Renungan Ke - 5
31 Juli 2009DA’I ISLAM
ANTARA MILITANSI DAN KEKERDILAN JIWA
Berbagai peristiwa di dunia Islam datang silih-berganti, suhu politik terus-menerus mengalami perubahan, dan pertempuran antara Islam dan kekufuranpun berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal-ihwal kaum muslimin hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah.
Shahwah Islāmiyyah (kebangkitan Islam) pada masa modern pun mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran ummat secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidak berdayaan dan kelemahan yang dialami pada masa-masa sebelumnya secara berkepanjangan. Dan ummat ini tidak akan sanggup untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan melalui usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan. Akan tetapi semuanya membutuhkan seluruh kemampuan dan upaya yang saling melengkapi lagi saling mendukung. Jika demikian keadaannya, maka amal Islami –dengan karunia Allah- akan dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri dan ketenteraman. Dan meskipun perjalanannya terasa berat karena banyaknya kerikil dan rintangan, akan tetapi suatu hari kelak, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya: "Apakah peran yang harus kupersembahkan dalam meniti perjalanan amal Islami ini?". "Dan apakah yang dapat kupersembahkan untuk agama ini?"
Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton, yang menyaksikan perjalanan shahwah Islāmiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih? Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan Lā Hawla wa Lā Quwwata illa Billah dan Inna Lillahi wa Inna Ilayhi Rāji’ūn, tatkala amal Islami atau gerakan da�wah mengalami musibah yang menyedihkan (atau bahkan sangat menyedihkan)?
Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan keteledoran yang sangat menina bobokan, yang menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan daya upayanya (bagi perjuangan da�wah). Dan –alhamdulillah- sesungguhnya kita memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku (statis) dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat kepada ummat ini. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki ini dililit oleh berbagai ketidakberdayaan dan kelemahan. Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih adalah sebagaimana yang digambarkan dalam sya�ir:
يثقلون الأرض من كثرتهم ثم لا يغنون في أمر جلل
Jumlah mereka hanyalah sanggup untuk memberatkan bumi
Namun mereka tidak sanggup untuk memperjuangkan sesuatu yang agung
Atau dalam ungkapan lain:
و بعض الرجال نخلة لا جنى لها و لا ظل إلا أن تعد من النخل
Sebagian lelaki hanyalah bagaikan bongkahan pohon yang tiada berbuah
Dan juga tidak memiliki ranting, kecuali apabila berasal dari benih pohon yang unggul
Sumber daya hakiki yang dimiliki ummat bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung. Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan kehidupannya demi untuk mengayomi dan melindungi da�wah. Dan gambaran keindahan dari tipikal insan yang berdaya guna ini adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasulullah r adalah:
( من خير معاش الناس لهم رجل ممسك عنان فرسه في سبيل الله يطير على متنه، كلما سمع هيعة أو فزعة طار عليه ينبغي القتل أو الموت مظانه )
"Sebaik-baik penghidupan yang diupayakan oleh seorang manusia yang akan memberikan kebaikan baginya adalah keturunan yang berjiwa militan yang senantiasa bersiaga untuk memacu kudanya menuju medan laga di jalan Allah, yang manakala terdengar genderang perang atau gemerincing pedang di mana pilihan saat itu hanyalah membunuh atau terbunuh, maka diapun dengan sigap menyongsongnya" {HR. Muslim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa al-Ribāth (3/1503) No. 1889}
Dia adalah seorang kesatria yang telah menadzarkan dirinya untuk membela Allah I dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya. Renungkanlah bersama sabda Rasulullah r dalam ungkapan "...memacu kudanya...", dan ungkapan"...dengan sigap menyongsongnya".
Saat ini kita berada dalam suatu masa yang masing-masing kita dituntut untuk untuk berfikir "Apakah yang dapat kupersembahkan?", atau bahkan "Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan suatu (perjuangan) melebihi kemampuan yang ada?"!. Hal ini tidak akan mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan tekad dan semangat membara yang dilandasi kejujuran, sehingga dalam berbuat atau berproduksi dia senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya maupun dalam beramal secara kreatif, dan dan tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit lagi minim.
فـكن رجلا رجله في الثـرى و هـامـة هـمتـه فـي الـثريـا
Jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah
Namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit
Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan (ambisi) kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas. Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena dia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang berulang.
Dan sudah merupakan hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan (ambisi) dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya. Namun dia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi diapun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama. Alangkah indahnya ungkapan Syaykh al-Islam Ibnu Taimiyah yang berkata:
"Orang awam (yang memiliki ambisi dan tekad biasa-biasa saja) berkata: Harga diri seseorang ada pada apa yang dianggapnya indah, sedangkan orang khusus (yang memiliki ambisi dan tekad luar biasa) berkata: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealiskannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya)" {Dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Madārij al-Sālikīn 3/3 dan 148}
Hūth bin Riāb al-Asadiy berkata:
و مـن يتهيب صعود الجبـال يـعش أبـد الدهر بـيـن الـحفـر
Barangsiapa yang berhati kerdil tatkala mendaki gunung
Maka dia akan hidup dalam kubangan kekerdilan sepanjang hayatnya
دببت للمجد و الساعون قد بلغوا جـهد النـفوس و ألقوا دونه الأزرا
فكابروا المجد حنى مل أكثرهم و عانق المجد من أوفى و من صبرا
لا تـحسب المجد تمر أنت آكله لـن تـبلغ المجد حنى تلعق صبرا
Kucoba untuk merengkuh kemuliaan
Di saat orang lain tiada berkeinginan menggapainya
Mereka anggap kemuliaan sebagai kehinaan hingga kebanyakan mereka bermalas-malasan
Tiadalah sanggup untuk menggapai kemuliaan, kecuali seseorang yang mau bekerja keras dan mau bersabar
Jangan samakan kemuliaan dengan sebiji korma yang gampang kau telan
Dan tiadalah engkau dapat merengkuh kemuliaan, kecuali dengan membawa sayap kesabaran
Abū al-Qāsim al-Syābiy berkata:
إذا صغرت نفس الفتى كان شوقه صـغيرا فلم يتعب و لـم يـتجشم
و من كان جبارا المطامع لم يزل يـلاقي مـن الدنيا ضرارة قـشعم
Tatkala sang pemuda berhati kerdil, maka gelora ambisinyapun
terasa kerdil, sehingga diapun tidak ingin capai dan tidak mau pernah bersusah-payah
