat serta termasuk orang-orang yang diseru nanti pada hari kiamat: "Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati." (Al-A�raaf:49)
.

 

 


Posted in Hijab. 0 Comment »

Airmata Penyesalan

 

 

 

Gembiralah dengan hidup ini

                              karena hidup ini indah dan jadikanlah ia

               sebagai hamparan untuk setiap kebaikan

Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya. Bahkan lebih senang dengan tobat yang dilakukan oleh seorang hamba kepada-Nya. Mahasuci Allah, Mahabesar lagi Maha Penyayang. Dia gembira dengan tobat hamba-Nya yang pada akhirnya hamba yang bersangkutan beroleh surga-Nya dan meraih ridha-Nya. Allah SWT menyerukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertobat melalui firman-Nya:

“Bertobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An-Nuur: 31)

Tobat adalah mencuci kalbu dengan airmata dan membakarnya dengan penyesalan. Tobat menimbulkan rasa terbakar dalam kalbu, rasa panas dalam jiwa, rasa hancur dalam perasaan, dan rasa basah dalam airmata. Sesungguhnya tobat adalah permulaan jalan yang harus ditempuh oleh para salihin, modal orang-orang yang beruntung, titik tolak keberangkatan kaum muridin, dan kunci istiqomah kaum yang mencintai Allah. Orang yang bertobat mengemis dan merendahkan diri kepada Allah, berseru dan menangis. Apabila para hamba tenang, kalbunya tidak pernah tenang. Jika semua makhuk merasa tentram, rasa takutnya tidak pernah hilang. Apabila semua makhluk merasa senang, rintihan kalbunya tidak pernah berhenti. Dia berdiri dihadapan Tuhannya dengan hati yang bersedih dan pikiran yang susah seraya menundukkan kepalanya dengan tubuh yang menggigil. Apabila ia teringat dosa-dosa besarnya dan kesalahan-kesalahannya yang banyak, bergejolaklah kesedihannya, menyala kembalilah kebakaran hatinya, dan bertambah deraslah cucuran airmatanya. Nafasnya tersengal-sengal dan suara rintihannya begitu membakar kalbunya. Ia menguruskan dirinya sendiri untuk perlombaan di hari esok dan meringankan dirinya dari beban keduniawian agar dapat berlalu dengan cepat di atas jembatan neraka jahannam nanti.

Ittiba’

 
Ittiba’ An-Nabiy Salallahhu Alaihi Wasalam Dalam Perspektif Sunnah

Saudaraku kaum muslimin... Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ، وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

 “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai diriku melebihi cintanya kepada anak dan orang tuanya serta seluruh manusia yang lainnya” (HR. al-Bukhāriy No. 15 dan Muslim No. 44)

Suatu ketika, ‘Umar bin al-Khaththab Radhiallahuanhu berkata kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam:

(( يَا رَسُوْلَ اللهِ، َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي ))

 “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar sangat saya cintaimelebihi siapapun juga, kecuali dari diriku sendiri”

Maka Rasulullah Salallahualaihi Wasalam bertutur kepadanya:

(( لاَ، وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ))

 “Tidak demikian halnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya aku lebih dicintai olehmu walaupun dari dirimu sendiri”

Kemudian ‘Umar Radhiallahuanhu pun berkata kepada beliau Salallahhu Alaihi Wasalam:

(( فَإِنَّهُ اْلآنَ وَاللهِ! َلأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي )

 “Adapun sekarang, demi Allah, sesunguhnya engkau benar-benar sangat saya cintai melebihi dari diriku sendiri”

Kemudian Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

(( اْلآنَ يَا عُمَرُ ))

“Sekarang (benar), wahai ‘Umar!” (HR. al-Bukhāriy No. 3694)

Saudaraku kaum muslimin...

 Di antara sarana paling utama agar kita dapat merealisasikan konsep ittibā’adalah dengan mahabbah (mencintai) Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam:

melebihi cinta kita kepada siapapun atau apapun, juga dengan senantiasa mengutamakan sabda-sabda dan perintah-perintahnya lebih dari pendapat dan perintah selainnya.

Benih mahabbah (cinta) kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam:

mulai bersemi dari adanya mahabbah qalbiyyah (kecintaan hati) ke-padanya serta tamannī ru’yatihi (harapan untuk dapat bertemu) dan tamannīshuhbatihi (berkawan) dengannya, ke-mudian ditutup dengan upaya kerasuntuk mengamalkan seluruh syari’at-nya dengan penuh kecintaan dan ke-rinduan kepadanya, secara lahir maupun batin.

Benih mahabbah (cinta) ini akan se-makin tumbuh dan mengkristal apabila kita merenungkan sabda beliau Salallhu Alaihi Wasalam berikut:

 

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِيْ حُبًّا نَاسٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِيْ، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِيْ بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

“Ummatku yang sangat mencintai diriku adalah orang-orang yang hidupsepeninggalku, hingga salah satu di antara mereka sampai-sampai ada yang sangat berkeinginan untuk berjumpa denganku beserta segenapkeluarga dan hartanya” (HR. al-Bukhāriy No. 3694)

Saudaraku kaum muslimin...

Benih mahabbah (cinta) tidaklah tumbuh begitu saja, tetapi memerlukanfaktor pendorong dan bahkan alasan kuat. Di antara faktor yang dapat menum-buhkan mahabbah (kecintaan) dan ta’zhīm (pengagungan) kepada Rasulul-lah sa, adalah:

1.    Harapan untuk dapat merealisasikan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan perintah-Nya yang menegaskan kepada kita untuk mencintai dan mengagung-kan Rasul-Nya Salallahhu Alaihi Wasalam.

·       Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah dengan masa hidup (umur)beliau Salallahhu Alaihi Wasalam, sebagai ben-tuk pengagungan-Nya kepadanya:

 

“(Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya merekaterombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)” [QS. al-Hijr (15): 72]

·       Allah Subhanahu Wa Ta’ala memujinya Salallahhu Alaihi Wasalam:


“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [QS. al-Qalam (68): 4]

 

“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu” [QS. asy-Syarh (94): 4]

·       Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dipuji dan diagungkan nama-nya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala selain Rasul Salallahhu Alaihi Wasalam, bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya sebagaikhalīl (kekasih)-Nya. (Lihat: HR. Muslim 2/1855 No. 2383)

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah berkata:

 

 ( وَكُلُّ مَحَبَّةٍ وَتَعْظِيْمٍ لِلْبَشَرِ فَإِنَّمَا تَجُوْزُ تَبَعًا لِمَحَبَّةِ اللهِ وَتَعْظِيْمِهِ، كَمَحَبَّةِ رَسُوْلِ اللهِ  وَتَعْظِيْمِهِ، فَإِنَّهَا مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ مُرْسِلِهِ وَتَعْظِيْمِهِ، فَإِنَّ أُمَّتَهُ يُحِبُّوْنَهُ لِمَحَبَّةِ اللهِ لَهُ، وَيُعَظِّمُوْنَهُ ِلإِجْلاَلِ اللهِ لَهُ، فَهِيَ مَحَبَّةٌ ِللهِ مِنْ مُوْجِبَاتِ مَحَبَّةِ اللهِ... )

 

“Setiap bentuk kecintaan dan pen-gagungan kepada manusia hanya di-perbolehkan sebagai kelanjutan dari bentuk kecintaan dan pengagungankepada Allah. Seperti halnya kecin-taan dan pengagungan kepada Rasulullahmaka ini merupakan penyem-purna bagi kecintaan danpengagungan kepada Dzat yang mengutusnya, yaitu Allah. Oleh karenaitu, ummatnyapun mencintainya karena adanya kecintaan Allah kepadanya dan mengagungkan-nya karena adanya pengagungan Allah kepadanya.Kecintaan kepada Rasu-lullah merupakan persembahan cinta kepada Allah, sekaligus sebagai bukti cinta kepada-Nya...” (Lihat: Jalā’ al-Afhām: 297)

 

2.    Kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam adalah syarat bagi ke-imanan seseorang.

Ibnu Taymiyyah Rahimahullah berkata:

إِنَّ قِيَامَ المَدْحَةِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَالتَّعْظِيْمِ وَالتَّوْقِيْرِ لَهُ قِيَامُ الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَسُقُوْطُ ذَلِكَ سُقُوْطُ الدِّيْنِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya terealisasinya pu-jian, pengagungan dan penghormatankepadanya (Rasulullahmerupakan pilar bagi tegaknya seluruh syi’ar agama. Sebaliknya, runtuh atau hilangnya pilar tersebut adalah kehancuran bagi selu-ruh syi’ar agama” (Lihat: ash-Shārim al-Maslūl: 211)

 

3.    Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan berba-gai keistimewaandan karakteristik agung kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam; yaitu nasab (keturunan) dan keluarga yanmulia lagi pilihan,pertumbuhan hidup yang baik serta kesempur-naan akhlak, sifat dantingkah laku.

 

4.    Besarnya kecintaan, kasih sayang dan welas asih RasulullahSalallahhu Alaihi Wasalam kepada ummatnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah datang kepada-mu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan(keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas ka-sihan lagi penyayangterhadap orang-orang mu’min” [QS. at-Tawbah (9): 128]

Banyak sekali lantunan dan kumandang do’a beliau sa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ummatnya dilimpahkan berbagai karunia dan kebaikan!

Begitu banyak beban derita yang beliau pikul demi tersebarnya dakwah,walaupun harus menghadapi berbagai ejekan dan siksaan dari orang-orangmusyrik! (Lihat: at-Ta’addub Ma’a Rasūlillah fī Dhaw’ al-Kitāb wa as-Sunnah: 37-123, oleh Hasan Nūr Hasan)

Saudaraku kaum muslimin...

 

Sesungguhnya mencintai Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam termasuksalah satu pilar agama yang paling utama, sehingga tidaklahmengherankan bahwa tidak ada kei-manan bagi orang-orang yang tidakmenjadikan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sebagai insan yang paling dicintainya melebihi anak dan keluarganya serta seluruh manusia yang lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih dari-pada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkankeputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petun-juk kepada orang-orang yang fasik” [QS. at-Tawbah (9): 24]

 “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…” [QS. al-Ahzāb (33): 6]

Berkaitan dengan ayat tersebut, Rasu-lullah Salallahhu Alaihi Wasalam bersabda:

(( مَا مِنْ مُؤْمِنٍ إِلاَّ وَأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِهِ فِيْ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ ))

 

“Tidak ada seorang mukminpun kecuali dia akan lebih mencintai diriku, baik di dunia maupun di akhirat” (HR. al-Bukhāriy 6/22 no. 4781)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

(( أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ ))

 “Saya adalah orang yang harus lebih dicintai oleh sorang mukmin, walaupun dari dirinya sendiri” (HR. Muslim 1/592 No. 687)

Saudaraku kaum muslimin...

 

Mahabbah (kecintaan) kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam memiliki dua tingkatan, yaitu:

 

1.    Wajib atau Fardhu.

 

Yaitu mahabbah yang mengandung konsekuensi untuk merealisasikan se-gala perintah Rasulullah sa dan men-jauhi larangannya, rela atau ridha ter-hadap segala ketetapannya, mendasar-kan pengambilan berbagai perintah dan larangan dari ajaran yang dibawa-nya dan tidak memilih jalan kecuali jalan yang telah ditempuh olehnya. 

2.    Sunnah atau Mandub.

 

Yaitu mahabbah yang mengandung konsekuensi untuk mengikuti dan men-contoh dengan baik beragam sunnah, akhlak, adab dan ibadah-ibadah sun-nah yang beliau kerjakan. (Lihat: Istinsyāq Nasīm al-Uns min Nafahāt Riyādh al-Quds: 34-35 dan Fath al-Bāriy 1/61) 

Saudaraku kaum muslimin...

 

Pangkal utama sebuah mahabbah (cinta) adalah ath-thā’ah (taat), al-inqiyād (tunduk patuh) dan at-taslīm (menerima dengan totalitas), bahkan hal ini meru-pakan kewajiban mahabbah tersebut. 

Oleh karena itu, tidak diperkenan-kan bagi seorangpun untuk keluar atau membangkang dari ketaatan kepada Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam dan perintahnya. Bahkan wajib baginya untuk merealisasikansegala perintah dan meninggalkan segala larangannya, serta dengan lebih mengutamakan kecintaan kepadanya dari pada kecintaan kepada keinginan jiwa dan hawa nafsunya sendiri. (Lihat: Fath al-Bāriy 1/53)

 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hinggame-reka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, ke-mudian mereka tidak merasa keberatan dalam hatimereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka mene-rima dengan sepenuhnya” [QS. an-Nisā’ (4): 65]

Saudaraku kaum muslimin...

 

Sebagai penutup, marilah kita renungkan sabda Rasulullah Salallahhu Alaihi Wasalam berikut:

 

(( ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ ))

 

“Tiga hal yang apabila seseorang dapat merealisasikannya, maka ia akan mera-sakan lezatnya keimanan, yaitu; 1. Men-jadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintainya dari selainnya, 2. Mencintai seseorang, tiada lain mencintainya kecuali hanya karena Allah, 3. Benci apabila dirinya terjeru-mus kembali kepada kekafiran sepertikebenciannya apabila dijerumuskan ke dalam api” (HR. Muslim 1/592 No. 687)

Seorang penyair bijak berkata:

 

 

َعْصِي اْلإِلَهَ وَأَنْتَ تَزْعُمُ حُبَّهُ ذَاكَ لَعُمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيْعُ لَـوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا َلأَطَعْتَهُ إِنَّ الْمُحِبَّ لِـمَنْ أَحَبَّ مُطِيْعُ

 

 

Engkau bermaksiat kepada Allah, padahal kau mengaku mencintai-Nya

Dalam pandanganku, itu bukanlah timbangan yang pantas

Seandainya cintamu tulus, tentu kau akan mentaati-Nya

Karena sang pencinta kan taat pada yang dirindukannya

 

 

Kitab-kitab yang mengupas secara khusus tentang mahabbah, ta’zhīmdan ittibā’ kepada Rasulullah sa, di antaranya:

·       

Titik Mula Sebuah Perjalanan

Titik Mula Sebuah Perjalanan

Di suatu waktu yang sangat syahdu... di tempat yang sangat tinggi dan mulia...di atas lapisan langit-langit yang biru... di waktu itu dan di tempat itulah manusia pertama dicipta-kan. Diciptakan dari gumpalan tanah yang dibentuk dan disusun langsung oleh Pencipta alam semesta...Alloh Subhanahu Wataala . Sebelum gumpalan tanah itu menjadi makhluk hidup yang sangat dimuliakan dan diberi nama Manusia... telah terjadi dialog sakral di alam yang sakral pula.

Alloh Subhanahu Wataala berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

"Ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang kholifah di muka bumi. Merekapun (para malaikat) berkata: Mengapa Engkau menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya danmenumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? (Alloh) berfir-man: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." [QS. Al Baqoroh (2): 30]

Setelah itu diciptakanlah tubuh makhluk itu oleh kedua tangan Alloh Subhanahu Wataala sendiri dan ditiupkan padanya ruh dan seketika hiduplah tubuh itu menjadi seorang makhluk baru. Kemudian setelah Alloh Subhanahu Wataala mengajarkan ilmu kepada makhluk itu dan dibuktikan ketinggian ilmunya kepadapara malaikat, maka diperintahkanlah para malaikat untuk bersujudkepada makhluk baru ini sebagai tandapenghormatan dan kemuliaan baginya dan ketundukan kepada penciptanya, maka sujudlah para makhluk yang suci itu.

Alloh Subhanahu Wataala berfirman:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ


"(Ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Ku-sempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan kepada-nya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kalian ber-sujud kepadanya." [QS. Shod (38): 71-72].

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka-kannya kepada para malaikat seraya berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang benar orang-orang yang benar!.

Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Alloh berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.

Maka setelah diberi-tahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Alloh berfirman: Bukankah sudah Ku katakan kepada kalian, bahwa Sesungguhnya Aku menge-tahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kaliansembunyikan?".

Dan (Ingatlah) ketika kami ber-firman kepada para malaikat: "Sujudlah kalian kepada Adam," Maka sujud-lah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur maka jadilah ia dari g olongan orang-orang yang kafir. [QS. al Baqoroh (2) : 31-34].

Akan tetapi di sana ada satu makhluk yang menolak untuk bersujud, menolak perintah dari Sang Pencipta. Apakah gerangan sebabnya….? Apakah karena dia bukan dari bangsa malaikat, lantas merasa tidak tercakup dalam perintah itu..? Bukan..! Sama sekali bukan itu sebabnya! Tetapi sebabnya adalah kesombongan! Kesombongan atas makhluk baru ini karena merasa lebih tinggi dari padanya.

 

Sombong pula ketika menganggap bahwa perintah Alloh Subhanahu Wataala tidak harus dilaksanakan tanpa disaring oleh akalnya terlebih dahulu. Dialah Iblis terkutuk! Makhluk yang setelah itu dilaknat sampai hari kiamat, dijauhi dari rahmat Alloh Subhanahu Wataala

Alloh Subhanahu Wataala berfirman:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

إِلا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

"(Ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku-sem-purnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepada-nya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kalian ber-sujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan jadilah dia termasuk orang-orang yang kafir.

Alloh berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengankedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orangyang (lebih) tinggi?".

Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. Alloh berfirman: Keluarlah kau dari surga! Sesung-guhnya kau adalah orang yang terkutuk, sesung-guhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan. [QS. Shod (38) : 71-78]

Adapun Adam Alaihi Salam sang manusia pertama telah dirahmati Alloh Subhanahu Wataala dan dikaruniai seorang istri yang diciptakan dari tulang rusuknya sendiri.

Mereka berdua dimuliakan Alloh Subhanahu Wataala dengan dimasukkan ke dalam surga yang indah, penuh kemudahan, tidak ada padanya kesusahan dan kesedihan, segalanya sangat menyenangkan sekali. Ketika itu Alloh Subhanahu Wataalapun berpesan kepada keduanya dengan pesan-pesan yang sangat mulia.

Alloh Subhanahu Wataala berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan kami berfirman: "Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik kapan saja kalian kehendaki, dan janganlah kalian dekati pohon ini, kalau kalian dekati maka kalian akan menjadi orang-orang yang dzolim. [QS. al Baqoroh (2): 35]

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى

"Maka kami berkata: Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istri-mu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, yang menyebabkan kamumenjadi sengsara". [QS. Thoha (20): 117]

Tetapi ternyata Adam Alaihi Salam dan istrinya tidak sanggup melaksanakan pesan-pesan itu, ketika setan yang sudah terlaknat itu berhasil menipu mereka dengan bujukan-bujukan laksana seorang penasehat yang setia.

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

"Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya keteguhan yang cukup". (QS. Thoha (20): 115)

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لا يَبْلَى

"Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa? [QS. Thoha (20): 120]

فَأَكَلا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى

"Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-aurat mere-ka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Robbnya dan sesatlah ia. Kemu-dian Robbnya memilihnya dan menerima taubat-nya serta memberinya petunjuk". [QS. Thoha (20): 121-122]

َوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

فَدَلاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari aurat mereka dan setan berkata: Robb kalian tidak melarang kalian untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. Sesungguh-nya saya adalah seorang penasehat bagi kalian berdua.

Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah mencicipi buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-aurat mereka, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Robb mereka menyeru mereka:Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepada kalian: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?" [QS. al A’rof (7): 20-22]

Wahai Da’i Islam..!!

 Wahai Da’i Islam, Renungkanlah Perjalananmu

Demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, gelanggangdakwah banyak diminati jutaan manusia, mereka bukanlah manusia biasa, tetapi mereka adalah para brillian, para pejuang, para patriot serta orang-orang yang siap mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk dapat berandil dan ikut berpacu dalam gelanggang yang penuh liku tersebut.

 Ya, jalannya tak bertabur semerbak bunga atau bermandikan cahaya. Di jalannya tergeletak sejumlah sosok tubuh manusia, berjuta jiwa terlepas dari  jasadnya, berjalan kelelahan dengan terseok-seok dan bercucuran derai air matanya.

Akan tetapi –alhamdulillah– gelanggang ini tak pernah sepi, bahkan kian hari peminatnya kian membanjir, bagai air bah yang tak pernah bisa dibendung.

 

(( لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ عَلَى ذَلِكَ ))

“Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang berjalan di atas kebenaran, tiada sedikitpun terpengaruh oleh orang yang menghina mereka, hingga datangnya keputusan Allah” (HR. al-Bukhariy dan Muslim)

 

Gelanggang itu adalah sebuah perjuangan membentuk tata kehidupan ummat, mengobati luka dan membawa obat penawar bagi penyakit mewabah yang telah menjangkiti ummat. Seorang da’i adalah arsitektur yang merancang benteng Islam yang megah, menambal yang runtuh dan menjaganya agar tetap kokoh, tampak cerah di tengah kegelapan fasadyang semakin pekat.

Seorang da’i yang memulai langkah perjuangannya bertolak dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan ma-nusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” [QS. adz-Dzāriyāt (51): 56]

 

Mengikuti gerak laju sebuah perintah:

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama” [QS. at-Tawbah (9): 122] 

Merambah kehidupan di atas fondasi: 

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petun-juk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” [QS. Sajdah (32): 24]

ٍSemua itu dirajut dalam sebuah tenunan adab yang apik, sebagaimana difirmankan:

 

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi ber-hati kasar, tentunya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu [QS. Āli ‘Imrān (3): 159]

“Dan janganlah kamu memalingkan mu-kamu dari manusia” [QS. Luqmān (31): 18]

Sungguh, betapa mulianya seorang da’i tatkala dia menyuarakan sebuah kalimat dari Rabb-Nya:

 

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu…” [QS. an-Nisā’ (4): 1]

 

Seorang da’i sedang menapaki jalan yang menuju ke puncak gunung, mengarungi lautan dan menelusuri lembah. Mengingatkan orang yang lalai, memberitahu orang yang belum mengerti, mengasihi para pencari kebenaran hakiki, berdiri tegap menghadapi kesombongan para penjahat, senyum antusias dan optimisme menghadapi segala hambatan, teguh menghadang segala tekanan dan derasnya aliran kebatilan.

Dakwah adalah tangga kemajuan bagi ummat Islam dari tidur panjang dan realitas menyedihkan yang dialaminya. Da’i adalah pahlawan yang akan mengentaskan ummat dari segala kerendahan dan kesesatan. Membawa manusia dari kubangan kemaksiatan menuju mahligai iman dan ketentraman. Oleh karena itu, maka pantaslah bila al-Qur’an dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Hadits sangat menghargai usaha yang dilakukan seorang da’i :

“Siapakah yang lebih baik perkatannya da-ripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata: ”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” [QS. Fushshilat (41): 33]

(( فَوَاللهِ َلأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ ))

"Demi Allah , apabila Allah menunjuki seseorang dengan sebab dirimu, maka hal itu lebih berharga bagimu dari pada onta merah (kemegahan hidup) (HR. al-Bu-khariy, Muslim dan selain keduanya)

Tetapi dakwah bukanlah pintu yang telah terbuka lebar, sehingga setiap orang dengan mudah bisa memasukinya. Dakwah membutuhkan kesiapan, metode, dan rambu-rambu yang akan membantu perjalanan seorang da’i dalam mengemban tugas agungnya.

Tulisan ringkas ini bermaksud memberikan sebagian bekal yang harus dibawa seorang da’i, dalam perjalanannya di medan dakwah. Hal ini sangat penting untuk dipahami, sebab amal dakwah adalah amal agung yang membutuhkan keseriusan, istiqamah, kesabaran dan juga beragam cara, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh Alaihi Salam:

“Nuh berkata: “Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah menyeru kaumkumalam dan si-ang. Maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran)” [QS. Nūh (71): 5-6]

Renungilah beberapa hal berikut, semoga dapat menjadi modal berharga untuk menemani perjalananmu dan perjuanganmu yang panjang:

Pertama: Teman Perjalanan 

Saudaraku…!

Alangkah terasa jauh dan begitu panjang perjalanan yang hanya dilakoni seorang diri, tanpa seseorang yang menjadi teman bicara atau membantu di saat-saat menjumpai rintangan di jalan. Seorang muslim dalam kehidupan dunia ini, layaknya seorang musafir yang membutuhkan teman selama bepergian, membantunya dalam jihad hingga mencapai target dan tujuan. Sungguh menyenangkan bila dia memiliki teman yang cerdas dan takwa, sebaliknya akan terasa sesak dadanya bila yang mengiringi perjalanan panjangnya itu adalah orang-orang yang buruk, baik hati maupun tingkah lakunya. Seorang mu`min akan selalu kuat bila bergabung dengan sesamanya.

 

(( فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ اْلغَنَمِ اْلقَاصِيَةِ ))

 “Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian” (HR. Ahmad, Abū Dāwūd dan an-Nasā’iy)

Kedua: Kehidupan Tanpa Ruh

Alangkah buruknya, bahkan tak mungkin seseorang hidup tanpa ruh, ya...sesuatu yang tidak mungkin:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepa-damu wahyu (al-Qur’an, ruh) dengan pe-rintah Kami” [QS. asy-Syūrā (42): 52]

Subhanallah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamakan al-Qur’an sebagai ruh, maka tidak akan ada kehidupan yang sebenarnya tanpa al-Qur’an dan tidak ada kenikmatan dunia akherat tanpa Kitab Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Inilah kenikmatan hakiki bagi orang yang memiliki selera kenikmatan, yaitu tali Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sangat kuat dan jalan-Nya yang lurus.

Sebaik-baik usaha untuk mendidik diri dan keluarga atau anak didik adalah duduk khusyu’ bersimpuh di hadapan Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jauh dari kotornya dunia dan bercak-bercak noda kehidupan.

Betapa indahnya bergantungan dengan tali langit di saat tali bumi terputus, betapa bahagianya memasuki pintu langit tatkala pintu bumi telah tertutup. Suasana terindah bersama Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala, adalah ketika mata kebanyakan orang pejam mengantuk atau tidur terlelap, namun seorang yang justru shaleh membaca al-Qur’an dengan penuh khusyu’ dan tunduk patuh, dikelilingi rahmat yang di bawa para malaikat.

Bacalah al-Qur’an dan tafsirnya, hafalkanlah, perhatikan baik-baik, ambillah pelajaran, dan hiduplah bersamanya. Jangan putuskan hubunganmu dengan Kitab Allah Subhanahu Wa Ta’ala , jauhilah kegelimangan dunia dan gemerlapnya kehidupan palsu yang fana.

Ketiga: Yang Paling Mengasihi Di Antara Sesama Manusia

Saat engkau menemui seseorang yang merintih kesakitan, tiba-tiba engkau pun merasakan sakitnya, engkau bahkan menangis karenanya. Kemudian engkau ulurkan tanganmu untuk benar-benar membantunya. Bukan hanya itu, bahkan engkau rela mengorbankan jiwawu demi menolongnya. Saat itu dirimu adalah orang yang sangat peduli dan mengasihi orang lain. Tapi tahukah, siapa sebenarnya orang yang paling mengasihi sesamanya? Yah, dirimu juga, yaitu ketika engkau menyeru (mendakwahkan) orang lain untuk menapaki jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketika engkau memberikan cahaya petunjuk kepadanya agar selamat dari hitam pekatnya kesesatan.

Dakwah menyeru kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala  adalah jalan para nabi dan rasel utusan-Nya. Adalah kemuliaan yang amat besar, bila kita pun mau menempuh jalan yang sama. Ketauhilah, dakwah yang paling agung adalah mentarbiyyah anak didik untuk mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya saw serta manjauhkan mereka dari ombak kehinaan.

Saudaraku...!

Mendidik para pemuda untuk taat dan takwa adalah salah satu sisi paling agung, yang tidak pernah dipahami dengan baik hasil akhirnya, kecuali oleh ahlul bashirah yang berpandangan tajam. Hal ini tidak akan pernah disadari oleh mereka yang berpandangan pragmatis dan tergesa-gesa ingin menuai hasil.

Seorang pendidik adalah pencetak manusia pejuang, yang akan menjali pilar peradaban dan merubah sejarah. Dakwah dan seruan yang kekal adalah dakwah yang mengayomi anak didik dengan sesungguhnya, fondasinya menghunjam kuat ke bumi, hingga tidak akan termakan fitnah kecuali yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai kebaikan baginya.

Keempat: Jangan Jadi Lilin

 

Alangkah kasihannya sebuah lilin, dirinya terbakar, sementara manusia dengan senang hati memanfaatkan cahayanya. Akankah seorang da’i bernasib seperti sepotong lilin? Yang kami maksudkan di sini adalah seseorang yang melalaikan pendidikan dirinya, padahal dirinya sudah memasuki tahapan tertentu dari usianya.

Mungkin dirinya menyangka bahwa usianya telah mencukupi sebagai pengganti tarbiyah fardhiyyah (pendidikan diri), atau dia mengira bahwa kesibukan dakwah cukup sebagai pengganti perhatian pada dirinya sendiri. Ini adalah jebakan yang sangat membahayakan. Orang yang tak memiliki apapun, tentuanya tak akan dapat memberi. Seorang da’i dalam gelanggang dakwah akan selalu menjadi qudwah, oleh karenanya harus ada cara tertentu untuk mendidik diri serta untuk komitmen menumbuhkan iman, keshalehan dan wara’. Jangan menjadi lilin yang membakar dirinya untuk menerangi orang lain.

 

Kelima: Warisan Para Nabi

Dakwah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala walaupun begitu penting, agung dan juga sebagai suatu amal ibadah, tetapi bisa saja berubah menjadi bumerang bagi pelakunya bila tidak memiliki fondasi yang benar dan substansi yang asli, yaitu ilmu syar’i. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

Katakanlah: “ Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yangmengikutiku me-ngajak (kamu) kepada Allah  dengan huj-jah yang nyata, maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” [QS. Yūsūf (12): 108]

 

Setiap dakwah yang tidak dilandasi oleh ilmu syar’i, meskipun sangat gencar, adalah dakwah yang kosong bahkan mungkin menjadi seruan menuju kebodohan. Munculnya kelompok-kelompok sesat adalah karena mereka tidak membekali dakwah dengan keilmuan yang shahih (benar).

Setiap amal ibadah meskipun banyak, bila tidak berdasarkan petunjuk Nabi saw adalah cacat dan kurang, khususnya bila tidak dilandasi ilmu syar’i. Karena dari sinilah munculnya para ahli zuhud yang sesat.

Ilmu adalah kehidupan, tidak akan pernah mengerti arti kehidupan itu melainkan orang yang dapat merasakan manisnya dan melahap kenikmatannya. Kita menyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa sebuah masyarakat pilihan, pasti pilarya adalah orang-orang yang berilmu.

 

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah, di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama” [QS. Fāthir (35): 28]

 Oleh karena itu, sangatlah penting menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai salah satu cara meneguk ilmu syar’i. Seorang da’i yang memikul tanggungjawab untuk melakukan perubahan dengan goresan tinta, kata bijak dan perbuatannya, harus hidup dalam dunianya.

Kejadian dan aliran pemikiran yang selalu berkembang setiap saat, menuntutnya untuk mengetahui banyak hal yang ada di sekelilingnya demi kepentingan dakwahnya, termasuk membaca buah karya para penulis kontemporer. Ini merupakan sebuah keniscayaan, agar dia menjadi seorang da;i yang tanggap, respek dan sukses.

Namun jangan dilupakan, kita adalah ummat yang memiliki akar sejarah yang jelas. Manhaj ulama salaf adalah manhaj yang lebih benar, lebih lurus dan lebih selamat. Seorang da’i merasakan kebanggaan tersendiri bila menisbatkan dirinya pada manhaj para pendahulunya. Mayoritas goresan tinta mereka dihiasi keikhlasan, kejujuran dan lautan ilmu yang dalam.

Keenam: Keikhlasan Membutuhkan Keikhlasan

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supa-ya Dia menguji kamu, siapa di antara ka-mu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Ma-ha Perkasa lagi Maha Pengampun” [QS. al-Mulk (67): 2]

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa dalam menentukan tingkatan manusia, barometernya adalah hasan (yang baik). Jadi permasalaannya bukan kuantitas, tetapi kualitas. Satu hal yang menjadi faktor terpenting untuk kualitas amal ibadah agar dikatakan sebagai amal yang hasan adalah keikhlasan. Bahkan substansi amal itu sendiri sebenarnya adalah keikhlasan. Ketika keikhlasan tidak ada, maka ada tidaknya sebuah amal menjadi sama saja (percuma).

Saudaraku...!

Betapa para shiddiqun sendiri mengalami problem dalam keikhlasan. Tapi tidaklah mengapa, karena langkah pertama adalah melakukan dan merasakan, tetapi perlu sabar, mushābarah (menyabar-nyabari) danmujāhadah (berjuang terus) agar dirinya dapat sampai tujuan meskipun setelah sekian lama.

Hati-hati jangan pernah terbuai oleh amal perbuatan kita sendiri. Sebagian salaf menyebutkan:

“Barang siapa yang mengira ikhlash terhadap keikhlasan dirinya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”. Wallahu A’lam. (hasmi.org) 

Tamkin & Khilafah, Kapan & Bagaimanakah?

 

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik” [QS. an-Nūr (24): 55]

 Saudaraku kaum muslimin!

1.       Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berjanji dan janji-Nya pasti tidak akan pernah diingkari.

Nash al-Qur`an menjelaskan bahwa khi-lāfah, tamkīn ad-dīn (kedaulatan agama) dan rasa aman adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya berasal dari-Nya semata, tidak dari selain-Nya.

 

 

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS. Āli ‘Imrān (3): 126]

“Sesungguhnya Kami telah mentamkinkan kalian di muka bumi” [QS. al-A’rāf (7): 10]

Bahkan dalam al-Qur`an terdapat satu surat yang diberi nama “an-Nashr” atau ke-menangan (surat ke-110), yang di awalnya terdapat kataan-Nashr yang disandarkan ke-pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Apabila telah datang pertolongan (keme-nangan) Allah dan kemerdekaan” [QS. an-Nashr (110): 1] 1

 Oleh karena itu, para nabi, orang-orang shalih, para imam dan para da`i sepanjang sejarah, mereka senantiasa bertadarru` (mengais kasih) dan beristinshar (memohon kemenangan) hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Nabi Nuh memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala: 

“Nuh berdoa: “Ya Rabbku, tolonglah aku, ka-rena mereka mendustakan aku”[QS. al-Mu’-minūn (23): 26]

Muwahhidīn (orang-orang yang bertauhid) ketika terdesak oleh pasukan Jalut, dengan penuh ketundukan mereka berdoa:

 

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 “Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlahpendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir” [QS. al-Baqarah (2): 250]

Inilah aqidah orang-orang beriman yang mencari kemenangan dan kedaulatan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rabbul `alamin. Mereka tidak mencari kemenangan kepada sekedar pamer dengan tokoh berdarah biru, tidak bergantung dengan peralatan canggih kelas satu dan tidak pula kepadakebesaran suatu organisasi, atau dengan kekuatan fatamorgana semu lainnya.

2.       Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan 3 (tiga) hal kepada mereka yang beriman dan beramal shalih, yaitu:

a.       Istikhlāf.

b.       Tamkīn ad-dīn.

c.       Rasa aman setelah dicekam rasa takut.

Dalam tafsirnya, Ibnu al-Jawziy berkata:

( وَ اْلمَعْنىَ: لَيُوَرِّثَنَّهُمْ أَرْضَ اْلكُفَّارِ مِنَ اْلعَرَبِ وَاْلعَجَمِ فَيَجْعَلُهُمْ مُلُوْكَهَا وَسَاسَتَهَا وَسُكَّانَهَا )

 Makna istikhlaf adalah: negeri orang-orang kafir, baik Arab maupun non Arab akan dibe-rikan kepada mereka yang beriman dan beramal shalih. Kemudian Allah menjadikan mereka sebagai penguasa, pemimpin politik dan pemilik negeri-negeri yang kafir tersebut” (Zād al-Masīr: 5/394)

Hakekat istikhlāf dalam konteks ini bukan hanya sekedar kerajaan, kekuasaan, kemenangan dan kedaulatan, namun tidak berisi keagungantauhid dan sunnah yang dapat memuliakan dan menyelamatkan.

Istikhlāf dalam konteks ini mengandung semua unsur yang menjadi syarat kebaikan, pembangunan dan pembinaan, mewujudkan manhaj tauhid dan sunnah sebagaimana yang telah digariskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk dijalankan oleh seluruh manusia, serta dengan menggapai tingkat kesempurnaan secara maksimal sebagai makhluk-Nya.

Makna istikhlāf sebagaimana tersebut di atas, dipetik berdasarkan ayat sesudahnya yang menegaskan “Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka” (tamkīn ad-dīn), yang berarti:

( تَمْكِيْنُهُ: إِظْهَارُهُ عَلَى كُلِّ دِينٍ )

 "Dimenangkannya din Islam atas din-din se-lainnya” (Zād al-Masīr: 5/394)

 Tamkīn ad-dīn akan sempurna dengan diteguhkannya din (agama) Islam di dalam lubuk hati setiap insan serta dengan didaulatnya din (agama) Islam sebagai sistem dan norma kehidupan.

Hanya ajaran Islam yang dilandasi tauhid dan sunnahlah yang akan memerintahkan sebuah reformasi, keadilan, kemak-muran dan untuk mengambil manfaat hasil bumi dengan semaksimal mungkin untuk ke-mudian dipersembahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam setiap aktifitas kehidupan manusia.  

 Semua itulah yang dapat mewujudkan rasa aman, setelah sebelumnya berada dalam rasa takut yang mencekam, ditindas, dihina dan direndahkan. Hingga pada akhirnya, mereka akan merasakan sakīnah (ketenangan), ketenteraman, kedamaian dan kebahagiaan.

 Islam yang terwujud dalam tauhid dan sunnah memang terlahir untuk menjadi besar dan menang, serta tidak mungkin akan terkoyak. Semua badai yang ada dalam perjalanan pastilah berlalu, walaupun harus menunggu dengan penuh ketegangan dan berdebar kencang. Riak lautan tidak pernah dapat menggulingkan bahtera yang sedang melaju –dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala–.

 Memang tiada kafilah berlalu tanpa ada debu dan taufan di jalan…, tetapi semua badai pasti dan akan segera berlalu, walaupun silih berganti da-tang menerpa.

 Itulah sakīnah dan keamanan yang akan digapai dan didapatkan, saat fajar khilafah dan cahaya Islam memancar dalam pekatnya alam kegelapan.Cahaya tauhid yang tidak bercampur dengan syirik serta cahaya sunnah yang tidak terusik dengan bid`ah pasti datang, karena janji yang pasti dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 Saudaraku kaum muslimin!

 

Berkaitan dengan [QS. an-Nūr (24): 55], Abū al-`Āliyah berkata: 

 

Setelah mendapatkan wahyu, Nabi dan para shahabatnya tinggal di Mekkah selama 10 tahun. Mereka diperintahkan untuk tetap sabar menanggung berbagai siksaan dari orang-orang. Saat itu mereka merasakan takut yang mencekam, baik di kala pagi maupun di waktu petang. Hingga salah seorang di antara mereka (shahabat) berkata: Apa-kah akan datang kepada kita suatu hari di mana kita dapat merasakan aman dan dapat meletakkan senjata (tidak perang)? Maka Allah menurunkan ayat yang menentramkan mereka, yaitu [Qs. an-Nūr (24): 55])” (HR. ath-Thabariy: 18/159-160, as-Suyūthiy  [6/215] menyandarkan riwayat ini kepada `Abd bin Humayd dan Ibnu AbīHātim. Ibnu Hajar dalam al-Kāfiy asy-Syāfiy : 119 ber-kata: disambungkan oleh al-Hākim 2/410 dan Ibnu Mardawayh. al-Haytsamiy dalam al-Majma` 7/83 berkata: diriwayatkan ath-Thabrāniy da-lam al-Awsath dan rijalnya tsiqat).

 

Begitulah keadaan generasi pertama ummat Islam yang merasakan wujud agung janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Daulah Islamiyyah di Madinah, khilafah Abu Bakar Radhiallahu Anhu dan ‘Umar Radhiallahu Anhu adalah bukti nyata sebuah janji yang tidak pernah diingkari. Sebuah janji yang pasti tetap terwu-jud bagi siapa saja dari kalangan kaum muslimin yang dapat memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, di sepanjang waktu hingga akhir zaman.

 Syarat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang wajib diwujudkan adalah “Mereka hanya beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun”.

Oleh karena itu, dalam ayat selanjutnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, niscaya kalian diberi rah-mat” [QS. an-Nūr (24): 56]

Ayat ini menggambarkan sebuah persiapan dan syarat-syarat yang harus diwujudkan sebelum turunnya anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Yaitu ittishūl (berhubungan) dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalamkemurnian tauhid, meluruskan kalbu dengan shalat, mensucikan jiwa dan masyarakat dengan zakat, mentaati rasul dalam sunnahnya dan ridha terhadap hukumnya, melak-sanakan syari`at Allah Subhanahu Wa Ta’ala –sekecil apapun– serta dengan mewujudkan manhaj yang dike-hendaki-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Itulah hakikat dari syarat ”Mereka hanya beri-badah kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun”.

 

Pelajaran yang dapat kita simpulkan, bahwa berdasarkan perenungan terhadap al-Qur`an dan as-Sunnah, setidaknya ada 3 (tiga) asas pokok untuk mewujudkan keberhasilan dalam meraih kemenangan dan tamkīn, yaitu:

·         Iman dan `ubūdiyyah (pengabdian) ha-nya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan jalan:

 

a.       Mempersembahkan nusuk (praktek-praktek ibadah) hanya kepada-Nya semata, tidak kepada selain-Nya.

 

b.      Berhukum hanya kepada wahyu yang di-turunkan-Nya.

 

c.       Walā` (mencintai dan memperjuangkan) Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rasul-Nya saw, agama-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan barā(membenci dan memusuhi) semua hal yang bertentangan dan bermusuhan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,  serta para pelaku dan pendukungnya.

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan m-limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [QS. al-A’rāf (7): 96] 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mere-kapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itu-lah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siap yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” [QS. al-Mā’idah (5): 54]

·         Meraih sebab keberhasilan dan mem-persiapkan sarana-sarananya, yaitu:

 

a.       Sebuah jama`ah yang menjadi sosok-sosok perubah.

b.      Kader sunni yang matang. 

c.       Sistem yang kokoh.

d.       Sarana dan prasarana penunjang lainnya.

 

Pembentukan sosok tubuh perubah (dalam hal ini berbentuk sebuah jama’ah atau organisasi) yang kuat, yang sanggup mengadakan perubahan total dan mempertahankan hasil dari perubahan itu serta meneruskan-nya menuju kepada kesempurnaan.

 

Kita tidak menginginkan suatu perubahan yang tidak bisa dipertahankan dan disempurnakan, karena hal itu adalah hal yang percuma. 

Yang dimaksud dengan perubahan di sini tentunya adalah perubahanmasyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat Islami. Bagian-bagian dari sosok perubah ini meliputi personal (manusia), tandzīm (sistem) dan hartabenda (sarana prasarana).

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

 “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian mengge-tarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak menge-tahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya (dirugi-kan)” [QS. al-Anfāl (8): 60] 

·         Da`wah dan Tarbiyyah Istimrāriyyah (berkesinambungan).

 Unsur pokok dari sosok perubah adalah manusia. Sebab, manusialah pelaku hakiki dari perubahan tersebut dan unsur manusia pulalah yang akan melahirkan kedua unsur lainnya.

 Strategi haraki dari unsur manusia adalah peningkatan jumlah kuantitas dan tar-biyyah (pembinaan) yang terus-menerus dan tiada henti. Tarbiyyah tentang semua segi ajaran Islam harus mencapai mutu atau kualitas yang setinggi-tingginya dan harus dilakukan secara sistematis.

 “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada me-reka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesung-guhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [QS. al-Jumu’ah (62): 2] 

Semua ini boleh jadi akan memakan waktu yang panjang sekali. Oleh karena itu, kesabaran kitapun harus sangat kuat. Kesabaran dalam tarbiyyah dan kesabaran dalam menekan perasaan yang ingin menggelincirkan kita dari jalan tarbiyyah menuju jalan pintas ataualternatif yang hanya bersifat dugaan.

 Perubahan ini tidak mungkin dilakukan dan akan dapat dipertahankan tanpa sosok perubah yang kuat. Tarbiyyah yang bermutu dan kuantitas yang cukup adalah unsur utama dari arti “kuat” dalam konteks ini. Ketidak sabaran dan keterburu-buruan dalam menjalani strategi haraki akan mengantarkan kepada pemilihan jalan alternatif atau jalan pintas tersebut.

 Semua cara halal dan ampuh bisa ditempuh (termasuk jihad fisik yang benar) sesuai dengan kondisi yang ada dan memungkinkan. Tetapi, cara apapun yang ditempuh memerlukan “kecukupan” dalam kualitas dan kuantitas.

Maka dari itu, “kecukupan” lah yang harus kita capai terlebih dahulu. Sedangkan cara penuntasan terakhir yang akan ditempuh, kita serahkan kepada generasi pelaksana yang akan datang, menurut kondisi yang ada pada waktunya.

 Demikian pula membina masyarakat untuk sampai pada kesadaran yang tinggi tentang arti La Ilaha Illallah – Muhammad Rasulullah, serta kesadaran tentang kewajiban mereka dalam penerapan syari`at dan penegakan sunnah.

Semua usaha yang memungkinkan harus dilakukan untuk menyadarkan masyarakat bahwa kedua hal di atas adalah kandungan utama ajaran Islam dan merupakan konsekuensi utama dari keimanan mereka.

Masalah inilah yang harus menjadi titik temu atau garis tengah bersama antara masyarakat dan sosok para perubah. Tugas kita adalah men-dakwahkan mereka, bukan memerangi merekasampai hujjah benar-benar tegak dan semua masalah jelas bagi yang ingin memilih jalan kebenaran ataupun kebathilan.

Ahlus Sunnah wal Jama`ah bukan sekedar mengejar slogan semu sebuah kekuasaan dan kedaulatan tanpa manhaj keselamatan dan kemenangan.

Ahlus Sunnah pun tidak terjebak oleh sekedar kebanggaan terhadap manhaj keselamatan dan kemenangan tanpa ada upaya untuk mewujudkannya dalam fakta kekuasaan dan kedaulatanSemua itu terkandung dan terjalin dalam makna dan metode “Sunnah” dan “Jama`ah”. 

تزول الجبال الراسيات و قلبه على العهد لا يلوي و لا يتغير

تزول الجبال الراسيات و قلبه على العهد لا يلوي و لا يتغير

 “Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang

tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh janji setianya”

 

Saat pertama aku mengenalnya, kudapati jiwanya adalah jiwa yang berkarakter lain, penuh gelora hidup untuk dapat memberikan andil perjuangan, sigap untuk selalu menyongsong beragam ketaatan, se-nantiasa dihinggapi semangat hidup dan semangat juang, serta lebih banyak berbuat namun sedikit bicaranya.

 Maka pantaslah dia menjadi sang panutan dalam kepribadian dan dalam dakwah. Tatkala diperintahkan untuk berjaga di barisan belakang perjuangan, dengan sigap dia segera berbaur ke belakang. Dan tatkala diperintahkan untuk berjaga di front terdepan, maka secepat kilat diapun telah berada di garda terdepan dalam perjuangan.

 Setelah hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, maka aku menyangka bahwa kepribadian dan karakternya pastilah telah berubah oleh berbagai fitnah kehidupan, atau bisa jadi jiwanya semakin lembut, semangatnya semakin redup, atau paling minimal adalah bahwaperjuangan dan tekadnya mulai luntur.

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala  akan senantiasa meneguhkan para waliNya yang shalih dengan kekokohan hati serta membantunya untuk dapat mengentaskan berbagai kesulitan dan rintangan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِي اْلأَخِرَةِ...

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu da-lam kehidupan di dunia dan di akhirat.....” [QS. Ibrāhīm (14): 27]

Syaykh ‘Abdur Rahmān as-Sa’diy ber-kata:

 

“Allah mengabarkan bahwa Dia meneguhkan hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu hamba-hamba-Nya yang telah menunaikan kewajiban iman di lubuk hati mereka dengan sempurna, yang sekaligus menumbuhkangelora amal perbuatan dari seluruh anggota badannya. Yaitu Allah meneguhkan mereka dalam kehidupan dunia berupa hidayah menuju keyakinan yang mantap tatkala syubuhat datang menyerang, atau berupa tekad kuat tatkala syahwat dirinya meradang, dan berupa kesigapan untuk senantiasa lebih mendahulukan kecintaan Allah daripada ke-cintaan hawa nafsu dan keinginan terselu-bungnya.

Dan Dia meneguhkan mereka dalam kehidupan akhiratnya, yaitu denganmeneguhkan keislamannya tatkala maut datang menjemput hingga beroleh husnul khatimah, dan dengan meneguhkan mereka untuk menjawab pertanyaan dua malaikat tatkala berada di alam kubur. Maka merekapun akan dapat menjawabnya dengan benar, bahwa Allah adalah Rabbku, Islam adalah agamaku dan Muhammad adalah Nabiku” (Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān: 425-426)

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَ يُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” [QS. Muhammad (47): 7]

Syaykh as-Sa’diy berkata:

 

“Allah memerintahkan orang-orang beriman agar menolong-Nya, yaitu menegakkan agama-Nya, mendakwahkannya, berjihad melawan musuh-musuhnya dan mempersembah-kan semua hal tersebut semata-mata hanya karena mengharap wajah-Nya.

Apabila mereka telah menunaikan perintah tersebut, maka Allah akan memberikan kemenangan dan meneguhkan langkah mereka. Yaitudengan menganugerahkan kesabaran, kete-nangan dan keteguhan dalam hati mereka, menyabarkan penderitaan tubuh mereka dan memenangkan mereka dari gempuran musuh-musuhnya” (Taysīr al-Karīm al-Rah-mān fī Tafsīr Kalām al-Mannān: 785)

 

Dan bukankah angin topanpun tidak sanggup untuk menghantam gunung yang tegar ataupun pohon yang kokoh? Dan bukankah Rasulullah Salallahu Alihi Wasalam telah bersabda:

 

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَّةِ مِنَ الزَّرْعِ: مِنْ حَيْثُ أَتَتْهَا الرِّيْحُ كَفَأَتْهَا، فَإِذَا اعْتَدَلَتْ تَكْفَأُ بِالْبَلاَءِ

“Perumpamaan seorang mukmin adalah bagaikan sebuah pohon yang kokoh, yaitu tatkala angin berhembus kencang maka dia berusaha keras menghadangnya agar tetap tegar, dan tatkala angin berhembus semilir,maka diapun tetap dalam ketegarannya” (HR. al-Bukhāriy dalam Kitāb al-Mar-dha’ Bab Mā Jā’a fī Kaffārah al-Maradh 10/103 No. 5644)

 

Mungkin saja berbagai fitnah kehidupan sanggup untuk mengikiskan bagian kehidupan duniawinya, baik harta-benda maupun anggota badannya, akan tetapi sesungguhnya apapun yang ada di dunia ini, maka tidak akan sanggup untuk menggoda dan menggelincirkan kaum mukminin.

 

Dan tidak akan pernah sedikitpun sanggup melumpuhkan tekadnya, meskipun hidup dalam deraan derita dan kemiskinan, kesempitan dan penderitaan, karena jiwanya adalah jiwa seorang kesatria pejuang, tekad perjuangannya senantiasa bergelora, dan hatinya senantiasa tunduk patuh kepada Rabbnya dengan penuh sakīnah dan thuma’nīnah.

Boleh jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang

tiada pernah kan bergeming dan berubah, ‘tuk senantiasa memegang teguh

janji setianya

Belum pernahkah kita menyaksikan seorang kesatria pejuang dari generasi pertama yang pada suatu saat ditikam musuh dan bersiap hendak meregang nyawa, namun di detik terakhir kehidupannya, dia masih lantang berseru dengan penuh senyum kemenangan:

( فُزْتُ وَ رَبِّ الْكَعْبَةِ )

Demi Allah, akulah sang pemenang

Ternyata, kisah heroik ini tidak hanya menjadi milik generasi para shahabat, bahkan dalam setiap generasi kaum muslimin akan senantiasa ada epos kepahlawanan yang mempesona seperti ini, yang memancarkan pesona kebaikan dan keagungan sebagai seorang martir, sehingga kisahnya senantiasa menjadi buah bibir dan keteladanan dalam memegang teguh dan memperjuangkan panji kebenaran.

Banyak sekali orang-orang yang sanggup untuk merengkuh kebenaran, namun sangat sedikit sekali di antara mereka yang mampu untuk berkata lantang, tegar dan sabar dalam memperjuangkan kebenaran tersebut. Dan yang sedikit inilah yang sanggup untuk merubah perjalanan sejarah dan mereformasi realita ummat yang menyedihkan.

Alangkah menawannya ungkapan al-Rāfi’iy yang berkata:

 

رُؤْيَةُ الْكِبَارِ شُجْعَانًا هِيَ وَحْدَهَا الَّتِي تُخْرِجُ الصِّغَارَ شُجْعَانًا، وَ لاَ طَرِيْقَةَ غَيْرُ هَذِهِ فِي تَرْبِيَّةِ شَجَاعَةِ اْلأُمَّةِ

 

“Hanya dengan bimbingan pahlawan ber-pengalaman yang berhatiksatrialah yang sanggup menggelorakan keberanian para pemuda, dan hal ini tidak akan terealisasi kecuali melalui pembinaan yang ditujukanuntuk memupuk keperwiraan ummat” (Ma-jallah ar-Risālah vol. 94, Muharram 1354)

 

Kalau kita renungkan dengan seksama tentang hal-ihwal dan kondisi kaum muslimin, tentunya kita akan mendapati bahwa kebanyakan mereka secara umum adalah orang-orang yang tidak memiliki andil untuk menyebarkan dakwah dan mengangkat panji perjuangannya. Tekad mereka nyaris tiada berdetak, dan bahkan tidak pernah memberikan perhatian sedikitpun. 

Perasaan mereka tidak tersentuh sedikitpun tatkala menyaksikan kehormatan agama diinjak-injak dan dinodai para durjana. Dada mereka tidak pernah merasa sesak tatkala panji tauhid dicabik-cabik. Karena ambisi mereka hanyalah kehidupan dunia yang bersifat fatamorgana lagi fana.

Di belahan dunia yang lain, kitapun melihat sekelompok kesatria yang dengan sigap mengangkat panji tauhid dengan penuh keyakinan dan kemantapan ilmu. Mereka siap mengorbankan harta, keluarga dan bahkan jiwa mereka sendiri demi tegaknya panji tauhid.

Cacian dan celaan yang meng-hujani mereka tiada sedikitpun menyurutkan langkah. Kita jumpai mereka senantiasa ruku’ dan sujud seraya berharap akan karunia dan keridhaan Allah. Itulah sekelompok insan yang telah menggenggam kedudukan agung, sedangkan selain mereka hanyalah beroleh “kedudukan sisa”.

Salah satu hikmah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang pasti adalah bahwa sarana yang dapat menghantarkan kepada kedudukan tersebut merupakan jalan terjal yang teramat sulit. Karena kalau seandainya jalannya mudah, tentulah akan banyak insan-insan lain yang sanggup menjadi para prajuritnya, bahkan mungkin secara berbondong-bondong.

Maha benar Allah Subhanahu Wa Ta’ala  yang berfirman:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَ سَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَ لَكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَ سَيَحْلِفُونَ بِاللهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَ اللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

 

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Me-reka akan bersumpah dengan (nama) AllahJikalau kami sanggup tentulah kami berang-kat bersama-sama. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta” [QS. at-Taw-bah (9): 42]

 

Syaykh as-Sa’diy berkata:

Allah memberikan genderang perang ke-pada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka sigap untuk pergi berperang di ja-lan-Nya, baik saat sulit maupun nyamandengan semangat maupun terpaksa, saat panas menyengat maupun dingin yang me-nusuk tulang, bahkan dalam berbagai kon-disi.

 Yaitu dengan mengerahkan segenap kemampuan dengan seoptimal mungkin, baik dengan harta benda maupun dengan jiwa. Hal ini mengindikasikan bahwa selain de-ngan jiwa, maka jihadpun diwajibkan dengan harta benda, bahkan hal ini sangat dibutuh-kan sekali.

Dan jihad dengan jiwa dan harta benda adalah idealisme yang lebih baik dari pada hanya berpangku tangan. Karena di dalamnya terdapat keridhaan Allah, keme-nangan beroleh derajat kedudukan yang tinggi di sisi-Nya, menolong agama-Nya dan menjadikannya sebagai tentara dan go-longan-Nya.

Dan seandainya tujuan jihad tersebut hanya sekedar untuk mendapat man-faat duniawi yang mudah diperoleh, atau hanya sekedar perjalanan singkat yang mu-lus, maka banyak orang yang akan mengi-kutinya, karena tidak akan menemui rin-tangan yang berarti sedikitpun.

 Sebaliknyaketika perjalanan tersebut adalah sebuag per-jalanan jauh yang melelahkan dan dipenuhi banyak hambatan, maka banyak orang yang merasa berat menitinya…” (Taysīr al-Ka-rīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Man-nān: 338)

 

Sumber daya hakiki yang dimiliki ummat bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung.

 

Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan kehidupannya demi untuk mengayomi dan melindungi da’wah. Dan gambaran keindahan dari tipikal insan yang berdaya guna ini adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasulullah r adalah:

 

مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ رَجُلٌ مُمْسِكُ عَنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ يَطِيْرُ عَلَى مَتْنِهِ، كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ يَنْبَغِي الْقَتْلَ أَوِ الْمَوْتَ مَظَانُّهُ

 

“Sebaik-baik penghidupan yang diupayakan oleh seorang manusia yang akan memberi-kan kebaikan baginya adalah keturunan yang berjiwa militan yang senantiasa bersiaga untuk memacu kudanya menuju medanlaga di jalan Allah, yang manakala terdengar genderang perang atau gemerincing pedang di mana pilihannya saat itu hanyalah mem-bunuh ataukah terbunuh, maka diapun de-ngan sigap menyongsongnya” (HR. Mus-lim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa ar-Ribāth 3/1503 No. 1889)

 

Dia adalah seorang kesatria yang telah menadzarkan dirinya untuk membela Allah swt dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya. Renungkanlah bersama sabda Rasulullah saw dalam ungkapan “...memacu kudanya...”, dan ungkapan “...dengan sigap menyongsongnya”.

 

Saat ini kita berada dalam suatu masa yang masing-masing kita dituntut untuk berfikir “Apakah yang dapat kupersembahkan?”, atau bahkan “Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan suatu (perjuangan) melebihi kemampuan yang ada?”! Hal ini tidak akan mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan tekad dan semangat membara yang dilandasi kejujuran, sehingga dalam berbuat atau berproduksi dia senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya mau-pun dalam beramal secara kreatif, dan tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit lagi minim.

فـكن رجـلا رجله في الثـرى

و هـامة هـمته في الـثـريـا

Jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah

Namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit

 

Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan (ambisi) kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas.

Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena dia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang berulang.

 

Dan sudah merupakan hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan (ambisi) dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya.

Namun dia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi dia pun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama. Alangkah indahnya ungkapan Syaykh al-Islam Ibnu Taimiyah yang berkata:

 

“Orang awam (yang memiliki ambisi dan tekad biasa-biasa saja) akan berprinsip: Harga diri seseorang ada pada apa yang diang-gapnya indah, sedangkan orang khusus (yang memiliki ambisi dan tekad luar biasa) ber-prinsip: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealismekannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya)” [Madārij as-Sālikīn Juz. 3 hal. 3 dan 148] (teamHasmi.org)