Renungan Ke - 5

 DA’I  ISLAM

ANTARA MILITANSI DAN KEKERDILAN JIWA

 

 

Berbagai peristiwa di dunia Islam datang silih-berganti, suhu politik terus-menerus mengalami perubahan, dan pertempuran antara Islam dan kekufuranpun berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal-ihwal kaum muslimin hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah.

Shahwah Islāmiyyah (kebangkitan Islam) pada masa modern pun mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran ummat secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidak berdayaan dan kelemahan yang dialami pada masa-masa sebelumnya secara berkepanjangan. Dan ummat ini tidak akan sanggup untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan melalui usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan. Akan tetapi semuanya membutuhkan seluruh kemampuan dan upaya yang saling melengkapi lagi saling mendukung. Jika demikian keadaannya, maka amal Islami –dengan karunia Allah- akan dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri dan ketenteraman. Dan meskipun perjalanannya terasa berat karena banyaknya kerikil dan rintangan, akan tetapi suatu hari kelak, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya: "Apakah peran yang harus kupersembahkan dalam meniti perjalanan amal Islami ini?". "Dan apakah yang dapat kupersembahkan untuk agama ini?"

Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton, yang menyaksikan perjalanan shahwah Islāmiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih? Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan Lā Hawla wa Lā Quwwata illa Billah dan Inna Lillahi wa Inna Ilayhi Rāji’ūn, tatkala amal Islami atau gerakan da�wah mengalami musibah yang menyedihkan (atau bahkan sangat menyedihkan)?

Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan keteledoran yang sangat menina bobokan, yang menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan daya upayanya (bagi perjuangan da�wah). Dan –alhamdulillah- sesungguhnya kita memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku (statis) dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat kepada ummat ini. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki ini dililit oleh berbagai ketidakberdayaan dan kelemahan. Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih adalah sebagaimana yang digambarkan dalam sya�ir:

يثقلون الأرض من كثرتهم                    ثم لا يغنون في أمر جلل

Jumlah mereka hanyalah sanggup untuk memberatkan bumi

Namun mereka tidak sanggup untuk memperjuangkan sesuatu yang agung

Atau dalam ungkapan lain:

و بعض الرجال نخلة لا جنى لها             و لا ظل إلا أن تعد من النخل

Sebagian lelaki hanyalah bagaikan bongkahan pohon yang tiada berbuah

Dan juga tidak memiliki ranting, kecuali apabila berasal dari benih pohon yang unggul

Sumber daya hakiki yang dimiliki ummat bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung. Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan kehidupannya demi untuk mengayomi dan melindungi da�wah. Dan gambaran keindahan dari tipikal insan yang berdaya guna ini adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasulullah r adalah:

( من خير معاش الناس لهم رجل ممسك عنان فرسه في سبيل الله يطير على متنه، كلما سمع هيعة أو فزعة طار عليه ينبغي القتل أو الموت مظانه )

"Sebaik-baik penghidupan yang diupayakan oleh seorang manusia yang akan memberikan kebaikan baginya adalah keturunan yang berjiwa militan yang senantiasa bersiaga untuk memacu kudanya menuju medan laga di jalan Allah, yang manakala terdengar genderang perang atau gemerincing pedang di mana pilihan saat itu hanyalah membunuh atau terbunuh, maka diapun dengan sigap menyongsongnya" {HR. Muslim dalam Kitāb al-Imārah Bāb Fadhl al-Jihād wa al-Ribāth (3/1503) No. 1889}

Dia adalah seorang kesatria yang telah menadzarkan dirinya untuk membela Allah I dan senantiasa menyiapkan dirinya untuk berjuang di jalan-Nya, tiada satupun halangan yang sanggup menghadangnya. Renungkanlah bersama sabda Rasulullah r dalam ungkapan "...memacu kudanya...", dan ungkapan"...dengan sigap menyongsongnya".

Saat ini kita berada dalam suatu masa yang masing-masing kita dituntut untuk untuk berfikir "Apakah yang dapat kupersembahkan?", atau bahkan "Bagaimana aku sanggup untuk menghasilkan suatu (perjuangan) melebihi kemampuan yang ada?"!. Hal ini tidak akan mungkin dapat direalisasikan kecuali dengan tekad dan semangat membara yang dilandasi kejujuran, sehingga dalam berbuat atau berproduksi dia senantiasa berfikir jauh ke depan, baik dalam mempersembahkan andilnya maupun dalam beramal secara kreatif, dan dan tidak akan pernah rela untuk beramal dengan sedikit lagi minim.

فـكن رجلا رجله في الثـرى        و هـامـة هـمتـه فـي الـثريـا

Jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah

Namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit

Tidak ada satu halpun yang dapat membinasakan kemauan (ambisi) kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan diapun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas. Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena dia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang berulang.

Dan sudah merupakan hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan (ambisi) dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya. Namun dia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka dia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi diapun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama. Alangkah indahnya ungkapan Syaykh al-Islam Ibnu Taimiyah yang berkata:

"Orang awam (yang memiliki ambisi dan tekad biasa-biasa saja) berkata: Harga diri seseorang ada pada apa yang dianggapnya indah, sedangkan orang khusus (yang memiliki ambisi dan tekad luar biasa) berkata: Harga diri seseorang ada pada apa yang diidealiskannya (diperjuangkan atau dicita-citakannya)" {Dinukil oleh Ibnu al-Qayyim dalam Madārij al-Sālikīn 3/3 dan 148}

Hūth bin Riāb al-Asadiy berkata:

و مـن يتهيب صعود الجبـال                يـعش أبـد الدهر بـيـن الـحفـر

Barangsiapa yang berhati kerdil tatkala mendaki gunung

Maka dia akan hidup dalam kubangan kekerdilan sepanjang hayatnya

دببت للمجد و الساعون قد بلغوا               جـهد النـفوس و ألقوا دونه الأزرا

فكابروا المجد حنى مل أكثرهم                و عانق المجد من أوفى و من صبرا

لا تـحسب المجد تمر أنت آكله               لـن تـبلغ المجد حنى تلعق صبرا

Kucoba untuk merengkuh kemuliaan

Di saat orang lain tiada berkeinginan menggapainya

Mereka anggap kemuliaan sebagai kehinaan hingga kebanyakan mereka bermalas-malasan

Tiadalah sanggup untuk menggapai kemuliaan, kecuali seseorang yang mau bekerja keras dan mau bersabar

Jangan samakan kemuliaan dengan sebiji korma yang gampang kau telan

Dan tiadalah engkau dapat merengkuh kemuliaan, kecuali dengan membawa sayap kesabaran

Abū al-Qāsim al-Syābiy berkata:

إذا صغرت نفس الفتى كان شوقه              صـغيرا فلم يتعب و لـم يـتجشم

و من كان جبارا المطامع لم يزل             يـلاقي مـن الدنيا ضرارة قـشعم

Tatkala sang pemuda berhati kerdil, maka gelora ambisinyapun

      terasa kerdil, sehingga diapun tidak ingin capai dan tidak mau pernah bersusah-payah

 

Hadits No : 7

 

Keutamaan Salam dan Perintah Menyebarkannya

 

Hadits No : 7

 

 

عن عبد الله بن عمرو أن رجلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الإِسْلاَمِ خيرٌ ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لمَْ تَعْرِفُ  رواه البخاري

 

1.      Dari Abdullah bin Amru: "Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah : "Gerangan apa itu Islam yang paling baik? Beliau bersabda: "Kamu memberi makan dan mengucapkan salam pada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal" (HR Bukhari)

 

Perowi Hadits:

Dia dalah Abdullah bin Amru bin Ash Wa-il As Sahmy Al Qurosy bertemu dengan Nabi  pada garis kakeknya Ka’ab bin Luay, salah seorang golongan yang pertama-tama masuk Islam, meriwayatkan banyak hadits.

 

Makna Secara Umum:

Sesungguhnya Salam termasuk diantara nama-nama Allah Ta’ala. Ucapannya: Assalamualaikum artinya kalian berada dalam penjagaan Allah sebagaimana, "Allah bersama anda", "Allah menyertai anda". Dikatakan salam, artinya keselamatan yaitu "keselamatan Allah menyertai anda". Salam yang paling pendek mengucapkan Assalamualaikum (kesehateraan semoga terlimpahkan pada kalian) sekalipun orang yang disalami hanya satu namun mencangkup orang tersebut sekaligus malaikat yang menyertainya. Dan salam yang paling lengkap menambah warohmatullahi wabarakatuh. Jika yang disalami hanya seorang maka wajib ain menjawab salam. Dan jika yang disalami jamaah maka menjawab hukumnya fardhu kifayah bagi mereka.

 

Tuntunan-Tuntunan:

1.      Mengucapkan salam adalah sunnah sedang menjawabnya wajib

2.      Selamat pagi atau selamat sore bukanlah ucapan penghormatan yang disyariatkan dalam Islam.

3.      Disyariatkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak kenal

4.      Boleh menyampaikan salam dengan isyarat disertai mengucapkan salam (jika teman anda tidak mendengar)

5.      Memulai pembicaraan di pesawat telpon dengan salam

6.      Disyariatkan salam ketika meninggalkan majlis

7.      Anjuran memberi makan dan menyebarkan salam

 

Hadits ke :6

 Anjuran Untuk Jujur dan Peringatan dari Dusta

 

Hadits ke :6

 

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً  رواه مسلم .

 

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586

 

Perowi hadits:

Dia adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud salah seorang Assabiqun Al-awalaun (golongan yang pertama-tama masuk Islam), termasuk kalangan sahabat utama dan ahli fiqih, hafal dari Rasulullah saw 70 surat. Meninggal di Madinah tahun 32 H dalam usia 60 tahun

 

Makna Secara Umum:

Dalam hadits ini mengandung isyarat bahwa siapa yang berusaha untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta  dan berusaha untuk dusta maka dusta menjadi karakterya. Dengan latihan dan upaya untuk memperoleh, akan berlanjut sifat-sifat baik dan buruk. 

Hadits diatas menunjukkan agungnya perkara kejujuran dimana ujung-ujungnya akan membawa orang yang jujur ke jannah serta menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka.

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

1.    Kejujuran termasuk akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam.

2.    Diantara petunjuk Islam hendaknya perkataan orang sesuai dengan isi hatinya.

3.    Jujur merupakan sebaik-baik sarana keselamatan di dunia dan akhirat.

4.    Seorang mukmin yang bersifat jujur dicintai di sisi Allah Ta’ala dan di sisi manusia.

5.    Membimbing rekan lain bahwa jujur itu jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

6.    Menjawab secara jujur ketika ditanya pengajar tentang penyebab kurangnya melaksanakan kewajiban.

7.    Dusta merupakan sifat buruk yang dilarang Islam.

8.    Wajib menasihati orang yang mempunyai sifat dusta.

9.    Dusta merupakan jalan yang menyampaikan ke neraka.

 

Hadits ke 5

Diantara Etika Bersin 

Hadits : 5

 

[عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إِذاَ عَطِسَ أَحَدُكمْ فلْيَقُلْ الحمدُ للهِ وليَقُلْ أَخُوهُ أوْ صَاحِبهُ يرْحَمُكَ اللهُ فإذا قَالَ لهُ يَرْحَمُكَ اللهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحْ بَالَكُمْ ]رواه البخاري.

     Dari Abu Hurairah  dari Nabi, Beliau bersabda :  "Jika salah seorang dari kamu bersin hendaklah mengucapkan" : Al-Hamdulillah Hendaklah saudaranya atau temannya menjawab :Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu), dan jika saudaranya mengucapkan Yarhamukallah maka hendaklah ia mengucapkan : "Yahdikumullah wa yuslihu balakum, (Semoga Allah menunjukimu dan memperbaiki kondisimu)".  (HR. Bukhari)

 

Perawi Hadits.

Dia adalah Abdul Rahman bin Sakhr Ad-Dausy, masuk Islam pada tahun perang khaibar  7 H, senantiasa menyertai Rasulullah  karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

 

Makna Hadits Secara Global .

     Dalam hadits ini terdapat dalil akan agungnya ni’mat Allah atas orang yang bersin. Hal itu diambil dari kebaikan yang mengikutinya. Dalam hadits juga mengandung isyarat akan keagungan karunia Allah atas hamba-Nya dimana Allah menghilangkan bahaya dengan nikmat bersin ini, kemudian diperintahkan baginya untuk bertahmid yang diberikan pahala karena mengucapkannya. Kemudian mendoakan kebaikan bagi siapa yang menjawab setelah doanya dengan kebaikan baginya.

     Oleh karena bersin itu telah mendatangkan nikmat dan manfaat dari bersinnya dengan keluarnya udara yang tertahan di otak yang mana jika tetap berada di dalamnya akan dapat menimbulkan berbagai penyakit yang menyusahkan. Maka Allah mensyariatkan untuk bertahmid atas nikmat ini bersamaan anggota tubuhnya masih tetap pada posisinya setelah terjadi goncangan yang mana goncangan bagi tubuh tersebut layaknya goncangan gempa bagi bumi  .

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.     Melirihkan suara saat bersin sedapat mungkin.

2.     Menaruh tangan atau tissue di mulut saat bersin.

3.     Orang yang bersin mengucapkan "Al-Hamdulillah" ketika selesai bersin.

4.     Ucapan "Yarhamukallah" (semoga Allah mengasihimu) untuk orang yang bersin yang mengucapkan Hamdalah.

5.     Ucapan "Yahdikumullah wa yushlihu baalakum" (semoga Allah senantiasa menunjukimu dan memperbaiki kondisimu) bagi yang mengucapkan "Yarhamukallah".

6.     Anjuran untuk mendoakan orang yang bersin yang mana akan didapatkan rasa cinta dan persatuan diantara kaum muslimin.

 

Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua

 WASIAT BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA TATKALA KEDUANYA BERUSIA LANJUT



Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan ’uh’ serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.

Pada ayat ini Allah mengatakan ’kibara’, kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan ’indaka’ berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :

Pertama
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.

Kedua
Semakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan ’Si Anak’ merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan ’ah’ atau membentak atau dengan ucapan, "Orang tua ini menyusahkan", atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu :

"Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam beliau bersabda, "Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga" [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Kemudian hadits berikut ini :

"Artinya : Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata ’Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : ’Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin! maka kukatakan, ’Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ’Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!, maka aku berkata : "Amin". Kemudian Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berkata lagi. "Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin! maka kukatakan, "Amin". [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma’uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka’ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]

Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang masih berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.

Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja. Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25 tahun.

Ketika orang tua mengurusi kita, dia mendo’akan agar si anak hidup dengan baik dan menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do’akan supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Bagaimanapun keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh, kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita, bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid’ah, kita wajib mendakwahkan kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do’akan supaya mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik, berbuat kasar atau pun yang lainnya.


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua]

Jangan Berhias ...!!!

 

Jangan berhias terlalu berlebihan

 

Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita  sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.

Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita muslimah, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

 

Kami dengar dan kami taat

 

Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah Nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan.

Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya:

} وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47) وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) {

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.”                  (Q.S. An-Nur: 47-48)

Firman Allah yang lain:

} إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52) {

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.”         (Q.S. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan beriman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah SAW dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

 

 

          Sholawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

 

Posted in Hijab. 0 Comment »

Akibat dan bahaya Tabarruj

 Akibat dan bahaya Tabarruj

yang menakutkan

 

Wanita-wanita yang melakukan Tabarruj berlomba-lomba menggunakan perhiasan yang diharamkan untuk menarik perhatian kepadanya. Sesuatu yang justru akan merusak akhlak dan harta serta menjadikan wanita sebagai barang hina yang diperjualbelikan, dan di antara bahayanya adalah:

1.Rusaknya akhlak kaum lelaki khususnya para pemuda yang terdorong melakukan zina yang diharamkan.

2.Memperdagangkan wanita sebagai sarana promosi atau untuk meningkatkan usaha perdagangan dan sebagainya.

3.Mencelakan diri wanita sendiri, karena Tabarruj itu menunjukkan niat jelek dari apa yang ia suguhkan untuk menggoda orang-orang jahat dan bodoh.

4.Tersebarnya penyakit, seperti sabda Rasulullah SAW:

(( لَمْ تَظْهَرِ الفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا ))

“Tidaklah suatu perbuatan zina itu nampak pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu.”

5.Mempermudah mata melakukan maksiat, Rasulullah SAW bersabda: “Kedua mata zinanya adalah melihat.” Serta menyulitkan ketaatan ghadhul bashar (menundukkan pandangan) yang merupakan sesuatu yang lebih berbahaya dari ledakan bom atom dan gempa bumi. Allah SWT berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (Q.S. Al-Isra’: 16)

   Dalam hadits juga disebutkan:

     ((إنَّ النَّاسَ إذَا رَأَوْا المُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ أوْشَكَ أنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ))

“Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan mereka adzab.”

Wahai ukhti muslimah! Tidakkah anda memperhatikan hadits Nabi SAW: “Buanglah duri dari jalan kaum muslimin.” Dan bila membuang duri dari jalan termasuk cabang iman, maka duri manakah yang lebih berat, batu di jalan atau fitnah yang merusak hati, menerbangkan akal dan menyebarkan kekejian di antara orang-orang mu’min.

Sesungguhnya tidaklah seorang lelaki muslim terkena fitnah pada hari ini karena anda yang telah memalingkannya dari mengingat Allah dan menghalanginya dari jalan yang lurus -padahal anda sanggup mencegahnya dari fitnah itu- kecuali di hari esok nanti Allah akan menghukum anda dengan adzab yang sangat pedih.

Segeralah taat kepada Allah, tinggalkan kritikan dan ejekan manusia, karena perhitungan Allah kelak sangat ketat.

 

 

Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:

1.Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rojih.

2.Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.

3.Tebal dan tidak tipis atau trasparan.

4.Longgar dan tidak sempit atau ketat.

5.Tidak memakai wangi-wangian.

6.Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.

7.Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

8.Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

 

Posted in Hijab. 0 Comment »

Memamerkan Aurat

 Keburukan Tabarruj (memamerkan aurat)

 

  ·  Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul.

 

Barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikitpun.

Rasulullah SAW bersabda:

((كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إلاَّ مَنْ أبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى))

“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang menolak” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah orang yang menolak itu? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah menolak.”

 

  ·  Tabarruj menyebabkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

 

Rasulullah SAW bersabda:

((سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ، عَلَى رُؤُوسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ البَخْتِ ، اِلْعَنُوهُنَّ فَإنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ))

“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka bagaikan punuk unta, laknatlah mereka karena mereka  adalah wanita-wanita yang  pantas dilaknat.”

Posted in Hijab. 0 Comment »

نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ

Banyak orang menyadari bahwa hidup dunia sangat singkat dan bersifat sementara. Namun kesadaran ini kebanyakan tidak diikuti dengan perilaku yang menghargai waktu. Alhasil, waktu sering terbuang percuma tanpa kita sadari. 


Ketahuilah, wahai saudariku muslimah…! Waktu, bagi seorang muslim yang menyadari betapa berharganya tujuan hidupnya di dunia, tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja dengan sia-sia. Ia tidak mengatakan seperti perkataan orang Barat materialis yang cinta dunia, time is money. Tapi ia mengatakan “waktu itu untuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Umur kita pendek, waktu kita cuma sedikit, sementara kita harus mempersiapkan bekal yang banyak untuk menempuh perjalanan menuju kampung akhirat, bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 
Barangkali kita semua menyadari bahwa waktu hidup kita di dunia memang hanya sebentar, tidak ada yang hidup kekal. Namun entah mengapa kebanyakan dari kita tidak bisa menjaga waktu dengan baik sehingga waktu berlalu sia-sia tanpa diisi dengan amal kebaikan.
Saudariku…! Di antara waktu-waktu yang kita miliki, ada waktu lapang, waktu senggang, atau waktu yang kosong dari kesibukan. Dan waktu luang ini merupakan kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti digunakan sebaik-baiknya sebagai tanda syukur kepada-Nya. Namun kenyataannya, kebanyakan dari kita lalai akan nikmat ini sehingga kita pun merugi. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menyatakan dalam sabdanya yang agung:



نِعْمَتاَنِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِماَ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ


“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi (terhalang dari mendapat kebaikan dan pahala) di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)

Memamerkan Aurat

 Keburukan Tabarruj (memamerkan aurat)

 

  ·  Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul.

 

Barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikitpun.

Rasulullah SAW bersabda:

((كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إلاَّ مَنْ أبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى))

“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang menolak” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah orang yang menolak itu? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah menolak.”

 

  ·  Tabarruj menyebabkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

 

Rasulullah SAW bersabda:

((سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ، عَلَى رُؤُوسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ البَخْتِ ، اِلْعَنُوهُنَّ فَإنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ))

“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka bagaikan punuk unta, laknatlah mereka karena mereka  adalah wanita-wanita yang  pantas dilaknat.”

 

  ·  Tabarruj adalah sifat penghuni neraka.

 

Rasulullah SAW bersabda:

((صِنْفَانِ مِنْ أهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ... ))

Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat; kaum yang membawa cemeti bagai ekor sapi yang digunakan memukul menusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang...”

 

  ·  Tabarruj penyebab hitam dan gelap di hari kiamat.

 

Diriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda:

((مَثَلُ الرَّافِلَةِ في الزِّينَةِ في غَيْرِ أهْلِهَا ، كَمَثَلِ ظُلْمَةٍ يَوْمَ القِيَامَةِ لاَ نُورَ لهَا))

“Permisalan wanita yang berhias untuk selain suaminya, adalah bagaikan kegelapan pada hari kiamat, tidak ada cahaya baginya.”

Maksudnya adalah wanita yang berlenggak-lenggok ketika berjalan dengan menarik pakaiannya, akan datang pada hari kiamat dalam keadaan hitam dan gelap, bagaikan berlenggak-lenggok dalam kegelapan. Dan hadits ini walaupun lemah, tetapi artinya benar, karena kenikmatan dalam maksiat adalah siksaan, wangi-wangian akan menjadi busuk dan cahaya menjadi kegelapan. Kebalikan dari taat, bahwa bau mulut orang yang berpuasa dan darah orang yang mati syahid lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi.

  ·  Tabarruj adalah kemunafikan.

 

Rasulullah SAW bersabda:

((خَيْرُ نِسَائِكُمُ الوَدُودُ الوَلُودُ ، المُوَاسِيَةُ ، المُوَاتِيَةُ ، إذَا اتَّقَيْنَ اللهَ، وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ))       

“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang memiliki kasih sayang, subur (banyak anak), suka menghibur dan siap melayani, bila mereka bertakwa kepada Allah. Dan sejelek-jelek wanita kalian adalah wanita pesolek dan penghayal mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurab a’sham.”

Yang dimaksud ghurab a’sham adalah burung gagak yang memiliki cakar dan kaki merah, pertanda minimnya wanita masuk surga, karena burung gagak yang memiliki sifat  seperti ini sangat jarang ditemukan.

 

  ·  Tabarruj mengoyak tirai pelindung dan membuka aib.

 

Rasulullah SAW bersabda:

((أيَّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا، فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ))

“Siapa saja di antara wanita yang menanggalkan pakaian-nya di selain rumah suaminya, maka ia telah mengoyak tirai pelindung antara dirinya dan Allah Azza wa Jalla.”

 

  ·  Tabarruj adalah perbuatan keji.

 

Wanita itu adalah aurat, dan membuka aurat adalah keji dan dibenci. Allah SAW berfirman:

} وَإذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إنَّ اللهَ لاَ يَأْمُرُ بِالفَحْشَاءِ {

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakan-nya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.”       

Sebenarnya setanlah yang memerintahkan manusia melakukan perbuatan keji itu, sebagaimana firman Allah:

} الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ {

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (Q.S. Al-Baqorah: 268)

 

  ·  Tabarruj adalah ajaran iblis.

 

Sesungguhnya kisah Adam dengan Iblis memberikan gambaran kepada kita bagaimana musuh Allah, Iblis membuka peluang untuk melakukan perbuatan dosa dan mengoyak tirai pelindung dan bahwa Tabarruj itulah tujuan asasi baginya. Allah SWT berfirman:

} يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا {

“Hai anak Adam! Janganlah kamu sekali-kali dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.”                                          (Q.S. Al-A’raf: 27)

Jadi iblislah yang mengajak kepada Tabarruj dan membuka aurat mereka. Dialah pemimpin utama bagi para pencetus apa yang dikenal dengan istilah Tahrirul Mar’ah (pembebasan wanita).

 

  ·  Tabarruj adalah jalan hidup orang-orang Yahudi.

 

Orang-orang Yahudi memiliki peran yang sangat besar dalam menghancurkan umat ini melalui wanita, dan kaum wanita sejak dulu memiliki pengalaman di bidang ini, di mana Rasulullah SAW bersabda:

((فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ ، فَإنَّ أوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسْرَائِيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ))

“Takutlah pada dunia dan takutlah pada wanita karena fitnah pertama pada Bani Israel adalah pada wanita.”

 

  ·  Tabarruj adalah Jahiliyah busuk.

 

Allah SWT berfirman:

} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى {

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.”                                (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Nabi SAW telah menyifati ajakan Jahiliyah sebagai ajakan busuk dan kotor. Jadi ajakan Jahiliyah adalah saudara kandung Tabarruj Jahiliyah. Rasulullah SAW bersabda:

((كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أمْرِ الجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ تَحْتَ قَدَمِي))

“Semua yang merupakan perkara Jahiliyah tersimpan di bawah telapak kakiku.”

Baik itu bernama Tabarruj Jahiliyah, ajakan Jahiliyah ataupun kesombongan Jahiliyah.

 

  ·  Tabarruj adalah keterbelakangan.

 

Memamerkan aurat dan telanjang adalah perilaku binatang,  tidak seorangpun yang condong kepadanya kecuali dia akan terperosok jatuh ke derajat yang paling rendah dari pada derajat manusia yang telah dimuliakan Allah. Dari sini nampaklah bahwa Tabarruj adalah tanda kerusakan fitrah, ketiadaan ghirah dan mati rasa:

Anda mengangkat baju hingga lutut

Demi Tuhanmu, sungai apa yang akan anda seberangi

Baju itu bagaikan naungan di waktu pagi

Yang semakin pendek, waktu demi waktu

Anda mengira bahwa laki-laki itu tidak memiliki perasaan

Padahal anda sendiri yang mungkin tidak punya perasaan

 

  ·  Tabarruj adalah pintu adzab yang merata.

 

Seseorang yang memperhatikan nash-nash syare’at dan sejarah (Islam) akan meyakini adanya kerusakan yang ditimbulkan oleh Tabarruj dan bahayanya atas agama dan dunia, apalagi bila diperparah dengan Ikhtilath (percampurbauran antara laki-laki dan wanita).

 

Posted in Hijab. 0 Comment »

Keutamaan

 Keutamaan Hijab

 

   ·   Hijab itu adalah merupakan  ketaatan kepada Allah dan Rasul.

 

Allah SWT telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah SWT:

} وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا {

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.”                     (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Allah SWT juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah SWT:

} وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا {

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”  (Q.S An-Nur: 31)

Allah SWT berfirman:

} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى {

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.”                                (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Allah SWT berfirman:

} وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ {

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”    (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah SWT berfirman:

} يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ {

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”    (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah SAW bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa wanita harus menutupi tubuhnya.

 

  ·  Hijab itu ‘iffah

 

Allah SWT menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).

Allah SWT berfirman:

} ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ {

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”         (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan buruk (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

 

   ·   Hijab itu kesucian

 

Allah SWT berfirman:

} وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ {

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”    (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah SWT menyifati hijab sebagai simbol kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah SWT berfirman:

} فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ {

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.”  (Q.S. Al-Ahzab: 32)

 

  ·  Hijab itu pelindung

 

Rasulullah SAW bersabda:

((إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ))

“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”

Sabda beliau yang lain:

(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))

“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

 

  ·  Hijab itu taqwa

 

Allah SWT berfirman:

} ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ {

“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.”                         (Q.S. Al-A’raaf: 26)

 

   ·   Hijab itu iman

 

Allah SWT tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah SWT juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

 

   ·   Hijab itu haya’ (rasa malu)

 

Rasulullah SAW bersabda:

((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”

Sabda beliau yang lain:

“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”

Sabda Rasul yang lain:

((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

 

 

  ·  Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

 

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

 

Posted in Hijab. 0 Comment »

Nasehat Untuk Para Wanita

KU NASEHATKAN UNTUKMU PARA WANITA

 

Akhirnya, saya persembahkan 11 nasehat yang

berharga ini kepadamu, wahai Ukhti Al Muslimah.

Kerjakanlah, Insya Allah engkau akan berbahagia di

dunia dan akhirat, minta tolonglah kepada Allah

dalam mengamalkannya, kemudian dengan membaca

dan memahami isi tulisan ini.

 

1-Beribadahlah kepada Allah semata, sesuai dengan

apa yang telah diisyaratkan, di dalam Al Qur’an dan Al

hadits.

 

2-Hati-hatilah terhadap syirik dalam aqidah dan

ibadah, sebab syirik menggugurkan amal dan

menyebabkan kerugian.

 

3-Hati-hatilah terhadap bid’ah, baik dalam aqidah

maupun dalam ibadah, sebab setiap bid’ah adalah

sesat dan orang-orang yang sesat adalah (tempatnya)

di dalam neraka.

 

4-Jagalah shalatmu dengan sempurna, sebab orang

yang selalu menjaga shalatnya, ia akan lebih menjaga

dalam hal lainnya, dan orang yang meremehkan

shalat, ia akan meremehkan hal lainnya juga.

Jagalah kesucian, thuma’ninah, I’tidal, serta khusyu

dalam shalat, janganlah sampai engkau mengakhirkan

waktunya, sebab seorang hamba bila shalatnya baik,

maka seluruh amal perbuatannya baik, sebaliknya bila

shalatnya rusak (tidak baik) maka amal perbuatannya

juga rusak (tidak baik).

 

5-Taatilah suamimu, jika engkau sudah berumah

tangga, jangan sekali-kali engkau menolak

keinginannya, dan melanggar perintahnya, selama

tidak menyuruh berbuat maksiat dan dosa.

 

6-Jagalah suamimu jika dia tidak ada bersamamu

dan ketika ia berada disisimu. Jagalah dirimu dan

hartanya.

 

7-Berbuat baiklah kepada tetanggamu dengan

perkataan dan perbuatan sebagai balas budi dan

menolak keburukan.

 

8-Menetaplah di rumahmu, jangan keluar kecuali

dalam keadaan darurat, dan menutup aurat (berjilbab).

 

9-Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu

dengan perkataan dan perbuatan selama mereka

menyuruhmu dalam kebaikan, jika mereka

menyuruhmu berbuat maksiat, maka tidak boleh taat

kepadanya, sebab tidak ada ketaatan dalam maksiat

kepada Allah.

 

10-Curahkan perhatianmu terhadap pendidikan

anakmu, jika engkau sudah mempunyai anak, dengan

membiasakan mereka jujur, bersih, benar dalam

perkataan dan perbuatan, serta dengan mengajarkan

kepada mereka adab yang tinggi /mulia dan akhlak

yang terpuji. Suruhlah mereka shalat lima waktu bila sudah

berusia 7 tahun, dan bila mereka meninggalkannya

pada usia 10 tahun, maka pukullah mereka serta

pisahkan tempat tidurnya (antara laki-laki dan

perempuan).

 

11-Perbanyaklah dzikir dan sedekah/infak.

Semoga Allah menjagamu dari setiap kejahatan

dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.

Segala puji bagi Allah pada awal dan akhir serta

shalawat dan berkah kepada Nabi Muhammad,

keluarga, para shahabat dan pengikutnya sampai hari

kiamat tiba.

 

Renungan Ke - 4

 RIWAYAT SANG PENGGENGGAM BARA API

 

RENUNGAN KE - 4:

 

 

Saat pertama aku mengenalnya, kudapati jiwanya adalah jiwa yang lain, penuh gelora hidup untuk dapat memberikan andil perjuangan, sigap untuk selalu menyongsong beragam ketaatan, selalu dihinggapi semangat hidup dan semangat juang, serta lebih banyak berbuat namun sedikit bicaranya. Maka pantaslah dia menjadi sang panutan dalam kepribadian dan dalam dakwah. Tatkala diperintahkan untuk berjaga di barisan belakang perjuangan, dengan sigap dia bersegera berbaur ke belakang. Dan tatkala diperintahkan untuk berjaga di front terdepan, maka secepat kilat diapun telah berada di garda terdepan dalam perjuangan.

 

Setelah bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, maka aku menyangka bahwa kepribadiannya pastilah telah berubah oleh berbagai fitnah kehidupan, atau bisa jadi jiwanya semakin lembut, semangatnya semakinn redup, atau paling minimal adalah bahwa perjuangan dan tekadnya mulai luntur. Sesungguhnya Allah  akan senantiasa meneguhkan para wali-Nya yang shalih dengan kekokohan hati dan membantunya untuk dapat mengentaskan berbagai kesulitan dan rintangan. Dan bukankah angin topanpun tidak sanggup untuk menghantam gunung yang tegar ataupun pohon yang kokoh? Dan bukankah Rasulullah  telah bersabda:

 

( مثل المؤمن كمثل الخامة من الزرع: من حيث أتتها الريح كفأتها، فإذا اعتدلت تكفأ بالبلاء )

"Perumpamaan seorang mukmin adalah bagaikan sebuah pohon yang kokoh, yaitu tatkala angin berhembus kencang maka dia berusaha keras menghadangnya agar tetap tegar, dan tatkala angin berhembus sepoi-sepoi, maka diapun tetap dalam ketegarannya" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Mardha Bab Ma Jaa fi Kafarah al-Maradh (10/103) No. 5644}

 

Mungkin saja berbagai fitnah kehidupan sanggup untuk mengikiskan bagian kehidupan duniawinya, baik harta-benda maupun anggota badannya, akan tetapi sesungguhnya apapun yang ada di dunia ini, maka tidak akan sanggup untuk menggoda dan menggelincirkan kaum mukminin. Dan tidak akan pernah sedikitpun sanggup melumpuhkan tekadnya, meskipun hidup dalam deraan derita dan kemiskinan, kesempitan dan penderitaan, karena jiwanya adalah jiwa seorang kesatria pejuang, tekad perjuangannya senantiasa bergelora, dan hatinya senantiasa tunduk patuh kepada Rabbnya dengan penuh sakīnah dan thuma’nīnah.

 

تزول الجبال الراسيات و قلبه                          على العهد لا يلوي و لا يتغير

 

Bisa jadi gunung tinggipun hancur berantakan, namun hati seorang pejuang

Tiada pernah akan bergeming dan berubah untuk senantiasa memegang teguh janji setianya

Belum pernahkah kita menyaksikan seorang kesatria pejuang dari generasi pertama yang pada suatu saat ditikam musuh dan bersiap hendak meregang nyawa, namun di detik terakhir tersebut dia masih lantang berseru dengan penuh kemenangan dan senyum: "Demi Allah, hari ini akulah sang pemenang". Dan ternyata kisah heroik ini tidak hanya menjadi milik generasi para shahabat, bahkan dalam setiap generasi kaum muslimin akan senantiasa ada epos kepahlawanan yang mempesona seperti ini, yang memancarkan pesona kebaikan dan keagungan sebagai seorang martir, sehingga kisahnya senantiasa menjadi buah bibir dan keteladanan dalam memegang teguh dan memperjuangkan panji kebenaran.

 

Banyak sekali orang-orang yang sanggup untuk merengkuh kebenaran, namun sangat sedikit sekali di antara mereka yang mampu untuk berkata lantang, tegar dan sabar dalam memperjuangkan kebenaran tersebut. Dan yang sedikit inilah yang sanggup untuk merubah perjalanan sejarah dan mereformasi realita ummat yang menyedihkan.

 

Alangkah menawannya ungkapan al-Rāfi�iy yang berkata:

"Hanya bimbingan pahlawan berpengalaman yang berhati kesatrialah yang sanggup untuk menggelorakan keberanian para pemuda, dan hal ini tidak akan dapat terjadi kecuali melalui pembinaan yang ditujukan untuk memupuk keperwiraan ummat" {Majallah al-Risalah vol. 94, Muharram 1354}

 

Kalau kita renungkan dengan seksama tentang hal-ihwal dan kondisi kaum muslimin, tentunya kita akan mendapati bahwa kebanyakan mereka secara umum adalah orang-orang yang tidak memiliki andil untuk menyebarkan dakwah dan mengangkat panji perjuangannya. Tekad mereka nyaris tiada berdetak, dan bahkan tidak pernah memberikan perhatian sedikitpun. Perasaan mereka tidak tersentuh sedikitpun tatkala menyaksikan kehormatan agama diinjak-injak dan dinodai para durjana. Dada mereka tidak pernah merasa sesak tatkala panji tauhid dicabik-cabik. Karena ambisi mereka hanyalah kehidupan dunia yang bersifat fatamorgana lagi fana. Di belahan dunia yang lain, kitapun melihat sekelompok kesatria yang dengan sigap mengangkat panji tauhid dengan penuh keyakinan dan kemantapan ilmu. Mereka siap mengorbankan harta, keluarga dan bahkan jiwa mereka sendiri demi tegaknya panji tauhid. Cacian dan celaan yang menghujani mereka tiada sedikitpun menyurutkan langkah. Kita jumpai mereka senantiasa ruku’ dan sujud seraya berharap akan karunia dan keridhaan Allah. Itulah sekelompok insan yang telah mengenggam kedudukan agung, sedangkan selain mereka hanyalah beroleh "kedudukan sisa". Salah satu hikmah Allah  yang pasti adalah bahwa sarana yang dapat menghantarkan kepada kedudukan tersebut merupakan jalan terjal yang teramat sulit. Karena kalau seandainya jalannya mudah, tentulah akan banyak insan-insan lain yang sanggup menjadi para prajuritnya, bahkan mungkin secara berbondong-bondong. Maha benarlah Allah yang telah berfirman:

 

} لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَ سَفَرًا قَاصِدًا لاتَّبَعُوكَ وَ لَكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَ سَيَحْلِفُونَ بِاللهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَ اللهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ {

 

"Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu, keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samam". Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta" {QS. al-Tawbah (9): 42}

 

Hak Ibu

HAK IBU LEBIH BESAR DARI PADA HAK AYAH 


Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Taalaa berfirman :

"Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ? Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Ibumu! Orang tersebut kembali bertanya, Kemudian siapa lagi ? Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Ibumu! Ia bertanya lagi, Kemudian siapa lagi?Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Ibumu!, Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Bapakmu[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. 

Padahal Allah telah melarangmu berkata ah dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :

Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya.

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, Itu belum bisa membalas. Kemudian juga beberapa riwayat disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu  [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Masud, Lihat Irwaul Ghalil 838]


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua]  

 

Hadits no : 4

 Diantara Etika Makan dan Minum.

 

Hadits no : 4

 

[ عن عمر بن سلمة قال : كُنْتُ فيِ حِجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فيِ الصَحْفَةِ ، فَقَالَ ليِ : يَا غُلاَم سَمِّ اللهِ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ]. رواه مسلم

    

Dari Umar bin Abi Salamah berkata : “ Dulu aku berada dalam didikan Rasulullah, adalah tanganku berpindah-pindah pada piring makan. Maka beliau bersabda padaku : “ Wahai anak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang di dekatmu (HR. Muslim)

 

Perawi  Hadits :

     Dia adalah Umar bin Abi Salamah yang dididik di rumah Rasulullah, dilahirkan pada tahun kedua hijrah, dan pernah diangkat Ali bin Abi Thalib untuk  memerintah di Bahrain. Wafat di Madinah tahun 83 H.

 

 

Makna Hadits secara umum

     Dalam hadits ini terdapat petunjuk agar menyebut Nama Allah sebelum makan dan dengan tangan kanan dan menunjukkan akan haramnya makan dan minum dengan tangan kiri. Karena hal itu perbuatan dan perilaku syetan. Sedangkan seorang Muslim diperintahkan untuk menjahui cara-cara orang-orang yang fasik lebih-lebih dari syetan. Nafi’ telah memberikan tambahan : dalam hal mengambil  dan memberi. Demikian pula seorang muslim hendaknya makan dari makanan yang terdekat darinya.

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.     Disyariatkan menyebut nama Allah sebelum memulai makan.

2.     Jika lupa untuk mengucapkan basmalah di awalnya hendaklah mengucapkan “Dengan nama Allah di awalnya dan akhirnya”.

3.     Jika anda makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanan juga.

4.     Mengucapkan “ Al-Hamdulillah “ setelah selesai dari makan dan minum.

5.     Jika anda duduk untuk makan, maka makanlah yang dekat dari anda.

 

Renungan Ke - 3:

SIAPAKAH YANG BERSEDIA  MENGEMBAN PANJI TAUHID INI?

 

Tatkala menyaksikan realita penuh nestapa lagi memilukan yang menimpa sebagian kaum muslimin, tentunya hati seorang mukmin akan merasakan suatu kepedihan dan keputus-asaan.

 

Bahkan hatinya akan semakin pilu manakala dia menyaksikan bahwa ternyata mereka adalah sekelompok pribadi yang mudah sekali diombang-ambingkan oleh perbuatan bid’ah dan syirik.

 

Yang mereka perbuat hanyalah mengumandangkan wirid-wirid bid’ah dan senandung puja-puji syirik sambil melenggak-lenggokkan kepala, terlebih lagi apabila diiringi gemerincing rebana, mereka tatkala memperingati malam-malam maulid.

 

Ternyata, hal ini dikerjakan secara komunal dan berjama’ah, sehingga gemanya saling bersahutan, bagaikan air bah yang menerjang deras. Mereka keramatkan kuburan-kuburan dan beristighātsah kepadanya, mengusap wajah-wajah mereka dengan tanahnya sambil berguling-guling dan memegang tirai atau kelambu kuburan tersebut. Bahkan terdengar pula teriakan nyaring saling bersahutan yang meluncur deras lagi keras dari mulut mereka, baik laki-laki maupun perempuan, yaitu teriakan kotor: “Wahai fulan, berilah kami pertolongan…Wahai fulan, berilah kami rezeki…”!!!

 

Terkadang di antara mereka ada yang sampai harus menempuh perrjalanan jauh selama berhari-hari dan dengan menahan rasa penat yang tidak sedikit, tiada lain hanya untuk menepati nadzar mereka untuk menyembelih hewan di hadapan suatu kuburan keramat, seraya berharap mendapatkan pahala dan berkah, serta berharap memperoleh bantuan dan pertolongan.

 

Subhānallah!...Sampai begini parahkah gambaran Islam yang ada dalam benak orang-orang sesat tersebut? Sesungguhny hal inil merupakan salah satu hasil penjajahan (atau bualan) yang dilakukan oleh kaum Darwisy (pemuka Sufi) dengan beragam kesyirikan yang mereka jajakan sebagai barang dagangan yang ditujukan kepada mayoritas kaum muslimin. Dan betapa mengenaskannya kenyataan ini apabila kita analogikan dengan gambaran kehidupan jahiliyyah pada generasi sebelumnya.

 

Maka, bagaimana mungkin kita dapat merasakan nikmatnya makan dan minum, sementara kita masih terus menyaksikan khurafat ini banyak dipamerkan oleh kebanyakan kaum muslimin yang awam?

 

Dan masih mungkinkah bagi kita untuk merasakan kenikmatan hidup, sementara kesesatan ini masih terus menghinggapi hati-hati mereka, yang merupakan wujud persekongkolan jahat kaum Darwisy, para ahli khurafat dan para durjana penyebar kerusakan?

 

Sesungguhnya kaum muslimin (saudara kita) yang banyak terjatuh dalam perbuatan ini adalah amanat (dakwah) yang diembankan kepada kita, maka di manakah para ulama …serta di manakah para dai dan reformis dawah, baik di bumi belahan barat maupun belahan timur?

 

Apa sajakah yang telah kita korbankan untuk memaparkan dan menjelaskan secara gamblang misi utama agama ini, yaitu menegakkan panji tauhid dan syahadat?

 

Sesungguhnya panji tauhid adalah panji utama yang diperjuangkan oleh para nabi, sebagaimana Allah I berfirman:

 

} وَ مَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ {

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" {QS. al-Anbiya (21): 25}

 

Dan panji ini merupakan wasiat yang diestafetkan Rasulullah r kepada Muadz bin Jabal ketika diutus menjadi duta dawah ke Yaman, yaitu untuk memulai dakwahnya dari perkara yang paling penting hingga yang penting berikutnya, di mana beliau bersabda:

 

( إنك ستأتي قوما من أهل الكتاب، فإذا جئتهم فادعهم إلى أن يشهدوا أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله، فإن هم أطاعوك لك بذلك فأخبرهم أن الله قد فرض عليهم خمس صلوات في كل يوم و ليلة... )

"Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, oleh karena itu ketika engkau berada di hadapan mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi dengan Lā Ilāha Illallah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah. Dan apabila mereka menyambut ajakanmu tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka tentang perintah Allah, yaitu kewajiban mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari-semalam…" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Zakah Bab Wujub al-Zakah (3/261) No. 1395, dan Muslim dalam Kitab al-Iman, Bab al-Dua ila al-Syahadatayn (1/50) No. 19}

 

 

Dan bahkan meskipun di saat sedang meregang nyawa menghadapi sakaratul maut, beliau tetap mengobarkan panji tauhid tersebut, yaitu dengan memperingatkan ummatnya tentang bahaya perbuatan syirik, di mana beliau bersabda:

 

( لعنة الله على اليهود و النصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد )

"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabinya sebagai masjid (keramaian, tempat ibadah atau wisata religius)" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi Bab Maradh al-Nabiy  (8/140) No. 4445, dan Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi al-Shalah Bab al-Nahyi  an Binai al-Masajid  ala al-Qubur (1/377) No. 531}

 

Alangkah berharapnya ummat ini terhadap wasiat seperti ini? Dan alangkah berharapnya ummat ini untuk dapat memegang teguh wasiat ini dengan seoptimal mungkin? Hal ini tiada lain dikarenakan keuniversalan dan keagungan misi tauhid merupakan titik tolak utama dari perjalanan sebuah dawah, dan merupakan tanggung jawab dawah paling asasi yang harus diberikan porsi yang sangat memadai.

 

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berduka cita dengan sangat mendalam, manakala dia merasakan bahwa misi utama kehidupannya hanyalah menyibukkan diri dari hal yang kurang utama, atau bahkan malahan dengan melalaikan hal yang utama, atau ketika hidupnya hanya berputar dari satu logika filsafat mantiq menuju logika lainnya, dan bahkan dengan melalaikan misi tauhid!

 

Sebaliknya, terkadang kitapun menjumpai sekelompok dai yang memiliki kesensitifan dawah dan kesungguhan untuk mengemban misi tauhid, namun mereka melakukan beberapa kesalahan, yaitu keinginan meniti jalan tauhid namun dengan membuat orang lain berpaling dan lari dari dakwahnya tersebut. Maka. alangkah nikmatnya apabila kita dapat menyandingkan dua hal yang berbeda sebagaimana gambaran tersebut di atas, yaitu meniti kemurnian manhaj (berupa misi tauhid) dan memiliki kecakapan dalam mempergunakan sarana (dengan tidak membuat orang lain berpaling)! Lalu, siapakah yang bersedia mengemban misi tauhid ini???

 

 

Hadits no : 3

Haramnya Saling Membenci dan Hasad

 

Hadits no : 3

 

[عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ]  متفق عليه .

1.           dari Anas bin Malik t bahwasanya Rasulullah e bersabda: “ Janganlah kalian saling membenci, saling hasad (dengki), saling membelakangi. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak dihalalkan bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari” (Muttafaq Alaih)

 

Perawi Hadits

     Dia adalah Anas bin Malik Al Anshori pembantu Rasulullah  meriwayatkan banyak hadits dan meninggal pada tahun 92 H

 

Makna Hadits Secara Umum

     Pada hadits ini Rasulull membimbing kita kepada perkara yang mengharuskan kita menjadi bersaudara, saling mencintai, bersatu hati serta saling berinteraksi antara kita dengan interaksi baik secara Islami, yang menunjukkan kita kepada akhlaq mulia dan menjauhkan kita dari keburukannya. Menghilangkan dari hati kita perasaan hasad dan benci serta menjadikan hubungan (muamalah) kita hubungan secara Islam yang mulia.

 

     Hadits tersebut juga menunjukan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan dalam Islam lebih kuat daripada ikatan nasab dan darah karena landasannya adalah iman kepada Allah. Maka tidak boleh bagi seorang muslim menjauhi saudaranya atau berpaling darinya lebih dari tiga hari selama hal itu tidak terdapat sebab yang diperbolehkan oleh agama yang diharapkan orang yang yang dijahui tersebut kembali dari penyimpangan dalam agama.

 

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits.

1.     Haramnya perbuatan  saling membenci, saling hasad, saling bertolak belakang dan saling memutuskan hubungan.

2.     Larangan untuk menyakiti/mengganggu seorang Muslim dalam bentuk apapun.

3.     Haramnya menjahui saudaranya Muslim lebih dari tiga hari.

4.     Semua perbuatan tersebut bukanlah dari akhlaq seorang Muslim.

5.     Anjuran untuk bersaudara dan bersatu hati diantara sesama Muslim

Hadits no : 2

Penunjuk Kebaikan Seperti Yang Berbuat

 

Hadits no : 2

 

عن أبي هريرة  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  قالَ : منْ دعاَ إلى هُدَى كَانَ له من الأجرِ مثلُ أُجورِ منْ تَبِعَهُ لا ينْقُصُ ذَلِكَ منْ أُجْورِهمْ شَيْئاً ومنْ دعاَ إِلىَ ضَلاَلةِ كاَن عليهِ من الإثمِ مثْلُ آثامِ مَنْ تبعَهُ لاَ ينْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شَيئاً رواه مسلم.

 

1.     Dari Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah  bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala  mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

 

Perowi Hadits

     Dia adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausy, masuk Islam pada tahun Khaibar tahun 7 H, selalu menyertai Rasulullah  karena kecintaannya terhadap ilmu dan tergolong sahabat yang paling banyak hafalan haditsnya.

 

Makna Secara Umum

     Rasul  sang pembawa petunjuk  menganjurkan umatnya untuk berbuat kebaikan dan menyerukannya. Bahwasanya siapa yang membimbing orang lain kepada petunjuk maka ia mendapatkan pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa mengurangi pahala yang mengikutinya “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya” dan barangsiapa menjerumuskan seseorang kepada perbuatan dosa sekalipun sedikit atau menyuruhnya atau membantu dalam mengerjakannya maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa manusia yang mengerjakannya. Lantas bagaimana halnya dengan orang-orang yang berpaling dari Syariat Allah dan menerapkan hukum dengan undang-undang buatan manusia serta mengakui ideologi atheis yang menghancurkan kehidupan. Mereka semua berpaling dari Kitabullah dan tersesat dari jalan yang lurus. Dan pasti akan ditimpakan pada mereka  dosa dari  penyimpangan-penyimpangan ini yang banyak membuat para pemuda menyeleweng dari kebenaran dan jalan Allah yang lurus.

 

Faedah Yang Bisa Dipetik dari Hadits

1.     Keutamaan menunjukan kepada kebaikan dan anjuran mengerjakannya serta pahalanya yang besar

2.     Bahwa pahala yang diberikan kepada orang yang memberikan petunjuk tidak mengurangi pahala yang mengikutinya

3.     Ancaman keras bagi siapa yang menyeru kepada bid’ah atau kesesatan dan hal itu merupakan sebab penyimpangan manusia dari kebenaran

 

Renungan Ke - 2:

Renungan Ke - 2:

 

SEJENAK BERMUHASABAH !!!

 

Allah I berfirman:

} اللهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَ قُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللهِ... {

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur�an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…" {QS. al-Zumar (39): 23}

 

Itulah salah satu kedudukan agung yang dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu kedudukan yang akan meninggikan dan melambungkan jiwanya meninggalkan syahwat kemanusiaannya. Yaitu seseorang menghadap langsung menemui Rabbnya dengan mentadabburi ayat-ayat-Nya, dengan penuh ketenteraman dan penghormatan, sehingga ayat-ayat tersebut memenuhi relung-relung hati dan rongga-rongga persendiannya, menundukkan kepala dan menyungkurkan wajahnya ke permukaan tanah tepekur dalam ibadah dan sujud, seraya bermunājāt kepada-Nya dengan penuh ketundukan dalam memohon pertolongan-Nya dan mengalirkan air matanya sebagai bentuk taubat dan penyesalan.

 

Dan tatkala dia membaca salah satu ayat al-Qur’an, maka ayat tersebut sanggup menggetarkan hatinya, menyucikan jiwanya, merubah tabiat dan perangainya, serta mendorongnya untuk berkesinambungan dalam taat dan senantiasa siap menyongsong perintah-Nya.

Allah  berfirman:

 

} إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَ جِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal" {QS. al-Anfāl (8): 2)}

 

Maka, meskipun syahwat dan fitnah dengan beragam tipu-daya dan jerat menyerangnya, semuanya tidak akan sanggup melumpuhkannya, bahkan satu-persatu bertekuk lutut di bawah telapak kakinya, dan dalam tatapan tajam sorot matanya yang penuh ketinggian jiwa dan ketegaran hati. Bahkan dia palingkan mukanya tanpa menengok sedikitpun seraya terus membasahi lisannya dengan puja-puji kepada-Nya. Inilah buah munājātnya kepada Rabbnya, yang sanggup menumbuhkan kekuatan dan tekad yang membara. Hatinya adalah hati yang bersinar putih kemilau, tiada satu fitnahpun yang sanggup mengeruhkannya, saat dia menjalani roda kehidupannya.

 

Rasulullah bersabda:

( سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله، -ذكر منهم- و رجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه من الدمع )

"Ada tujuh orang atau golongan yang akan memperoleh naungan Allah pada saat dimana tidak ada naungan yang dapat dijadikan tempat berteduh, -di antaranya- adalah seseorang yang berdzikir kepada Allah di keheningan malam dengan berurai air mata" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Adzan Bab Man Jalasa Yantazhiru al-Shalah (2/715) No. 660, dan Muslim dalam Kitāb al-Zakah Bab Fadhl Ikhfa al-Shadaqah (2/715) No. 1031}

 

( عينان لا تمسهم النار: عين بكت من خشية الله، و عين باتت تحرس في سبيل الله )

"Ada dua mata (orang) yang tidak akan pernah terjilat oleh api neraka, yaitu mata seseorang yang berurai air mata karena takut kepada Allah, dan mata seseorang yang dipergunakan untuk berjaga malam saat berjuang di jalan Allah" {HR. al-Tirmidzi dalam Kitab Fadhail al-Jihad Bab Ma Jaa fi Fadhl al-Haras (4/175) No. 1639}

 

Subhānallah! Alangkah tinggi kedudukannya! Alangkah mulia sifatnya! Dan ternyata, hal ini tiada lain merupakan wujud kedalaman iman dan kesucian hatinya!

 

Sesungguhnya kesensitifan dan ketenteraman hati, serta ketundukan dan pengagungan hanya kepada Rabbnya merupakan kedudukan tertinggi yang dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, yang tidak akan pernah terpengaruh oleh kepedihan dan kekerdilan jiwa orang-orang bodoh lagi berjiwa kerdil.

 

Dan dengan kondisi hati yang jujur, membara dan disinari cahaya ilmu dan iman sebagaimana gambaran di atas, para shahabatpun sanggup memporak-porandakan benteng yang kokoh, maju bertempur dengan gagah berani tanpa gentar, menaklukan penjuru dunia, dan meninggikan panji tauhid, hingga singgasana Kisra dan Qaisharpun berada dalam genggaman tangan mereka.

 

Alangkah berharapnya ummat ini akan munculnya seorang ‘alim Rabbani, yaitu seorang ‘alim yang ketika mendengar satu ayat al-Qur’an, maka hatinya tergetar, kedua matanya berurai air mata, merenungi kandungannya dan dia pegang teguh segala konsekuensinya. Bukan sebaliknya, dia biarkan ayat tersebut berlalu begitu saja karena ingin mendengar ayat yang lainnya, baik karena hawa nafsu pribadinya atau karena ketidak-teguhannya.

 

Dan alangkah berharapnya ummat ini akan munculnya seorang da’i yang bekerja keras dalam mendidik, menyampaikan da’wah dan dalam mentarbiyyah. Sampai-sampai, meskipun malam mulai merayap dan mata mulai meredup, namun dia tetap bersemangat dalam bermunājāt kepada-Nya, tafakkur menghadap-Nya seraya menengadahkan tangan ketundukan dan pengagungan kepada-Nya, serta memohon kepada-Nya akan datangnya pertolongan dan kemenangan, tentunya dengan diiringi derai air mata dan rintihan permohonan.

 

Dan alangkah berharapnya kita semua untuk dapat menitikkan air mata kejujuran yang dilandasi oleh kejujuran iman dan keteguhan iman, serta dilandasi keagungan jiwa untuk mengalahkan hawa nafsu. Hanya kepada Allah  saja kita mengaduhkan segala kelemahan, kekerdilan jiwa dan kekotoran hati kita, karena sesungguhnya:

 

إذا قسا القلب قحطت العين

“Apabila hati telah keruh, maka air matapun menjadi kering (hingga tidak bisa menangis)" {Renungan dari Ibnu al-Qayyim dalam al-Fawaid hal. 111}

Rasulullah bersabda:

} لو تعلمون ما أعلم: لبكيتم كثيرا، و لضحكتم قليلا {

"Apabila kalian memahami apa yang telah kupahami (dengan pasti), niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit sekali untuk tertawa" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Raqaiq Bab Law Talamuna Ma Alamu (11/319) No. 6485}

 

 

Hadits no :1

 

Berbicara Baik dan Wajah Berseri

 

Hadits no :1 

عن أبي ذرّ  قال : قالَ لي النبي  : لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ رواه مسلم

 

1.      Dari Abi Dzar, berkata : “ Rasulullah  bersabda : “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri” (HR. Muslim)

 

Perawi hadits:

Abu Dzar adalah termasuk kalangan sahabat yang zuhud dan dari kalangan muhajirin, masuk Islam sejak awal dan kisah-kisah hidupnya banyak sekali. Ia meninggal pada tahun 32 Hijrah pada masa khilafah Utsman

 

Makna Secara Umum

     Hadits ini membimbing kita bahwa selayaknya bagi seorang muslim tidak meremehkan apa yang dalam pandangan syar’i baik untuk dikerjakan. Dan seseorang hendaknya menjumpai teman-temannya dengan berseri, gembira dan senyuman sebab lahiriyah manusia merupakan tanda batinya maka menjumpai saudara dengan seperti itu dapat memberikan rasa cinta dan gembira kepada mereka.

Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

1.      Tidak boleh meremehkan kebaikan sekalipun sesuatu yang ringan.

2.      Menggunakan kelembutan dan keceriaan ketika bersama teman

3.      Anjuran kepada hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam

4.      Keceriaan di hadapan saudaramu merupakan kebaikan

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungan Ke - 1

 RENUNGAN KE - 1 

LEZATNYA SEBUAH MUNAJAT

Salah satu faktor utama yang dapat mendatangkan ketenteraman dan ketenangan hati adalah merasa nyaman tatkala bermunājāt kepada Allah serta merasa lezat tatkala berdzikir dan memuji-Nya.

Allah berfirman:

} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ {

 

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" {QS. al-Rad (13): 28}

 

Maka tatkala kelopak mata telah meredup (menahan kantuk) dan jiwa telah terlelap (dalam tidur), serta kegelapan malam mulai membuncah, saat itulah sesosok insan malah asyik berdzikir kepada Allah dengan menitikkan air mata, menampakkan segala hajat-kebutuhan hanya kepada Penciptanya, mengakui segala kekurangan dan kelemahan diri, tiada henti memuji bahkan terkadang sambil merengek, bertasbih dan bertahlil kepada-Nya, serta menengadahkan tangan mungilnya dengan hati yang tepekur untuk memohon dan mengharap pertolongan hanya kepada-Nya semata:

 

} أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَ قَآئِمًا يَحْذَرُ اْلأَخِرَةَ وَ يَرْجُوا رَحْمَةَ رَبِّهِ... {

 

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya…" {QS. al-Zumar (9): 9}

 

} تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَ طَمَعًا... {

 

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap…" {QS. al-Sajdah (32): 16}

 

Itulah yang dimaksud dengan lezatnya bermunājāt, yaitu berkeluh-kesah dan memohon hanya kepada Allah. Suatu bentuk kelezatan yang lebih menggiurkan daripada kelezatan dunia yang fana, sekalipun yang dianggap paling lezat. Yaitu kelezatan yang sanggup menenteramkan jasmani dan rohani. Suatu kelezatan yang tidak akan dapat digapai kecuali oleh orang-orang yang telah merasakan lezatnya keimanan, manisnya berinteraksi dengan al-Qur’an dan sejuknya sebuah keyakinan. Dan benarlah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

( مثل الذي يذكر ربه و الذي لا يذكر ربه مثل الحي و الميت )

 

"Perumpamaan antara seseorang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan yang tidak berdzikir adalah ibarat seseorang yang masih hidup dengan yang telah menjadi mayit" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Daawat Bab Fadhl Dzikri Allah (11/208) No. 6407}

 

Marilah sejenak kita renungkan kisah Nabi Musa yang telah mengalami penatnya sebuah perjalanan sehingga menuntunnya untuk berteduh dalam kerindangan sebuah pohon, dan dari lubuk hatinya yang paling dalam beliaupun menumpahkan keluh-kesahnya sebagai seorang buruh kepada majikannya, yaitu Allah, seraya berkata:

 

} فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ {

 

"Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku" {QS. al-Qashash (28): 24}

 

Dan renungkan pula ungkapan puja-puji dan munājāt Rasulullah kepada Rabbnya, niscaya akan kita temukan sebuah ungkapan penghambaan, penyerahan diri dan ketundukan secara total kepada Allah. Dan di dalamnya kitapun dapat menemukan sebuah ratapan memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya. Bahkan tidak hanya sebatas itu, sampai-sampai beliaupun rela menyungkurkan wajahnya ke permukaan tanah (lantai) serta berdiri (lama) seraya membaca al-Qur’an dan bersujud hingga bengkak kedua kakinya, meleleh air matanya dan bergemuruh dadanya bagaikan gemuruh sebuah periuk yang sedang mendidih. Itupun masih diiringi dengan istighfar dan bertaubat kepada-Nya lebih dari 100 kali dalam sehari, dan dalam doanya yang harum-semerbak, beliau lirih berdoa:

 

( اللهم اغفرلي خطيئتي و جهلي، و إسرافي في أمري، و ما أنت أعلم به مني. اللهم اغفر لي جدي و هزلي، و خطئي و عمدي، و كل ذلك عندي. اللهم اغفر لي ما قدمت و ما أخرت، و ما أسررت و ما أعلنت، و ما أنت أعلم به مني. أنت المقدم و أنت المؤخر، و أنت على كل شيء قدير )

 

"Ya Allah, ampunilah segala kesalahan, kebodohan dan kelalaianku dalam mengerjakan urusanku, serta segala kesalahan lainnya yang hnya Engkaulah yang lebih mengetahuinya bahkan dibandingkan diriku sendiri. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, baik tatkala sungguh-sungguh maupun bercanda, tatkala sengaja maupun tidak sengaja. Ya Allah, ampunilah segala kesalahanku, yang telah lalu maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan ataupun kutampakkan serta segala kesalahan lainnya yang hanya Engkaulah yang lebih mengetahuinya bahkan dibandingkan diriku sendiri. Engkau adalah Dzat Yang Maha Awal lagi Maha Akhir, dan Engkaulah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu" {HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Daawat Bāb َََََQawl al-Nabiy r "Allāhumma Ighfir li Ma Qaddamtu wa Ma Akhkhartu" (11/196) No. 6398-6399, dan Muslim dalam Kitab al-Dzikr wa al-Dua Bab al-Taawwudz min Syarri Ma Amila (4/2087) No. 2719, dan lafazh ini adalah berdasarkan riwayatnya}

 

Itulah bukti dan manifestasi nyata dari sebuah ketundukan, kepatuhan dan sikap bergantung hanya kepada Allah, sehingga siapa saja yang dapat merealisasikanya, maka dia tidak akan pernah berbangga dan silau dengan berbagai amal perbuatannya. Sebaliknya, dia akan selalu tunduk patuh kepada Rabbnya, memohon keteguhan dan ketetapan hati kepada-Nya, dan senantiasa bermunājāt kepada-Nya seraya lirih berdoa:

 

( اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك )

"Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, palingkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu" {HR. Muslim dalam Kitāb al-Qadr Bab Tashrīf Allah al-Quluba Kayfa Syaa (4/2045) No. 2654}

 

Seorang hamba akan merasa nyaman ketika hanya berhadapan dengan Rabbnya, sehingga lisannya senantiasa basah dengan dzikir dan bacaan al-Qur’an. Dia tidak akan pernah menengok terhadap urusan duniawi, dengan segala duka, kepedihan dan mara-bahanya yang datang silih-berganti. Maka diapun akan sanggup melalui kehidupannya dengan penuh ketenangan, ketenteraman dan kemantapan hati.

 

Doa merupakan manifestasi utama dari sebuah ibadah, karena merupakan bentuk hubungan langsung antara seorang hamba dengan Penciptanya. Di dalam doa, kita menemukan sebuah totalitas ketundukan seorang hamba kepada Rabbnya, siap menunggu di pintu-Nya dengan penuh kepasrahan, serta memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya semata. Oleh karena itu, hamba yang sangat dicintai Allah I adalah seorang hamba yang senantiasa berdoa dengan tekun kepada-Nya.

Rasulullah  bersabda:

( من لم يسأل الله يغضب عليه )

"Barangsiapa yang enggan berdoa atau meminta kepada Allah, maka Dia pun marah kepadanya" {HR. Ahmad (2/442), al-Tirmidzi dalam Kitab al-Daawat Bab Fadhl al-Dua(5/1258) No. 3827}

 

Maka, untaian dan rangkaian doa yang berkesinambungan dari seorang mukmin yang tulus merupakan anugerah kehidupan yang paling agung, yang akan memberikan semangat kuat bagi hatinya serta yang akan mendorongnya untuk beramal dengan maksimal dan mengerahkan segenap kemampuannya dengan penuh kejujuran dan tulus ikhlas. Dalam kondisi seperti ini, dia adalah sosok prajurit yang tak terkalahkan, atau sebuah senjata yang tak tertandingi.

 

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya..??

APAKAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MENCAKUP SEGALA HAL ?


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang, beranggapan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah dalam segala hal. Kami mohon perkenan Syaikh untuk menjelaskan batasan-batasan berbakti kepada kedua orang tua.


Jawaban
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah telah menjelaskan tentang bakti ini dalam firmanNya.

"Artinya : Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kemu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". [Al-Isra : 23]

Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun demikian Allah menyebutkan.

"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”  
Yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya.

"Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia"

Bentuk perbuatan, hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan kedua orang tuanya serta bersikap sopan dan penuh kepatuhan karena status mereka sebagai orang tuanya, demikian berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Taala.

"Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, Wahai Rabbku, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". [Al-Isra : 24]

Lain dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hal yang paling utama, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersada.

"Artinya : Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu". [1]

Lain dari itu, juga mengabdi dengan bentuk berbuat baik, yaitu berupa perkataan dan perbuatan seperti umumnya yang berlaku, hanya saja mengabdi dalam perkara yang haram tidak boleh dilakukan, bahkan yang termasuk baktin adalah menahan diri dari hal tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam.

"Artinya : Tolonglah saudaramu baik ia dalam kondisi berbuat aniaya maupun teraniaya"

Ditanyakan kepada beliau, "Begitulah bila ia teraniaya, lalu bagaimana kami menolongnya bila ia berbuat aniaya ?". beliau menjawab.

"Artinya : Engkau mencegahnya dari berbuat aniaya". [2]

Jadi, mencegah orang tua dari perbuatan haram dan tidak mematuhinya dalam hal tersebut adalah merupakan bakti terhadapnya. Misalnya orang tua menyuruhnya untuk membelikan sesuatu yang haram, lalu tidak menurutinya, ini tidak dianggap durhaka. Bahkan sebaliknya, ia sesungguhnya telah berbuat baik, karena dengan begitu ia telah mencegahnya dari yang haram.

[Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. Hadits Riwayat Abu Daud dalam Al-Buyu 3530, Ibnu Majah dalam At-Tijarah 2292 dari hadits Ibnu Amr, Ibnu Majah 2291 dari hadits Jabir
[2]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Mazhalim 24444 dari hadits Anas, Muslim meriwayatkan seperti dalam Al-Birr 2584 dari hadits Jabir, Ahmad 12666 dari Anas. Lafazh di atas adalah riwayat Ahmad

Syarat-Syarat Hijab Syar’i

 SYARAT-SYARAT HIJAB SYAR’I

 

Adapun syarat-syarat hijab syar’i adalah:

 

1-Hendaklah hijab/jilbab menutup seluruh badan. Allah berfirman:

 

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh badan mereka” (QS. Al Ahzab: 59).

 

Jilbab adalah pakaian panjang yang menutup seluruh badan (dari kepala hingga mata kaki), artinya dengan mengulurkan keseluruh badan yang merupakan aurat wanita. jadi jilbab yang syar’i adalah yang menutup seluruh badan wanita.

 

2-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tebal, tidak tipis dan tidak transparan, karena maksud dari hijab adalah menutup, jika tidak menutup, tidak dinamakan hijab, karena hal tersebut tidak menghalangi

penglihatan, sehingga seperti yang di katakan dalam hadits Nabi  “Berpakaian tetapi pada hakikatnya telanjang".

 

3-Hendaklah hijab/jilbab tidak berupa perhiasan atau pakaian yang menyolok, yang memiliki warnawarni yang menarik, sehingga menimbulkan perhatian. Allah berfirman:

 

“Dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak darinya” (QS; An Nur : 31).

 

Makna ( إلا ما ظهر منها ) apa yang nampak darinya, yaitu dengan tanpa disengaja. Apabila hijab itu sendiri perhiasan, maka tidak boleh dipakai, dan tidak dinamakan hijab, sebab hijab adalah sesuatu yang menghalangi timbulnya perhiasan terhadap bukan muhrim.

 

4-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tidak sempit, ketat. Tidak membentuk lekuk tubuh dan aurat, maka jilbab harus luas dan lebar, sehingga tidak menimbulkan fitnah.

 

5-Hendaklah tidak memakai minyak wangi, yang menyebabkan timbulnya fitnah, yaitu rangsangan bagi laki-laki. Rasulullah bersabda:

 

 “Sesungguhnya wanita apabila memakai minyak wangi lalu lewat pada suatu majlis, maka ia adalah ini dan ini yaitu: ia wanita pezina” (HR. Ashabus sunan, Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih).

 

Dalam riwayat lain:

 “Sesungguhnya wanita bila memakai minyak wangi kemudian lewat pada suatu majlis/ perkumpulan kaum agar mereka mencium baunya, maka ia telah berzina”.

 

6-Hendaklah hijab/jilbab tersebut tidak menyerupai pakaian laki-laki. Dalam hadits yang di riwayatkan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

 

 “Nabi r melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Dalam hadits yang lain:

 

 “Allah melaknat laki-laki yang bergaya perempuan dan perempuan yang bergaya laki-laki” (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

 

Maksudnya: perempuan yang menyerupai laki-laki dalam pakaiannya, modelnya, seperti perempuan zaman sekarang ini, begitu pula laki-laki yang menyerupai perempuan dalam pakaian, gaya bicara dan lain sebagainya. Kita mohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan dunia dan akhirat.

 

Menutup Aurat Yuk…!

 

Menutup Aurat Yuk…!

Bismillah…

Saudariku seiman....

Bagi kita kaum Muslimin, tentu tahu kewajiban kita masing-masing. Mulai dari Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, Haji, dll. Dan salah satu dari itu ya… “MENUTUP AURAT”

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’” (Annur:31)

Keterangan :

Ayat ini menegaskan empat hal:

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh ALLOH SWT.

b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.

c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.

Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut ‘Atho,’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas’ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.

d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada.

Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.

2. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Keterangan :
Hadis ini menunjukkan dua hal:

a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:

1.      Dari Al-Qur’an

a. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu…” (Qs. Al-Ahzab: 33).

Keterangan:
Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.

Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasululloh SAW. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).

b. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).

Keterangan:
Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

2.      Hadis Rasululloh SAW, bahwasanya beliau bersabda:

Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mrip ekor sapi untk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Keterangan:
Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh ALLOH SWT atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.

 

Agar Kamu Lebih di Cintai Allah

 AGAR KAMU LEBIH DICINTAI ALLAH

 

عن أبي هريرة t  قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " المؤمن القوي، خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف ، وفي كل خير احرص على ما ينفعك ، واستعن بالله ولا تعجز ، وإن أصابك شيء ، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا ، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل ، فإن لو تفتح عمل الشيطان " (رواه مسلم )

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim [2664] lihat Syarh Nawawi, jilid 8 hal. 260).

Hadits yang mulia ini menunjukkan beberapa hal:
Pertama; Allah ta’ala memiliki sifat cinta kepada sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat, kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah. Orang mukmin yang kuat adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal; [1] ilmu yang bermanfaat, [2] beramal salih, [3] saling mengajak kepada kebenaran, dan [4] saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin yang lemah adalah yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.

Kedua; kebaikan pada diri orang-orang beriman itu bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama; kaum As-Saabiqun ilal Khairat, orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang wajib maupun yang sunnah serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh. Kedua; kaum Al-Muqtashidun atau pertengahan. Mereka itu adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Ketiga; Azh-Zhalimuna li anfusihim. Mereka adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.

Ketiga; perkara yang bermanfaat ada dua macam; perkara keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang hamba membutuhkan perkara agama maka ia juga membutuhkan perkara dunia. Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut. Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2; ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan hati dan ruh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan lain sebagainya. Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan perkara dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki. Pekerjaan yang paling utama bagi orang berbeda-beda tergantung pada individu dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama hal itu benar-benar bermanfaat baginya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu”

Keempat; dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan kecerdasannya semata. Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada Allah ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan memudahkan urusannya.

Kelima; apabila seseorang menjumpai perkara yang tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa ridha dengan takdir Allah ta’ala. Tidak perlu berandai-andai, karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka celah bagi syaitan. Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.

Keenam; di dalam hadits yang mulia ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara keimanan kepada takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat. Kedua pokok ini telah ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu. Sabda Nabi, “Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu” merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia, bahkan di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, “Dan mintalah pertolongan kepada Allah” merupakan bentuk keimanan kepada takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari kemanfaatan dan menghindar dari kemudharatan dengan penuh rasa harap kepada Allah ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.

Diringkas dari buku:

Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’ Al-Alkhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.

 

 

Cantik dengan Jilbab, Benarkah?

Posted on  by syauqi

 

Cantik dengan Jilbab, Benarkah?

 

AWALNYA banyak kaum hawa menggunakan jilbab karena tuntutan ajaran agama yang mengharuskan perempuan untuk menutup auratnya. Tapi belakangan penggunaan jilbab tidak hanya sekedar untuk menutupi aurat saja, tapi juga untuk fashion. Meskipun dulunya wanita berjilbab terkesan tidak modis dan kurang fashionable, sekarang justru sebaliknya. Jilbab ternyata tidak membatasi wanita untuk tampil modis

 

Bahkan jika diperhatikan saat ini jilbab menjadi bagian aksesori dan menambah daya tarik bagi orang yang melihatnya. Tak jarang wanita yang

memakai jilbab tampak lebih cantik dan anggun dibandingkan sebelum menggunakannya. Tidak mengherankan juga, jika diperhatikan banyak wanita muslim saat ini

memilih gaya busana yang satu ini. Salah satunya Hilda Febri, pemilik warung Batok di DC Mall.Menurut Hilda menggunakan jilbab bukan berarti tidak bisa

tampil modis. Justru menurutnya dengan jilbab wanita tampak lebih rapi. ‘’Modis apa nggaknya, tergantung wanitanya juga, kalau dasarnya suka fashion, nggak

pakai jilbabpun juga tidak modis, demikian juga bagi yang menggunakan jilbab, tapi sesederhanapun penggunaan jilbab, tetap wanita yang menggunakan jilbab

tampak lebih rapi dibandingkan yang tidak menggunakan jilbab,” ujar Hilda, yang sehari-hari tampil dengan busana muslimah ini.

 

Baginya jilbab membuat penampilan wanita tampak lebih anggun. Apalagi jika menggunakan jilbab menyesuaikan dengan trend busana muslim dan model jilbab yang

lagi trend. ‘’Busana muslim, terutama jilbab juga ada model yang saat itu sedang trend, tapi bukan berarti jilbab yang sebelumnya tidak modis lagi, tergantung masing-masing orang ingin menggunakan model jilbab yang disukai, karena meskipun ada trend yang baru jilbab sebelumnya juga tetap menarik untuk

dikenakan,” papar Hilda Karena hal yang mendasar agar wanita tampak modis dengan busana muslim yang dikenakannya, penggunaan jilbab harus sesuaikan dengan warna baju, serta bentuk

muka, dan situasi. Karena menurutnya saat ini wanita berjilbab ruang lingkupnya semakin luas, diantaranya wanita yang bekerja. ‘’Bagi wanita yang bekerja tentunya busana yang

dikenakan harus pintar menyesuaikan dengan kondisi kerja juga, Kalau tidak disesuaikan jilbab yang dikenakan juga kurang menarik,” ungkapnnya.

Yelly, Ibu Rumah Tangga
Suka Jilbab yang Persegi

Meskipun saat ini model jilbab semakin banyak, Yelly mengaku lebih suka menggunakan jilbab yang persegi tanpa banyak model. ”wajah saya kayanya cocok dengan

jilbab persegi yang dibentuk sendiri menjadi jilbab, kalau jilbab yang langsung jadi kayanya nggak cocok di wajah,” paparnya.

Meskipun mengaku tertarik dengan berbagai jenis jilbab yang saat ini lagi trend, tapi wanita ini tetap konsisten dengan pilihan jilbab yang dipakainya dari

dulu. ”Kalau memang wajahnya nggak cocok, meskipun jilbabnya bagus, saya nggak mau ikut-ikutan karena susah tahu nggak bakalan cocok,” ujarnya yakin.

Anggun, Ibu Rumah Tangga
Cari Jilab yang Modis

Bagi Anggun saat ini menggunakan jilbab tidak sama seperti dulu. Karena menurutnya, saat ini banyak sekali model jilbab yang menarik yang memberikan

penampilan wanita terlihat lebih modis. ”Nyarinya juga tidak susah, banyak butik atau toko busana muslim yang menjual jilbab yang menarik,” ujarnya.

Saat ini Anggun mengaku lebih suka menggunakan jilbab yang langsung pakai. Kalau dulu menurutnya jilbab yang langsung pake tidak ada yang modis, tapi saat

ini, pilihan jilbab yang langsung pakai dengan model yang menarik semakin banyak. ”Tinggal pilih saja sukanya yang seperti apa, kemudian tinggal disesuaikan

dengan busana yang dikenakan,” paparnya.

Iin, Wiraswasta

Banyak Jilbab yang Menarik
Iin mengungkapkan, banyak wanita yang ingin tampil modis tapi tetap praktis dengan jilbab yang digunakannya. Demikian juga dengan dirinya yang sehari-hari

tampil dengan jilbab. Karena alasan itu juga, wanita yang memiliki usaha busana muslim di DC Mall ini memiliki koleksi jilbab yang bisa menjadi pilihan

banyak wanita yang mungkin bingung memilih jilbab yang tepat.

‘’Saat ini trendnya jilbab yang langsung disorongkan, tapi di bagian jilbabnya sudah dihiasi dengan rangkaian manik-manik yang memberikan kesan jilbab lebih

elegan sehingga bisa dikenakan untuk acara resmi,” papar Iin. Dulunya jenis jilbab sorong ini menurutnya, lebih banyak digunakan untuk lingkungan sekitar

rumah.

 

Tapi jilbab sorong kini, dengan berbagai tambahan motif dan bahan yang digunakan, seperti ditambahan hiasan pita di atas kepala atau di bagian belakang

jilbab serta memberi kesan jilbab tampak gaya.
”Penggunaannya sangat praktis, tapi penampilan tetap modis dan menarik,” tambah Iin.

Karena menurut Iin, selain motif pada jilbab yang membuat jilbab terkesan mewah, saat ini jilbab yang langsung disorongkan, teknik penggunaannya bisa

divariasikan dengan berbagai gaya. Salah satu cara yang sederhana, dengan cara menarik ke belakang bagian depan jilbab sehingga jilbab membentuk bentuk

leher, leher tetap tertutup, tapi penampilan lebih modis.

‘’Cukup banyak kreasi lainnya yang bisa dilakukan dengan jilbab, jika ingin tampak lebih modis bisa menambahkan hiasan seperti bros atau jepitan pada jilbab

sehingga penampilan tampak lebih menarik.

 

8 Kiat Mempererat Ukhuwah

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita kecap, kecuali dengan mempraktikannya.

Jika delapan cara di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan ukhuwah Anda dengan saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.

 

1.       Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda

 

عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ: إِِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أََنَّهُ يُحِبُّهُ

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

عَنْ اَنَسٍ: اَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فَمَرَّ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلُ اللهِ اِنّي لأحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ أَعْلَمْتَهُ؟ قَالَ: لا، قَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: أعْلِمْهُ فَلَحِقَهُ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ فِى اللهِ فَقَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِى لَهُ

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud, dengan sanad shahih)

Jadi, jangan tunda lagi. Katakan cinta kepada orang yang Anda cintai.

 

2.       Minta didoakan dari jauh saat berpisah

 

عَنْ عُمَرَبْنِ الْخَطَابِ قَالَ: اِسْتَأْذِنْتُ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ فِى الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي فَقَالَ: لاَ تَنْسَنَا يَا اُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ: كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِى أَنَّ لِى بِِهَا الدُّنْيَا، وَفِى رِوَايَةٍ قَالَ: أَشْرِكْنَا يَا أُجَيَّ فِى دُعَائِكَ

Umaق bin Khaththab berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku.” Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu.” Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang hamba mukmin yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan malainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu seperti itu’.” (Muslim)

3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim)

 

3.       Berjabat tangan dengan erat dan hangat

 

Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَا مِنْ مُسْلِمِيْنَ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

 

4.       Sering-seringlah berkunjung

 

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberli karena Aku’.” (Imam Malik dalam Al-Muwaththa’)

5.       Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan

 

عَنْ اَنَسٍ بن مالك قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ لَقِيَ أَجَاهُ بِمَا يُحِبُّ لِيَسُرَّهُ ذَالِكَ سَرَّةُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (Thabrani dalam Mu’jam Shagir)

Jadilah Anda orang yang paling pertama mengucapkan selamat kala saudara Anda menikah, mendapat anak, menempati rumah baru, pergi haji, naik jabatan, dan lain-lain.

 

6.       Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa

 

عَلَيْكُمْ بِالْهَدَايَا فَإِنَّهَا تُوْرِثُ الْمَوَدَّةَ وَتُذْهِبُ الضَّغَائِنَ

Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)

عَنْ عَائِشَةَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوْا

Thabrani juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah r.a. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.”

 

7.       Berilah perhatian dan bantu keperluan Saudara Anda

 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ اَخِيْهِ.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (Muslim)

Karena itu, jadikan diri Anda orang yang paling dahulu membantu kala saudara Anda membutuhkan.

  

10 Hal .. !!

 

1.                 Ya, dengan senyum cantik anda yang membangkitkan rasa cinta dan menebar kasih sayang kepada orang lain.

2.                 Ya, dengan tutur kata baik anda yang dapat menjalin persahabatan yang dianjurkan syariat dan menghapus semua rasa dengki.

3.                 Ya, dengan ketulusan derma anda yang dapat membahagiakan orang miskin, menggembirakan orang fakir, dan mengenyangkan orang yang lapar.

4.                 Ya, dengan duduk manis bersama Al-Qur’an seraya membaca, merenungi makna, mengamalkan kandungannya, bertobat, dan memohon ampun kepada-Nya

5.                 Ya, dengan banyak dzikir, memohon ampun, rajin berdoa dan suka memperbaharui tobat.

6.                 Ya, dengan mendidik anak-anak anda untuk mendalami agama, mengajari mereka sunnah dan membimbing mereka kepada hal-hal yang berguna bagi mereka.

7.                 Ya, dengan rasa malu dan jilbab seperti yang diperintahkan Allah kepada anda sebagai sarana memelihara diri dan kehormatan anda.

8.                 Ya, dengan berteman bersama wanita-wanita yang baik dari kalangan mereka yang mempunyai rasa takut kepada Allah, menyukai pengamalan agama, dan menghormati norma-norma etika.

9.                 Ya, dengan berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, menghormati tetangga dan menjamin anak-anak yatim.

10.             Ya, dengan membaca buku-buku yang bermanfaat, menelaah bacaan yang berguna, maka hal itu benar-benar merupakan hal yang amat menyenangkan lagi memberikan informasi yang benar

 

Berbakti Kepada Orang Tua

 BENTUK-BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA



Bentuk-Bentuk Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Adalah :

Pertama.
Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.

Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ’ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, "Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis" [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i] Dalam riwayat lain dikatakan : "Berbaktilah kepada kedua orang tuamu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Kedua.
Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan ’ah’ apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya ’udzubillah.

Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta (misalnya biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada keduanya.

Ketiga.
Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.

Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.

Keempat.
Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 215.

"Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, "Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui"

Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berikut.

"Artinya : Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat" [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 3, Abu Dawud No. 5139 dan Tirmidzi 1897, Hakim 3/642 dan 4/150 dari Mu’awiyah bin Haidah, Ahmad 5/3,5 dan berkata Tirmidzi, "Hadits Hasan"]

Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang mengatur harta adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang tuanya.

Kelima.
Mendo’akan orang tua. Sebagaimana dalam ayat "Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro" (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo’a di malam hari, ketika sedang shaum, di hari Jum’at dan di tempat-tempat dikabulkannya do’a agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila kedua orang tua telah meninggal maka : 

Yang pertama : Kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuh (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada kedua orang tua sewaktu mereka masih hidup.

Yang kedua : Adalah mendo’akan kedua orang tua kita.

Dalam sebuah hadits dla’if (lemah) yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

"Apakah ada suatu kebaikan yang harus aku perbuat kepada kedua orang tuaku sesudah wafat keduanya ?" Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab, "Ya, kamu shalat atas keduanya, kamu istighfar kepada keduanya, kamu memenuhi janji keduanya, kamu silaturahmi kepada orang yang pernah dia pernah silaturahmi kepadanya dan memuliakan teman-temannya" [Hadits ini dilemahkan oleh beberapa imam ahli hadits karena di dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah dan Syaikh Albani Rahimahullah melemahkan hadits ini dalam kitabnya Misykatul Mashabiih dan juga dalam Tahqiq Riyadush Shalihin (Bahajtun Nazhirin Syarah Riyadush Shalihin Juz I hal.413 hadits No. 343)]

Sedangkan menurut hadits-hadits yang shahih tentang amal-amal yang diperbuat untuk kedua orang tua yang sudah wafat, adalah : 

[1] Mendo’akannya
[2] Menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3] Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4] Membayarkan hutang-hutangnya
[5] Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at.
[6] Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya

[Diringkas dari beberapa hadits yang shahih]

Sebagaimana hadits Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhuma.

"Artinya : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal" [Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552]

Dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhuma menemui seorang badui di perjalanan menuju Mekah, mereka orang-orang yang sederhana. Kemudian Abdullah bin Umar mengucapkan salam kepada orang tersebut dan menaikkannya ke atas keledai, kemudian sorbannya diberikan kepada orang badui tersebut, kemudian Abdullah bin Umar berkata, "Semoga Allah membereskan urusanmu". Kemudian Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhumua berkata, "Sesungguhnya bapaknya orang ini adalah sahabat karib dengan Umar sedangkan aku mendengar sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam :

"Artinya : Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman ayahnya" [Hadits Riwayat Muslim 2552 (13)]

Tidak dibenarkan mengqadha shalat atau puasa kecuali puasa nadzar [Tamamul Minnah Takhrij Fiqih Sunnah hal. 427-428, cet. III Darul Rayah 1409H, lihat Ahkamul Janaiz oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal 213-216, cet. Darul Ma’arif 1424H]


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua]

Batasan Taat Kepada Orang Tua

 BATASAN TAAT KEPADA ORANG TUA


Secara umum kita diperintahkan taat kepada orang tua. Wajib taat kepada kedua orang tua baik yang diperintahkan itu sesuatu yang wajib, sunnah atau mubah. Demikian pula bila orang tua melarang dari perbuatan yang haram, makruh atau sesuatu yang mubah kita wajib mentaatinya.

Lebih dari itu, kita juga wajib mendahulukan berbakti kepada orang tua dari pada perbuatan wajib kifayah dan sunnah. Mengenai hal diatas para ulama telah beristimbat dari kisah Juraij yang hidup jauh sebelum masa Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

"Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu katanya, "Seorang yang bernama Juraij sedang mengerjakan ibadah di sebuah sauma (tempat ibadah). Lalu ibunya datang memanggilnya, "Humaid berkata, "Abu Rafi’ pernah menerangkan kepadaku mengenai bagaimana Abu Hurairah meniru gaya ibu Juraij ketika memanggil anaknya, sebagaimana beliau mendapatkannya dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yaitu dengan meletakkan tangannya di bagian kepala antara dahi dan telinga serta mengangkat kepalanya, "Hai Juraij ! Aku ibumu, jawablah panggilanku’. Ketika itu perempuan tersebut mendapati anaknya sedang shalat. Dengan keraguan Juraij berkata kepada diri sendiri, ’Ya Allah, ibuku atau shalatku’. Tetapi Juraij telah memilih untuk meneruskan shalatnya. Tidak berapa lama selepas itu, perempuan itu pergi untuk yang kedua kalinya. Beliau memanggil, ’Hai Juraij ! Aku ibumu, jawablah panggilanku’. Juraij bertanya lagi kepada diri sendiri, ’Ya Allah, ibuku atau shalatku’. Tetapi beliau masih lagi memilih untuk meneruskan shalatnya. Oleh karena terlalu kecewa akhirnya perempuan itu berkata, ’Ya Allah, sesungguhnya Juraij adalah anakku. Aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata ia enggan menjawabnya. Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah yang disebabkan oleh perempuan pelacur’. Pada suatu hari seorang pengembala kambing sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij yang letaknya jauh terpencil dari orang ramai. Tiba-tiba datang seorang perempuan dari sebuah dusun yang juga sedang berteduh di tempat tersebut. Kemudian keduanya melakukan perbuatan zina, sehingga melahirkan seorang anak. Ketika ditanya oleh orang ramai, ’Anak dari siapakah ini ?’. Perempuan itu menjawab. ’Anak dari penghuni tempat ibadah ini’. Lalu orang ramai berduyun-duyun datang kepada Juraij. Mereka membawa besi perajang. Mereka berteriak memanggil Juraij, yang pada waktu itu sedang shalat. Maka sudah tentu Juraij tidak melayani panggilan mereka, akhirnya mereka merobohkan bangunan tempat ibadahnya. Tatkala melihat keadaan itu, Juraij keluar menemui mereka. Mereka berkata kepada Juraij. ’Tanyalah anak ini’. Juraij tersenyum, kemudian mengusap kepala anak tersebut dan bertanya. ’Siapakah bapakmu?’. Anak itu tiba-tiba menjawab, ’Bapakku adalah seorang pengembala kambing’. Setelah mendengar jawaban jujur dari anak tersebut, mereka kelihatan menyesal, lalu berkata. ’Kami akan mendirikan tempat ibadahmu yang kami robohkan ini dengan emas dan perak’. Juraij berkata, ’Tidak perlu, biarkan ia menjadi debu seperti asalnya’. Kemudian Juraij meninggalkannya". [Hadits Riwayat Bukhari -Fathul Baari 6/476, dan Muslim 2550 (8)].

Kisah di atas diceritakan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika sedang menjelaskan tentang tiga orang yang dapat berbicara sewaktu kecil, yang pertama adalah Isa bin Maryam yang berbicara ketika masih bayi, kedua Ashabul Ukhdud yang tercantum dalam surat Al-Buruj dan ketiga adalah kisah Juraij ini.

Pada hadits ini Juraij melihat wajah pelacur karena do’a ibunya setelah Juraij tidak memenuhi panggilannya dengan sebab tetap mengerjakan shalat sunnah. Para ulama beristimbat dengan hadits ini bahwa shalat sunnah harus dibatalkan untuk memenuhi panggilan ibu.

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa taat kepada kedua orang tua harus didahulukan dari ibadah sunnah, lebih ditekankan lagi apabila orang tua kita menyuruh kita untuk melakukan ibadah yang bersifat sunnah atau wajib kifayah [Bahjatun Nazhirin I/347]

Ibnu Hazm berkata, "Tidak boleh jihad kecuali dengan izin kedua orang tua kecuali kalau musuh itu sudah ada di tengah-tengah kaum muslimin maka tidak perlu lagi izin" [Al-Muhalla 7/292 No. 922]

Kata Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, beliau mengatakan bahwa izin itu harus didahulukan daripada jihad kecuali kalau sudah jelas wajibnya jihad dan musuh sudah berada ditengah-tengah kita maka didahulukan jihad.

Para ulama membawakan beberapa hadits bahwa selama jihad tersebut fardhu kifayah maka harus didahulukan berbakti kepada kedua orang tua. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dari Abdullah bin Amr bin ’Ash.

"Artinya : Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam meminta izin untuk jihad. Kemudian Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, "Apakah bapak ibumu masih hidup ?" orang itu menjawab, "Ya" maka kata Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. "Hendaklah kamu berbakti kepada keduanya" [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim 5/2529 Abu Dawud 2529, Nasa’i, Ahmad 2/165, 188, 193, 197 dan 221]

Juga yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 2549) dari Abdullah bin Amr bin ’Ash.

"Artinya : Ada yang datang kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, "Ya Rasullullah aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad ingin mencari ganjaran dari Allah". Kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?", kata orang tersebut "Bahkan keduanya masih hidup". "Apakah engkau mencari ganjaran dari Allah ?. "Orang itu menjawab, "Ya aku mencari ganjaran dari Allah". "Kembali kepada kedua orang tuamu, berbuat baiklah kepada keduanya". Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menyuruhnya pulang" [Hadits Riwayat Muslim No. 2549]

Dalam riwayat lain yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Nasa’i, dikatakan :

"Artinya : Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata, "Ya Rasulullah saya akan berba’iat kepadamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis". Kata Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, "Kembali kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis" [Hadits Riwayat Abu Dawud 2528, Nasa’i dalam Kubra, Baihaqi dalam Hakim 4/152]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dengan sanad yang hasan dari Muawiyah bin Jaa-Himah.

"Artinya : Jaa-Himah Radhiyallahu ’anhu datang kepada Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, "Ya Rasulullah aku ingin perang dan aku datang kepadamu untuk musyawarah". Kemudian kata Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, "Apakah kamu masih mempunyai ibu?". Kata orang ini, "Ibu saya masih hidup". Kata Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam, "Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu" [Hadits Riwayat Nasa’i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329]

Dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni beliau mengatakan kenapa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menyebutkan tentang beberapa hadits ini ketika disebutkan jihad, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menyuruh anak ini untuk meminta izin kepada kedua orang tua. Kata Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam :"Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua adalah fardlu ’ain didahulukan daripada fardhu kifayah"


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua] 

DUA GOLONGAN ...!!!

DUA GOLONGAN YANG BELUM PERNAH

DILIHAT RASULULLAH  DAN TELAH

KITA LIHAT

Rasulullah  bersabda:

 

 “Dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah

aku lihat, yaitu: “suatu kaum yang memiliki cambuk,

seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para

wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggaklenggok

(jalannya), mengajarkan wanita berlenggaklenggok,

kepala mereka seperti punuk unta yang miring,

wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak

akan mencium wanginya, walaupun wanginya tercium

selama perjalanan ini dan ini ( jauhnya)” ( HR. Muslim ).

Berita Rasulullah r telah terbukti. Sungguh beliau

telah memberikan ciri-ciri yang tepat seperti orang

yang menyaksikannya.

 

Berpakaian tapi telanjang

Mereka memakai pakaian yang tipis, sehingga

kelihatan lekuk tubuhnya atau pakaian mini (bikini)

dan semisalnya. Wanita seperti ini berpakaian tapi

pada hakikatnya telanjang.

 

Maailat

Berpaling dari ta�at kepada Allah, dan dari

kewajiban-kewajiban berupa malu, enggan memakai

hijab dan jilbab. Mereka berlenggak-lenggok saat

berjalan dengan pakaian mini yang memperlihatkan

auratnya.

 

Mumilaat

Memalingkan wanita lain, dengan mengajarkan

kepada mereka bersolek, berdandan secara seronok

dan tidak menutup aurat, dengan berbagai macam

cara. Memalingkan hati laki-laki dengan rayuan manis

beracun iblis.

 

Kepala mereka seperti punuk unta

Menyanggul rambutnya keatas (kebanyakan rambut

sambungan dan pasangan, padahal Allah dan Rasul-

Nya melaknat wanita yang menyambung rambutnya

dan minta di sambungkan) seperti punuk unta yang

miring.

 

KEPADA SETIAP ORANG TUA

Allah  berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu

dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya

adalah manusia dan batu, penjaganya malaikatmalaikat

yang kasar, yang keras, yang tidak

mendurhakai Allah Y terhadap apa yang

diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu

mengerjakan apa yang diperintahkan(QS. At Tahrim: 6).

 

Ali bin Abi Thalib berkata: “Didiklah mereka dan

ajarilah terutama masalah dien Islam yang mulia ini”.

Imam Qatadah berkata: “Engkau perintahkan

mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan

kamu larang mereka dari maksiat dan berbuat dosa,

melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya dan

meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan”.

Wahai orang tua? bila ada orang yang berkata

kepadamu: “Bahwa gedungmu yang megah itu, jika

tidak engkau rawat dengan seksama, dan engkau jaga

dengan baik, dengan selalu mengontrol dan

memperbaiki setiap kerusakan sebelum kerusakan itu

parah, jika ini tidak engkau lakukan, niscaya

gedungmu yang megah itu akan roboh”.

Apa yang akan engkau kerjakan? tentu engkau akan

berusaha semaksimal mungkin agar gedungmu tidak

roboh, maka bagaimana sikapmu terhadap anak

perempuanmu, sedang Allah r telah memerintahmu

menjaganya dari api neraka.

 

Wahai para orang tua! Sesungguhnya para pemudi

yang telah hilang sifat malunya, yang sombong untuk

mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya mereka itu kita

lihat dan kita dengar, mereka tidak turun dari langit

dan tidak keluar dari perut bumi. Tapi mereka

sesungguhnya keluar dari rumahmu (pengawasanmu)

keluar dari rumah saudara dan famili muslimmu.

 

Akhi Muslim! bertaqwalah pada Allah!

Perhatikan anak puterimu melebihi perhatianmu

terhadap duniamu. Janganlah engkau termasuk orang

yang Rasulullah r maksudkan dalam sabdanya:

 

 “Tidak masuk surga Dayyus, para sahabat bertanya:

"Siapakah yang dimaksud dengan Dayyus itu wahai

Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Seorang yang tidak

ada (cemburu) terhadap muhrimnya”. Dalam riwayat

yang lain beliau  bersabda: “Seorang yang rela

kenistaan menimpa keluarganya” (HR. Muslim).

 

SALAM DAN KABAR GEMBIRA

Kepada Ukhti Muslimah !

Yang tegar dalam menghadapi serangan musuh yang

buas. Kepada Ukhti Muslimah yang menampar muka

setiap penyeru kebebasan dengan sikap konsisten,

komitmen, dan konsekwen terhadap ajaran Islam.

Kepada Ukhti yang selalu memegang teguh sifat

malu dan kesucian dirinya, kepada benteng yang

kokoh dalam menghadapi topan kebatilan.

Kepada Ukhti yang berpegang teguh kepada kitab

Allah dan selalu mengangkat panji Rasul-Nya seraya

berkata:

 

 “Dengan tangan kesucianku, akan aku jaga

kemuliaan hijab dan jilbabku

dan dengan kesucianku pula aku diatas temanteman

sebayaku.

 

Kepadanya khabar gembira dari Nabi :

 

“Sesungguhnya di belakang kamu ada hari-hari

kesabaran. Orang-orang yang berpegang teguh pada

hari itu mendapat pahala 50 orang dari kamu. Para

sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah sebesar pahala

50 orang dari mereka? Nabi r bersabda: “Bahkan dari

kamu”. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, dishahihkan

Albani). Juga kepadanya sabda Rasulullah yang lain:

 

 “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing

dan akan kembali asing seperti permulaannya, maka

beruntunglah orang-orang yang asing, Rasulullah r

ditanya: siapa mereka wahai Rasulullah ? Rasulullah r

menjawab: Mereka yang mengadakan perbaikan ketika

manusia rusak” (HR.Tirmidzi dan dishahihkan Albani).

Kepada mereka salam dari Allah, para muslimin dan

muslimat yang sabar dalam menjalankan perintah

Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya:

 

“Salam sejahtera untukmu, karena kesabaranmu,

dan sebaik-baik kesudahan surgalah balasannya” (QS;

 

Indahnya Belum Terbayangkan

 Indahnya Belum Terbayangkan

 

Cita-cita tertinggi seorang Muslim adalah surga. Memasukinya dan hidup di dalamnya adalah sebuah angan-angan yang menghantui sepanjang usia berjalan.

 

TAMASYA KE SURGA
Ayat-ayat tentang Surga:
Allah telah menggambarkan keadaan surga dalam banyak ayat Al Quran, di antaranya adalah firman Allah yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka), "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman." Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya."  (QS. Al Hijr: 45-48).

"Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian." (QS. Al Wâqiah: 10-40).
    
Semua nikmat yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namanya sama dengan yang dilihat di dunia. Tetapi, ketika disebut benda-benda ini, hanya sebagai penamaan agar dipahami penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan hakekat kesenangan-kesenangan, diserahkan kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Bijaksana.

 

Sifat-sifat Surga dalam Sunnah Shahihah
Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã telah menerangkan tentang sifat-sifat surga yang dijanjikan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì. kepada orang-orang bertakwa dengan keterangan yang dalam, detail dan gamblang:

1. Pintu-pintu surga
Rasulullah bersabda,

"Di dalam surga ada delapan pintu, di antaranya ada yang bernama Ar-Rayyân, tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang (rajin) berpuasa." (HR. Bukhâri).

2. Tidak ada kematian dalam surga
Rasulullah bersabda, artinya:

"Jika penduduk surga telah memasuki surga, maka ada yang berseru, "Sesungguhnya kalian akan tetap hidup dan tidak akan mati. Kalian akan tetap sehat dan tidak akan sakit. Kalian akan tetap muda dan tidak akan tua. Dan kalian akan tetap mendapat nikmat dan tidak akan mendapat kesusahan." (HR. Muslim).

3. Sifat-sifat penduduk surga
Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã bersabda, ”Akan masuk surga sekelompok orang dalam keadaan memiliki rambut yang sedikit, seakan-akan mata mereka bercelak, yaitu berumur 33 tahun atau 30 tahun." (Shahîhul Jâmi: 7928).

"Akan masuk surga beberapa kaum yang hati mereka seperti burung (yaitu dari sisi kelembutan, ketakutan, dan kehormatan). (Shahîhul Jâmi: 7924).

"Kaum Mukminin di surga akan diberi demikian dan demikian dalam urusan jimak (bersetubuh). Ada sahabat yang bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah dia mampu untuk itu?" Nabi  berkata, "Dia akan diberi seratus kekuatan." (Shahîhul Jâmi: 7962).

4. Wanita-wanita penghuni surga
Rasulullah bersabda, "Kalaulah seorang wanita penduduk surga menampakkan dirinya kepada penduduk dunia, niscaya dia akan menerangi antara keduanya dan bumi akan penuh dengan wewangian. Dan sungguh penutup kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Bukhâri).

5. Makanan dan minuman penduduk surga
Rasulullah bersabda, artinya:

"Para penduduk surga akan makan dan minum di dalamnya. Mereka tidak buang air besar, tidak beringus, tidak buang air kecil. Akan tetapi mereka hanya makan. Suara kenyang yang keluar dari mulut mereka seperti bau misk. Mereka diberikan tasbih seperti hembusan nafas (itu menjadi pembawaan mereka)." (HR. Muslim).

"Sesungguhnya di surga ada lautan air, lautan madu, lautan susu, lautan khamr, kemudian berubah menjadi sungai." (Shahîhul Jami: 2118).

6. Kamar-kamar di surga
"Di surga ada beberapa kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalam dan yang isinya bisa dilihat dari luar. Itu disediakan Allah bagi orang yang memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa dan shalat di waktu malam ketika manusia sedang terlelap tidur." (Shahîhul Jami: 2119).

7. Kemah-kemah, taman-taman dan debu-debu surga
Rasulullah bersabda, "Bagi kaum mukminin di surga ada kemah dari permata yang terjalin. Panjangnya enam puluh mil. Dan kaum mukminin di dalamnya akan mendapatkan keluarga yang selalu digilirnya dan masing-masing tidak melihat yang lainnya." (Muttafaqun alaih).

Dalam sebuah hadits tentang Miraj dari Anas bin Malik ÑÖí Çááå Úäå dari Nabi Õáì Çááå Úáíå æÓáã, beliau bersabda, "….Kemudian aku berjalan bersama Jibril hingga sampai ke Sidratul Muntaha. Ternyata dia dilingkupi oleh warna-warni yang aku tidak tahu apa itu. Beliau berkata, "Kemudian aku dimasukkan ke surga yang berisi kemah-kemah dan kubah-kubah dari permata, ternyata debunya dari misk." (Muttafaqun alaih).

8. Pohon-pohon surga
Nabi bersabda, "Di surga ada sebuah pohon yang bila seseorang berjalan dengan kendaraan yang paling bagus dan mampu berjalan dengan lama seratus tahun, niscaya tidak akan selesai melewatinya." (Muttafaqun alaihi).
Rasulullah juga telah bersabda, 

"Tidak ada sebuah pohon pun di surga melainkan batangnya dari emas."       (Shahîhul Jami: 5523).

9. Pasar di surga
Rasulullah bersabda, "Di surga ada sebuah pasar yang diramaikan hanya hari Jumat, maka ketika itu angin berhembus dari utara, kemudian menerpa wajah-wajah mereka hingga menjadi semakin indah. Maka mereka kembali kepada keluarga-keluarga mereka dalam keadaan mereka juga semakin indah. Maka keluarga-keluarga mereka berkata kepada mereka, "Demi Allah, kalian semakin indah setelah kami tinggalkan." Mereka juga berkata, "Kalian pun semakin indah." (HR. Muslim).

10. Sungai-sungai di surga
Dari Anas, bahwasanya Rasulullah bersabda, "Aku masuk ke dalam surga, ternyata di sana ada sebuah sungai yang dipinggirnya ada kemah-kemah dan permata. Maka aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu. Ternyata airnya adalah misk yang sangat harum. Maka aku bertanya, "Apa ini wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Ini adalah Al Kautsar yang diberikan Allah kepadamu." (Shahîhul Jami: 3260).

11. Kenikmatan penghuni surga yang paling agung
Nabi bersabda, "Bila penduduk surga telah masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka, maka ada yang berseru, "Wahai penduduk surga! Sesungguhnya kalian memiliki janji di sisi Allah yang ingin Dia tunaikan kepada kalian." Maka mereka bertanya, "Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan amal kebaikan kami, memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?" Maka disingkaplah tirai, mereka pun melihat kepada Allah. Demi Allah, Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang paling mereka cintai dan paling menyejukkan pandangan mereka daripada melihat wajah-Nya." (Shahîhul Jami: 535).

SIAPA PENGHUNI SURGA?
Para penghuni surga adalah orang-orang yang merasa takut kepada Allah. Rasa takut yang mendorong kepada kebaikan dan mencegah dari setiap penyimpangan. Rasa takut inilah yang membuat segala ibadah dan amal yang diperintakan oleh Rasulullah  menjadi ikhlas, bersih dari noda riya dan syirik.(Al Fikrah)

 

Posted in Do’a. 0 Comment »

Muqodimah

 Sesungguhnya, segala puji bagi Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada orang yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada orang yang bisa

memberikan hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad  adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga dan sahabatnya serta orangorang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

 

Kami meminta kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dengan Asma’ul husna dan sifatsifat-Nya Yang Maha Tinggi, agar risalah ini dapat bermanfa’at untukku pada waktu hidup maupun sesudah tiada.

Bermanfa’at bagi orang yang membaca atau Bagi yang menyebarkanya, Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Kuasa untuk melakukannya. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Pembalasan.

 

KEUTAMAAN BERDZIKIR

 

Allah berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)” (QS. Al

Baqarah: 152)

“Hai orang-orang yang beriman ber-dzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)” (QS. Al Ahzaab: 41)

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al Ahzaab: 35).

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu

dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al A’raf: 205)

 

Rasulullah  bersabda:

 

“Perumpamaan orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut (nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati ”.

 

Rasulullah juga bersabda:

 

 

“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk zikir

kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan

untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”.2

 

Rasulullah juga bersabda:

 

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada

bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah

yang Maha Tinggi”.

 

Allah Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):

 

“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia dating kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”.

 

“Dari Abdullah bin Busr t dia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! sesungguhnya syari’at Islam telah banyak

aku terima, oleh karena itu, beri tahulah aku sesuatu hal buat peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak hentihentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya) ”.

 

 “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif Laaam Miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu

 

 “Dari Uqbah bin Amir t berkata: “Rasulullah  keluar, sedangkan kami berada di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah diantara kamu yang senang berangkat pagi setiap hari ke Buthan atau Al Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya tanpa mengerjakan dosa dan memutus silaturrahmi?” kami (yang hadir)

berkata: “Yaa kami senang ya Rasulullah!”,

 lalu beliau bersabda:

“Seseorang di antara kamu berangkat pagi ke mesjid, lalu mengajar atau membaca dua ayat Al Qur’an, hal itu lebih baik baginya daripada dua unta. Dan (bila mengajar atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila membaca atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta) dan dari seluruh bilangan unta”.

 

Rasulullah bersabda:

 

 “Siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka dia akan mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Barang siapa yang berbaring di suatu tempat, lalai tidak berdzikir kepada Allah, maka dia akan mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi dari

 

 “Apabila suatu kaum duduk di majlis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi-Nya, niscaya mereka mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Apabila Allah

berkehendak, maka Dia akan menyiksa mereka; dan apabila tidak, Allah akan mengampuni dosa mereka

 

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majlis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan mereka akan menyesal (di hari kiamat) ”.

 

Posted in Do’a. 0 Comment »

SURAT DARI IBU YANG TERKOYAK HATINYA

 Anaku….
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”.

Anakku…
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku…
Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Pandanglah masa teladan dalam Islam, masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

KISAH TELADAN KEPADA ORANG TUA
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis. Aku mengadu.

“Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah”. Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah”. Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah”. Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata : “Wahai, Abu Hurairah ! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu”. Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku”. Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar baik” [Hadits Riwayat Muslim]

Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.

Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam”? Ia menjawab,”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya”.

Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.

Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata : Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka : “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian ?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawa,”Benar”. Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar”. Umar bertanya, “Engkau punya ibu?”. Ia menjawab, “Benar”. Umar (pun) mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu”.

(Umar berkata), “Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku”. Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?”. Ia menjawab, “Kufah”. Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal”.

Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.

KISAH KEDURHAKAAN KEPADA ORANG TUA
Diceritakan ada lelaki yang sangat durhaka kepada sang ayah sampai tega menyeret ayahnya ke pintu depan untuk mengusirnya dari rumah. Sang ayah ini dikarunia anak yang lebih durhaka darinya. Anak itu menyeret bapaknya sampai kejalanan untuk mengusirnya dari rumahnya. Maka sang bapak berkata : “Cukup… Dulu aku hanya menyeret ayahku sampai pintu depan”. Sang anak menimpali : “Itulah balasanmu. Adapun tembahan ini sebagai sedekh dariku!”.

Kisah pedih lainnya, seorang Ibu yang mengisahkan kesedihannya : “Suatu hari istri anakku meminta suaminya (anakku) agar menempatkanku di ruangan yang terpisah, berada di luar rumah. Tanpa ragu-ragu, anakku menyetujuinya. Saat musim dingin yang sangat menusuk, aku berusaha masuk ke dalam rumah, tapi pintu-pintu terkunci rapat. Rasa dingin pun menusuk tubuhku. Kondisiku semakin buruk. Anakku ingin membawaku kesuatu tempat. Perkiraanku ke rumah sakit, tetapi ternyata ia mencampakkanku ke panti jompo. Dan setelah itu tidak pernah lagu menemuiku”

Sebagai penutup, kita harus memahami bahwa bakti kepada orang tua merupakan jalan lempang dan mulia yang mengantarkan seorang anak menuju surga Allah. Sebaliknya, kedurhakaan kepada mereka, bisa menyeret sang anak menuju lembah kehinaan, neraka.

Hati-hatilah, durhaka kepada orang tua, dosanya besar dan balasannya menyakitkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Akan terhina, akan terhina dan akan terhina!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullahj, siapakah gerangan ?” Beliau bersabda, “Orang yang mendapati orang tuanya, atau salah satunya pada hari tuanya, namun ia (tetap) masuk neraka” [Hadits Riwayat Muslim]

[Diadaptasi dari Idatush Shabirin, oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Qa’rawi dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al-Jannah, oleh Shalihj bin Rasyid Al-Huwaimil]

Haramnya Durhaka Kepada Kedua Orang Tua

 HARAMNYA DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA


Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu ’anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

"Artinya : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, ’Baiklah, ya Rasulullah’, bersabda Nabi. "Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong". Maka Nabi selalu megulangi, "Dan persaksian palsu", sehingga kami berkata, "semoga Nabi diam" [Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87]

Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa-dosa besar yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu [Riwayat Bukhari dalam Fathul Baari 11/555]. Kemudian diantara dosa-dosa besar yang paling besar adalah seorang melaknat kedua orang tuanya [Hadits Riwayat Imam Bukhari]

Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)" [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 10/405 No. 5975) Muslim No. 1715 912)]

Hadits ini adalah salah satu hadits yang melarang seorang anak berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang anak yang berbuat durhaka berarti dia tidak masuk surga dengan sebab durhaka kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Dari Abu Darda bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, "Tidak masuk surga anak yang durhaka, pe,imu, khamr (minuman keras) dan orang yang mendustakan qadar" [Hadits Riwayat Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675]

Diantara bentuk durhaka (uquq) adalah :

[1] Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.

[2] Berkata ’ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.

[3] Membentak atau menghardik orang tua.

[4] Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.

[5] Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ’kolot’ dan lain-lain.

[6] Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika ’Si Ibu" melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.

[7] Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.

[8] Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.

[9] Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.

[10] Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Semuanya itu termasuk bentuk-bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan membedakan dalam berkata dan berbuat kepada kedua orang tua dengan kepada orang lain.

Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud dan Tirmidzi dari sahabat Abi Bakrah dikatakan.

"Artinya : Dari Abi Bakrah Radhiyallahu ’anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, "Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi" [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 23), Abu Dawud (4902), Tirmidzi (2511), Ibnu Majah (4211). Ahmad 5/36 & 38, Hakim 2/356 & 4/162-163, Tirmidzi berkata, "Hadits Hasan Shahih", kata Al-Hakim, ’Shahih Sanadnya", Imam Dzahabi menyetujuinya]

Dalam hadits lain dikatakan.

"Artinya : Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al’uquq (durhaka kepdada orang tua)" [Hadits Riwayat Hakim 4/177 dari Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu] [1]

Keridlaan orang tua harus kita dahulukan dari pada keridlaan istri dan anak. Karena Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan anak yang durhaka akan diadzab di dunia dan di akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.

Sedangkan dalam lafadz yang lain diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Hakim, Ahmad dan juga yang lainnya, dikatakan :

"Artinya : Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhu berkata, ’Telah berkata Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya" [Hadits Riwayat Hakim, Baihaqi, Ahmad 2/134]

Jadi, salah satu yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga adalah durhaka kepada kedua orang tuanya.

Dapat kita lihat bahwa orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya kemudian kedua orang tuanya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a kedua orang tua tersebut bisa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab dalam hadits yang shahih Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, ’Telah berkata Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala -yang tidak diragukan tentang do’a ini-, yang pertama yaitu do’a kedua orang tua terhadap anaknya yang kedua do’a orang yang musafir -yang sedang dalam perjalanan-, yang ketiga do’a orang yang dizhalimi" [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabaul Mufrad, Abu Dawud, dan Tirmidzi] [2]

Banyak sekali riwayat yang shahih yang menjelaskan tentang akibat buruk dari durhaka kepada orang tua di dunia maupun di akhirat. Ada juga kisah-kisah nyata tentang adzab (siksa) dari anak yang durhaka, dari kisah tersebut ada yang shahih ada juga yang dla’if (lemah). Diantara kisah yang dla’if yang sering dibawakan oleh para khatib (penceramah) yaitu kisah Al-Qamah yang durhaka kepada ibunya sampai mau dibakar oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam hingga ibunya mema’afkannya. Akan tetapi kisah ini dla’if dilemahkan oleh para ulama ahli hadits [3].

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua]

_________
Foote Note.
[1] Hadits Riwayat Bukhari dalam tarikh dan Thabrani dalam Mu’jam Kabir dari Abu Bakrah. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Kitabnya Al-Mustadrak dari sahabat Anas. Lihat Silsilah Shahihah No. 1120 dan Shahih Jami’us Shagir No. 137 dan 2810.
[2] Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 24, 372), Abu Dawud 1536, Tirmidzi 1905, 3448, Ibnu Majah 3826, Ibnu Hibban 2406, At-Thayalishi 2517 dan Ahmad 2/258, 348, 478, 517, 523. Lihat Silsilah Hadits As-Shahihah No. 596
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ahmad dengan ringkas dalam sanadnya ada Fayid Abul Warqa’ dia matruk (Majmuz Zawaaid 8/148), kata Ibnul Jauzi, "Hadits ini tidak shah dari Rasulullah karena dalam sanadnya ada Fayid Abu Warqa" Imam Ahmad berkata, "Ia matrukul hadits", Ibnu Hibban berkata, "Tidak boleh berhujjah dengannya". Kata Imam Abu Hatim, "Ia sering dusta" [Lihat Al-Maudluu’at, Ibnul Jauzi juz 3 hal 87]